YOGYAKARTA — Batik tidak sekadar menjadi karya seni yang dituangkan di atas kain. Di balik setiap goresan malam terdapat keterampilan, ketelitian, serta pengetahuan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Semangat tersebut dihadirkan melalui kegiatan “Simfoni 1001 Pembatik” yang digelar THE 1O1 Yogyakarta Tugu berkolaborasi dengan Dinas Perindustrian, Koperasi, dan UKM Kota Yogyakarta, Sabtu (3/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di LOTENG – Multi Purpose Venue, THE 1O1 Yogyakarta Tugu itu menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Batik Nasional sekaligus menyambut 270 Tahun Kota Yogyakarta.
Sebanyak 20 peserta yang terdiri atas tamu dan partner hotel mengikuti pengalaman membatik secara langsung bersama perajin batik lokal Kota Yogyakarta.
Para peserta tidak hanya diperkenalkan pada batik sebagai sebuah produk budaya, tetapi juga diajak memahami proses pembuatannya. Mereka melihat secara langsung ketelitian perajin saat menggoreskan malam ke permukaan kain, sebelum kemudian mencoba menciptakan karya sendiri.

General Manager THE 1O1 Yogyakarta Tugu, Wahyu Wikan Trispratiwi, mengatakan pengalaman budaya akan lebih bermakna ketika wisatawan terlibat secara langsung, bukan sekadar menjadi penonton.
“Kami percaya pengalaman budaya akan terasa lebih berarti ketika kita tidak hanya melihat, tetapi ikut terlibat di dalamnya,” ujar Wahyu.
Menurut dia, kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan antara wisatawan, perajin, dan budaya lokal Yogyakarta. Melalui pengalaman itu, peserta diharapkan membawa pulang bukan hanya karya batik, tetapi juga cerita mengenai Yogyakarta.
“Harapannya, setiap peserta tidak hanya membawa pulang karya batik, tetapi juga membawa cerita dan pengalaman tentang Yogyakarta,” katanya.
Berada di kawasan Tugu yang merupakan bagian dari Sumbu Filosofi Yogyakarta, THE 1O1 Yogyakarta Tugu memandang sektor perhotelan tidak hanya sebagai tempat menginap, tetapi juga dapat menjadi ruang bagi wisatawan untuk berinteraksi dengan budaya dan kehidupan masyarakat setempat.
Kolaborasi dengan perajin lokal menjadi salah satu cara untuk memperkenalkan kekayaan budaya Yogyakarta melalui pengalaman yang lebih personal kepada wisatawan.
Selain kegiatan membatik, dalam rangka memperingati 270 Tahun Kota Yogyakarta, hotel tersebut juga menawarkan sejumlah paket menginap selama Oktober 2026.
Salah satunya Jogja Package dengan harga Rp1.270.000 nett per kamar per malam. Paket tersebut mencakup kamar Deluxe Balcony, sarapan untuk dua orang, serta menu Bebek Bumbu Terasi untuk dua orang.
Ada pula program Save Up 21% dengan harga mulai Rp1.241.000 nett per kamar per malam dari harga normal Rp1.700.000. Paket tersebut mencakup kamar Deluxe Balcony, sarapan untuk dua orang, dan makanan ringan dari UMKM lokal.
Rangkaian kegiatan dan program tersebut memperlihatkan upaya menghadirkan pengalaman Yogyakarta yang tidak hanya bertumpu pada akomodasi, tetapi juga mempertemukan wisatawan dengan produk, pelaku, dan budaya lokal. (Yusuf)



















