Pelataran, Palembang, (6/6/2026) – Perkembangan teknologi digital telah menjadikan media sosial sebagai bagian penting dalam kehidupan mahasiswa. Saat ini, media sosial tidak hanya digunakan untuk berinteraksi dan mencari hiburan, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun citra diri atau personal branding. Mahasiswa mulai memanfaatkan platform seperti Instagram, TikTok, LinkedIn, dan X untuk menunjukkan kemampuan, prestasi, pengalaman organisasi, hingga aktivitas akademik mereka.
Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial telah berkembang menjadi media komunikasi yang memiliki pengaruh besar terhadap cara seseorang dipandang oleh publik. Dalam perspektif ilmu komunikasi, personal branding merupakan proses membentuk persepsi publik terhadap diri seseorang melalui pesan dan citra yang ditampilkan secara konsisten. Menurut Montoya dan Vandehey dalam konsep The Brand Called You, personal branding adalah cara seseorang memperkenalkan nilai, kemampuan, dan karakter diri agar memiliki identitas yang kuat di mata publik. Oleh karena itu, apa yang ditampilkan mahasiswa di media sosial secara tidak langsung akan memengaruhi cara orang lain menilai kepribadian dan profesionalitas mereka.
Fenomena personal branding di kalangan mahasiswa saat ini semakin berkembang seiring meningkatnya penggunaan media sosial di Indonesia. Berdasarkan laporan Digital 2025 Indonesia dari DataReportal, masyarakat Indonesia menghabiskan rata-rata lebih dari tiga jam per hari untuk mengakses media sosial. Tingginya intensitas penggunaan media sosial menjadikan platform digital sebagai ruang strategis untuk membangun relasi, memperluas jaringan, dan menunjukkan kemampuan diri kepada publik.
Namun, di tengah perkembangan tersebut, banyak mahasiswa yang masih memandang personal branding sebatas pencitraan semata. Tidak sedikit yang lebih fokus menampilkan kehidupan yang terlihat sempurna dibandingkan menunjukkan kemampuan dan kualitas diri yang sebenarnya. Akibatnya, media sosial sering kali dipenuhi konten yang hanya mengejar validasi sosial tanpa memberikan nilai positif maupun edukatif.
Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, Personal branding seharusnya dibangun melalui komunikasi yang autentik dan konsisten. Personal branding bukan berarti menciptakan identitas palsu demi mendapatkan perhatian publik, melainkan bagaimana seseorang mampu menunjukkan potensi, karakter, dan kompetensi dirinya secara positif. Dalam komunikasi, pesan yang
disampaikan secara terus-menerus akan membentuk persepsi publik. Oleh sebab itu, mahasiswa perlu memahami bahwa setiap unggahan di media sosial dapat memengaruhi citra diri mereka di masa depan. Selain itu, personal branding yang baik juga dapat memberikan manfaat dalam dunia profesional. Saat ini, banyak perusahaan dan institusi tidak hanya melihat nilai akademik, tetapi juga memperhatikan aktivitas digital seseorang. Media sosial dapat menjadi portofolio yang menunjukkan kemampuan komunikasi, kreativitas, kepemimpinan, dan cara seseorang membangun hubungan dengan publik. Mahasiswa yang mampu memanfaatkan media sosial secara positif tentu memiliki peluang lebih besar untuk dikenal dan dipercaya di lingkungan profesional.
Di sisi lain, mahasiswa juga perlu memahami batas dalam membangun personal branding. Keinginan untuk terlihat menarik di media sosial terkadang membuat seseorang membagikan informasi pribadi secara berlebihan atau mengikuti tren yang tidak sesuai dengan identitas diri. Padahal, personal branding yang baik harus tetap memperhatikan etika komunikasi dan tanggung jawab digital. Citra yang dibangun melalui media sosial seharusnya mampu mencerminkan kualitas diri yang sebenarnya, bukan sekadar demi mendapatkan popularitas sesaat.
Sebagai generasi yang hidup di era digital, mahasiswa memiliki peluang besar untuk berkembang melalui media sosial. Namun, peluang tersebut harus diimbangi dengan kemampuan komunikasi yang baik dan kesadaran dalam membangun citra diri. Mahasiswa tidak hanya dituntut menjadi pengguna media sosial yang aktif, tetapi juga komunikator yang mampu menyampaikan pesan positif dan bermanfaat kepada publik.
Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa untuk memahami bahwa personal branding bukan sekadar tentang menjadi terkenal di media sosial, melainkan tentang bagaimana membangun identitas diri yang positif, profesional, dan berintegritas. Dengan memanfaatkan media sosial secara bijak, mahasiswa dapat menjadikan ruang digital sebagai sarana pengembangan diri, membangun relasi, serta mempersiapkan masa depan profesional yang lebih baik
———————————-
Berita Ini Ditulis Oleh
Kharisma Wulandari
Pelataran, Palembang, (6/6/2026) – Perkembangan teknologi digital telah menjadikan media sosial sebagai bagian penting dalam kehidupan mahasiswa. Saat ini, media sosial tidak hanya digunakan untuk berinteraksi dan mencari hiburan, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun citra diri atau personal branding. Mahasiswa mulai memanfaatkan platform seperti Instagram, TikTok, LinkedIn, dan X untuk menunjukkan kemampuan, prestasi, pengalaman organisasi, hingga aktivitas akademik mereka.
Fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial telah berkembang menjadi media komunikasi yang memiliki pengaruh besar terhadap cara seseorang dipandang oleh publik. Dalam perspektif ilmu komunikasi, personal branding merupakan proses membentuk persepsi publik terhadap diri seseorang melalui pesan dan citra yang ditampilkan secara konsisten. Menurut Montoya dan Vandehey dalam konsep The Brand Called You, personal branding adalah cara seseorang memperkenalkan nilai, kemampuan, dan karakter diri agar memiliki identitas yang kuat di mata publik. Oleh karena itu, apa yang ditampilkan mahasiswa di media sosial secara tidak langsung akan memengaruhi cara orang lain menilai kepribadian dan profesionalitas mereka.
Fenomena personal branding di kalangan mahasiswa saat ini semakin berkembang seiring meningkatnya penggunaan media sosial di Indonesia. Berdasarkan laporan Digital 2025 Indonesia dari DataReportal, masyarakat Indonesia menghabiskan rata-rata lebih dari tiga jam per hari untuk mengakses media sosial. Tingginya intensitas penggunaan media sosial menjadikan platform digital sebagai ruang strategis untuk membangun relasi, memperluas jaringan, dan menunjukkan kemampuan diri kepada publik.
Namun, di tengah perkembangan tersebut, banyak mahasiswa yang masih memandang personal branding sebatas pencitraan semata. Tidak sedikit yang lebih fokus menampilkan kehidupan yang terlihat sempurna dibandingkan menunjukkan kemampuan dan kualitas diri yang sebenarnya. Akibatnya, media sosial sering kali dipenuhi konten yang hanya mengejar validasi sosial tanpa memberikan nilai positif maupun edukatif.
Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, Personal branding seharusnya dibangun melalui komunikasi yang autentik dan konsisten. Personal branding bukan berarti menciptakan identitas palsu demi mendapatkan perhatian publik, melainkan bagaimana seseorang mampu menunjukkan potensi, karakter, dan kompetensi dirinya secara positif. Dalam komunikasi, pesan yang
disampaikan secara terus-menerus akan membentuk persepsi publik. Oleh sebab itu, mahasiswa perlu memahami bahwa setiap unggahan di media sosial dapat memengaruhi citra diri mereka di masa depan. Selain itu, personal branding yang baik juga dapat memberikan manfaat dalam dunia profesional. Saat ini, banyak perusahaan dan institusi tidak hanya melihat nilai akademik, tetapi juga memperhatikan aktivitas digital seseorang. Media sosial dapat menjadi portofolio yang menunjukkan kemampuan komunikasi, kreativitas, kepemimpinan, dan cara seseorang membangun hubungan dengan publik. Mahasiswa yang mampu memanfaatkan media sosial secara positif tentu memiliki peluang lebih besar untuk dikenal dan dipercaya di lingkungan profesional.
Di sisi lain, mahasiswa juga perlu memahami batas dalam membangun personal branding. Keinginan untuk terlihat menarik di media sosial terkadang membuat seseorang membagikan informasi pribadi secara berlebihan atau mengikuti tren yang tidak sesuai dengan identitas diri. Padahal, personal branding yang baik harus tetap memperhatikan etika komunikasi dan tanggung jawab digital. Citra yang dibangun melalui media sosial seharusnya mampu mencerminkan kualitas diri yang sebenarnya, bukan sekadar demi mendapatkan popularitas sesaat.
Sebagai generasi yang hidup di era digital, mahasiswa memiliki peluang besar untuk berkembang melalui media sosial. Namun, peluang tersebut harus diimbangi dengan kemampuan komunikasi yang baik dan kesadaran dalam membangun citra diri. Mahasiswa tidak hanya dituntut menjadi pengguna media sosial yang aktif, tetapi juga komunikator yang mampu menyampaikan pesan positif dan bermanfaat kepada publik.
Oleh karena itu, penting bagi mahasiswa untuk memahami bahwa personal branding bukan sekadar tentang menjadi terkenal di media sosial, melainkan tentang bagaimana membangun identitas diri yang positif, profesional, dan berintegritas. Dengan memanfaatkan media sosial secara bijak, mahasiswa dapat menjadikan ruang digital sebagai sarana pengembangan diri, membangun relasi, serta mempersiapkan masa depan profesional yang lebih baik
———————————-
Berita Ini Ditulis Oleh
Kharisma Wulandari

























