Usaha makanan dan minuman menjadi salah satu kegiatan ekonomi yang banyak dijalankan masyarakat Kota Tangerang Selatan. Kehadiran UMKM kuliner tidak hanya menawarkan berbagai pilihan makanan dan minuman bagi konsumen, tetapi juga menjadi bagian dari aktivitas produksi dan perdagangan di tingkat daerah.
Berdasarkan data Portal Data Kota Tangerang Selatan yang bersumber dari Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, terdapat data jumlah UMKM kuliner menurut kecamatan pada 2023. Data tersebut menunjukkan bahwa usaha kuliner tersebar di seluruh kecamatan di Tangerang Selatan, baik dalam kategori usaha mikro maupun usaha kecil.
UMKM Kuliner Tersebar di Berbagai Kecamatan
Data 2023 menunjukkan bahwa Kecamatan Pamulang memiliki jumlah UMKM kuliner mikro sebanyak 2.876 unit dan usaha kecil sebanyak 158 unit. Kecamatan Ciputat beradadi urutan berikutnya dengan 2.403 usaha mikro dan 138 usaha kecil, sedangkan Pondok Aren memiliki 2.174 usaha mikrodan 198 usaha kecil.
Sementara itu, jumlah UMKM kuliner mikro di Serpongtercatat 1.551 unit, Serpong Utara 1.278 unit, Ciputat Timur 1.496 unit, dan Setu 918 unit. Untuk kategori usaha kecil, Serpong memiliki 208 unit, Serpong Utara 182 unit, Ciputat Timur 121 unit, dan Setu 91 unit.
Jika dijumlahkan berdasarkan data tersebut, terdapat sekitar 12.696 usaha mikro kuliner dan 1.096 usaha kecil kuliner di tujuh kecamatan Tangerang Selatan. Angka tersebut memperlihatkan bahwa kegiatan usaha kuliner lebih banyak didominasi oleh skala mikro.
Mengapa UMKM Kuliner Menarik dari Sisi Ekonomi Mikro?
Banyaknya usaha kuliner di Tangerang Selatan dapat dilihat melalui konsep ekonomi mikro, khususnya mengenai produksi, biaya, harga, permintaan, dan keuntungan.
Dalam menjalankan usaha makanan atau minuman, pelaku UMKM menggunakan berbagai input seperti bahan baku, tenaga kerja, modal, peralatan, serta tempat usaha. Input tersebut kemudian digunakan untuk menghasilkan produk yang akan dijual kepada konsumen.
Dalam teori ekonomi mikro, keputusan produsen berkaitan erat dengan bagaimana menggunakan sumber daya yang terbatas untuk menghasilkan barang atau jasa. Samuelson dan Nordhaus menjelaskan bahwa kegiatan ekonomi berkaitan dengan bagaimana individu dan perusahaan membuat pilihan dalam menggunakan sumber daya yang terbatas.
Bagi UMKM kuliner, salah satu persoalan utama adalah menentukan kombinasi input yang paling efisien. Pelaku usaha harus mempertimbangkan harga bahan baku, biaya tenaga kerja, biaya tempat, listrik, kemasan, serta biaya pemasaran sebelum menentukan harga jual produknya.
Harga dan Permintaan Konsumen
Selain persoalan produksi, UMKM kuliner juga konsumen yang memiliki pilihan cukup banyak. Banyaknya usaha makanan dan minuman membuat konsumen dapat membandingkan harga, rasa, kualitas, lokasi, hingga pelayanan.
Dalam konsep permintaan, harga menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi keputusan konsumen. Ketika harga suatu produk meningkat, konsumen pada kondisi tertentu dapat mengurangi jumlah pembeliannya atau memilih produk lain yang dianggap lebih sesuai dengan anggaran.
Kondisi tersebut membuat pelaku UMKM harus berhati-hati ketika menentukan harga. Harga yang terlalu tinggi dapat mengurangi daya tarik produk, sementara harga yang terlalu rendah dapat membuat keuntungan usaha menjadi semakin kecil.
Pengeluaran Masyarakat Menunjukkan Adanya Permintaan
Data BPS Kota Tangerang Selatan juga menunjukkan bahwa makanan dan minuman jadi merupakan bagian penting dari pengeluaran masyarakat. Pada 2023, pengeluaran per kapita untuk kelompok makanan dan minuman jadi mencapai sekitar 14,61 persen dari total pengeluaran per kapita sebulan. Pada 2022 angkanya bahkan mencapai 15,32 persen.
Data tersebut dapat menjadi gambaran bahwa makanan dan minuman jadi memiliki tempat yang cukup besar dalam pola konsumsi masyarakat Tangerang Selatan. Bagi UMKM, kondisi tersebut menjadi peluang karena terdapat permintaan dari masyarakat terhadap produk makanan dan minuman.
Namun, tingginya permintaan juga berarti persaingan antar pelaku usaha semakin besar. UMKM tidak cukup hanya menghasilkan produk, tetapi juga perlu mempertahankan kualitas, menyesuaikan harga, serta memahami kebutuhan konsumennya.
Tantangan bagi UMKM Kuliner
Besarnya jumlah UMKM kuliner juga menunjukkan bahwa persaingan di sektor ini cukup ketat. Pelaku usaha harus mampu mempertahankan konsumen di tengah banyaknya pilihan yang tersedia.
Pemerintah Kota Tangerang Selatan juga terus mendorong UMKM untuk meningkatkan kualitas produk dan memperluas pemasaran. Dalam kegiatan pelatihan UMKM pada 2024, sebanyak 100 UMKM mengikuti kegiatan yang mencakup pelaku usaha dari sektor kuliner, kerajinan, dan fashion. Pemerintah daerah mendorong pelaku UMKM agar memiliki pasar yang lebih luas dan mampu meningkatkan omzet.
Dari sisi ekonomi mikro, peningkatan kemampuan pemasaran dan kualitas produk dapat membantu pelaku usaha menghadapi persaingan. UMKM dapat melakukan diferensiasi melalui rasa, kemasan, kualitas, pelayanan, maupun keunikan produk.
UMKM Kuliner dan Perekonomian Lokal
Perkembangan UMKM makanan dan minuman di Tangerang Selatan menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi mikro tidak hanya terjadi pada perusahaan besar. Usaha berskala mikrodan kecil juga berperan dalam menyediakan barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat.
Bagi konsumen, keberadaan banyak UMKM memberikan lebih banyak pilihan. Bagi produsen, kondisi tersebut menciptakan peluang untuk memperoleh pendapatan sekaligus menghadapi persaingan dalam mendapatkan konsumen.
Dengan demikian, perkembangan UMKM kuliner di Tangerang Selatan dapat dilihat sebagai proses interaksi antara produsen dan konsumen. Produsen berusaha menentukan jumlah produksi, biaya, dan harga yang sesuai, sementara konsumen menentukan pilihan berdasarkan kebutuhan, harga, kualitas, dan kemampuan membeli.
Kesimpulan
UMKM makanan dan minuman merupakan salah satu sektor usaha yang berkembang di Kota Tangerang Selatan. Data 2023 menunjukkan bahwa usaha mikro kuliner tersebar di seluruh kecamatan, dengan jumlah terbesar berada di Kecamatan Pamulang, Ciputat, dan Pondok Aren.
Dari perspektif ekonomi mikro, perkembangan tersebut dapat dianalisis melalui konsep produksi, biaya, harga, permintaan, dan persaingan. Besarnya pengeluaran masyarakat untuk makanan dan minuman jadi juga menunjukkan adanya peluang pasar bagi pelaku UMKM.
Ke depan, kemampuan UMKM dalam mengelola biaya, menentukan harga, menjaga kualitas, dan memahami kebutuhan konsumen menjadi faktor penting agar usaha dapat bertahan dan berkembang di tengah persaingan kuliner Tangerang Selatan.
Referensi
Badan Pusat Statistik Kota Tangerang Selatan. (2024). Kota Tangerang Selatan dalam Angka 2024. Tangerang Selatan: BPS Kota Tangerang Selatan.
Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kota Tangerang Selatan. (2023). Jumlah UMKM Kuliner Menurut Kecamatandi Kota Tangerang Selatan Tahun 2023. Portal Data Kota Tangerang Selatan.
Samuelson, P. A., & Nordhaus, W. D. (1986). Microeconomics (14th ed.). New York: McGraw-Hill.






















