Bengkulu – Suasana khidmat menyelimuti halaman Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bengkulu saat Upacara Hari Kesadaran Nasional digelar pada Jumat (17/07). Upacara yang rutin dilaksanakan setiap tanggal 17 setiap bulan ini menghadirkan pemandangan yang berbeda dan penuh makna. Seluruh perangkat upacara, mulai dari komandan upacara, pembawa acara, pengibar bendera, pembaca UUD 1945, hingga peserta upacara, merupakan warga binaan pemasyarakatan (WBP).
Momentum tersebut menjadi bukti bahwa pembinaan di dalam lapas tidak hanya berfokus pada aspek keamanan, tetapi juga membangun karakter, kedisiplinan, nasionalisme, serta rasa tanggung jawab sebagai warga negara. Di balik tembok pemasyarakatan, semangat mencintai bangsa dan negara tetap tumbuh dan terus dipupuk melalui berbagai kegiatan pembinaan yang berkelanjutan.
Bertindak sebagai Pembina Upacara, Kasubsi Bimbingan Kemasyarakatan dan Perawatan (Bimkemaswat) Lapas Kelas IIA Bengkulu, Muhammad Aris Kurniawan, menyampaikan bahwa Hari Kesadaran Nasional bukan sekadar agenda seremonial, melainkan momentum untuk memperkuat integritas, disiplin, dan semangat memperbaiki diri.
“Hari Kesadaran Nasional mengingatkan kita semua bahwa setiap individu memiliki kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik. Warga binaan harus terus menanamkan nilai-nilai kedisiplinan, tanggung jawab, serta kecintaan kepada bangsa sebagai bekal ketika kembali ke tengah masyarakat,” ujar Muhammad Aris Kurniawan dalam amanatnya.
Rangkaian upacara berlangsung dengan tertib dan penuh penghayatan. Salah satu momen yang paling menyentuh adalah ketika seluruh warga binaan secara lantang membacakan Catur Dharma Narapidana sebagai bentuk komitmen moral untuk menjalani proses pembinaan dengan sungguh-sungguh. Pembacaan Catur Dharma Narapidana menjadi simbol tekad para warga binaan untuk menyesali kesalahan masa lalu, menaati aturan, meningkatkan kualitas diri, serta kembali menjadi pribadi yang bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.
Pelaksanaan upacara yang sepenuhnya dipercayakan kepada warga binaan juga menjadi gambaran nyata keberhasilan program pembinaan kepribadian yang selama ini dijalankan Lapas Bengkulu. Kepercayaan tersebut melatih rasa percaya diri, kepemimpinan, kerja sama, serta tanggung jawab dalam menjalankan setiap tugas yang diemban.
Kepala Lapas Kelas IIA Bengkulu, Julianto Budhi Prasetyono, menegaskan bahwa pembinaan karakter melalui kegiatan-kegiatan seperti upacara bendera merupakan bagian penting dari proses reintegrasi sosial.
“Pemasyarakatan bukan hanya tentang menjalani pidana, tetapi juga membentuk manusia yang sadar akan kesalahan, memiliki disiplin, dan siap kembali menjadi warga negara yang baik. Ketika warga binaan mampu menjalankan upacara dengan penuh tanggung jawab, itu menunjukkan bahwa proses pembinaan berjalan ke arah yang positif,” ungkap Kalapas.
Melalui Upacara Hari Kesadaran Nasional, Lapas Kelas IIA Bengkulu terus menanamkan nilai-nilai kebangsaan, kedisiplinan, serta tanggung jawab kepada setiap warga binaan. Harapannya, semangat yang tumbuh dari balik jeruji ini kelak menjadi bekal berharga bagi mereka untuk kembali diterima dan berkontribusi positif di tengah masyarakat, sejalan dengan semangat Pemasyarakatan yang mengedepankan pembinaan menuju kehidupan yang lebih baik.






















