Belakangan ini, masyarakat mulai merasakan perubahan kondisi ekonomi yang memengaruhi kehidupan sehari-hari. Kenaikan harga berbagai kebutuhan sering kali tidak diikuti dengan peningkatan pendapatan yang seimbang sehingga memengaruhi kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya. Kondisi ini menyebabkan daya beli masyarakat menjadi salah satu isu penting karena berkaitan dengan tingkat konsumsi dan aktivitas ekonomi. Menurunnya daya beli dapat dilihat dari perubahan pola konsumsi masyarakat yang kini lebih memprioritaskan kebutuhan pokok dibandingkan kebutuhan sekunder. Faktor seperti inflasi, kenaikan harga barang dan jasa, serta pendapatan yang cenderung tetap menjadi penyebab utama kondisi tersebut. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat sebagai konsumen, tetapi juga oleh pelaku usaha yang mengalami penurunan jumlah pembeli. Oleh karena itu, fenomena menurunnya daya beli masyarakat perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
Konsumsi rumah tangga juga menjadi salah satu penopang utama perekonomian Indonesia, sehingga perubahan daya beli dapat memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi. Di lapangan, kondisi tersebut terlihat dari perubahan pola belanja masyarakat, menurunnya pendapatan sebagian pelaku usaha, serta meningkatnya upaya masyarakat untuk menghemat pengeluaran. Banyak masyarakat mulai mengurangi pembelian barang nonprimer dan lebih memilih memenuhi kebutuhan yang dianggap paling penting. Kondisi ini membuat aktivitas ekonomi di beberapa sektor mengalami perlambatan karena tingkat konsumsi masyarakat menurun. Jika keadaan tersebut terus berlangsung, pertumbuhan ekonomi nasional dapat ikut terdampak karena konsumsi masyarakat memiliki kontribusi besar terhadap perputaran ekonomi. Oleh karena itu, fenomena menurunnya daya beli masyarakat perlu dikaji lebih lanjut.
Fenomena menurunnya daya beli masyarakat di Indonesia menjadi salah satu isu ekonomi yang cukup sering dibahas dalam beberapa waktu terakhir. Daya beli masyarakat menggambarkan kemampuan individu dalam membeli barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ketika daya beli menurun, masyarakat cenderung lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya dan hanya memprioritaskan kebutuhan pokok. Fenomena ini tidak hanya dirasakan oleh kelompok tertentu saja, tetapi juga mulai terasa oleh masyarakat kelas menengah yang sebelumnya relatif stabil. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan ekonomi semakin dirasakan oleh berbagai lapisan masyarakat. Perubahan situasi ekonomi juga menyebabkan masyarakat mulai mengubah kebiasaan konsumsi agar pengeluaran tetap dapat dikendalikan.
Ada beberapa faktor yang menjadi akar dari masalah ini. Pertama, inflasi terutama pada sektor pangan dan energi terus menekan kemampuan belanja masyarakat. Harga beras, minyak goreng, hingga tarif listrik naik secara bertahap, dan kenaikan itu tidak pernah benar-benar turun ke titik semula. Inflasi merupakan salah satu faktor utama yang memengaruhi daya beli masyarakat karena kenaikan harga barang dan jasa dapat menurunkan kemampuan konsumsi masyarakat (Sitanggang et al., 2025). Kedua, pertumbuhan upah tidak sebanding dengan laju inflasi sehingga pendapatan masyarakat terasa semakin terbatas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ketiga, tingkat pengangguran yang masih cukup tinggi turut memperlemah daya beli secara keseluruhan. Dengan jutaan angkatan kerja yang belum terserap optimal, banyak rumah tangga kehilangan atau kekurangan sumber penghasilan tetap. Kondisi ekonomi global juga turut memberikan dampak terhadap stabilitas ekonomi dalam negeri, seperti meningkatnya harga bahan baku dan melemahnya aktivitas perdagangan. Faktor-faktor tersebut saling berkaitan dan menyebabkan kondisi ekonomi masyarakat menjadi semakin tertekan.
Dampak penurunan daya beli masyarakat juga dirasakan oleh pelaku UMKM, di mana banyak usaha mengalami penurunan omzet akibat berkurangnya jumlah konsumen. Di sisi lain, banyak masyarakat mulai beralih ke produk yang lebih murah, memilih berbelanja di warung dibandingkan supermarket, atau menunda pembelian barang yang dianggap tidak mendesak. Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan pola konsumsi masyarakat dalam menyesuaikan kondisi ekonomi. Selain itu, penggunaan pinjaman online serta layanan “beli sekarang bayar nanti” (paylater) juga semakin meningkat, yang mencerminkan sebagian masyarakat masih berusaha mempertahankan pola konsumsi meskipun kondisi keuangan tidak selalu mendukung. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko penumpukan utang apabila tidak dikelola dengan bijak. Jika terus terjadi, keadaan tersebut dapat memengaruhi kestabilan keuangan masyarakat dan meningkatkan beban ekonomi rumah tangga di masa depan.
Dari sudut pandang ekonomi, daya beli masyarakat sangat dipengaruhi oleh tingkat pendapatan dan harga barang. Ketika harga meningkat lebih cepat dibandingkan pendapatan, maka daya beli akan menurun. Hal ini sejalan dengan teori ekonomi Keynesian yang menekankan bahwa konsumsi masyarakat merupakan penggerak utama perekonomian. Ketika konsumsi melemah, dampaknya dapat merambat ke sektor lain seperti produksi, lapangan kerja, hingga investasi (Keynes, 1936). Kondisi ini menunjukkan bahwa penurunan daya beli tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada stabilitas ekonomi secara keseluruhan. Menurut penulis, kondisi ini perlu mendapat perhatian serius karena jika dibiarkan terlalu lama dapat memperlemah pertumbuhan ekonomi nasional. Selain itu, kesejahteraan masyarakat juga dapat semakin menurun apabila tidak ada langkah yang tepat untuk mengatasinya.
Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan peran dari berbagai pihak. Pemerintah perlu menjaga stabilitas harga agar tidak terjadi kenaikan yang terlalu tinggi dan tidak terkendali. Selain itu, pembukaan lapangan pekerjaan baru juga sangat penting agar masyarakat memiliki sumber penghasilan yang lebih baik. Dukungan terhadap UMKM juga bisa menjadi salah satu solusi untuk menggerakkan ekonomi dari bawah. Di sisi lain, masyarakat juga perlu mulai belajar mengatur keuangan dengan lebih bijak agar pengeluaran bisa disesuaikan dengan kondisi pendapatan. Edukasi mengenai pengelolaan keuangan dan pentingnya menabung juga perlu ditingkatkan agar masyarakat lebih siap menghadapi kondisi ekonomi yang tidak stabil. Dengan kerja sama antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, diharapkan daya beli masyarakat dapat kembali meningkat dan kondisi ekonomi menjadi lebih baik.
Fenomena menurunnya daya beli masyarakat di Indonesia merupakan kondisi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kenaikan harga barang, inflasi, dan pendapatan masyarakat yang tidak meningkat secara seimbang. Kondisi ini membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya dan lebih fokus pada kebutuhan utama. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga oleh pelaku usaha dan pertumbuhan ekonomi secara umum. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat untuk mengatasi masalah ini. Pemerintah dapat berperan dalam menjaga stabilitas harga dan memperluas lapangan kerja, sedangkan masyarakat perlu meningkatkan pengelolaan keuangan agar lebih efektif. Selain itu, dukungan terhadap UMKM dan peningkatan kualitas lapangan pekerjaan juga penting untuk membantu memperkuat perekonomian masyarakat. Dengan adanya langkah yang tepat dan kerja sama dari berbagai pihak, diharapkan kondisi ekonomi dapat menjadi lebih stabil sehingga daya beli masyarakat dapat kembali meningkat dan kesejahteraan masyarakat dapat terjaga dengan lebih baik.
Zulfia Rahmawati
251010550223
Program Studi Manajemen/Fakultas Ekonomi dan Bisnis/Universitas Pamulang
Sumber
John Maynard Keynes. (1936). The General Theory of Employment, Interest and Money. London: Macmillan.
Sitanggang, I., Habeahan, A., Aritonang, Y., Hutapea, P., & Sitompul, P. (2025). Pengaruh Inflasi terhadap Daya Beli Masyarakat Indonesia. Jurnal Pendidikan Tambusai, 9(2), 26804–26810.




















