Kenaikan harga bahan pangan kembali menjadi perhatian masyarakat dalam beberapa waktu terakhir. Sejumlah kebutuhan pokok seperti telur ayam, daging ayam, wortel, hingga sayuran hijau mengalami kenaikan harga di berbagai daerah. Kondisi ini muncul seiring meningkatnya kebutuhan pasokan pangan untuk program MBG yang membutuhkan bahan makanan dalam jumlah besar setiap harinya.
Bagi sebagian orang, kenaikan harga mungkin hanya dianggap perubahan biasa di pasar. Namun bagi ibu rumah tangga, kondisi ini menjadi persoalan yang langsung dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Uang belanja yang sebelumnya cukup untuk kebutuhan dapur selama beberapa hari kini harus diatur lebih ketat karena harga bahan pokok terus meningkat.
Harga telur ayam ras misalnya, yang sebelumnya berada di kisaran Rp26.000–Rp28.000 per kilogram kini naik menjadi sekitar Rp29.000–Rp31.000 per kilogram. Daging ayam ras juga mengalami kenaikan dari Rp32.000–Rp35.000 menjadi Rp35.000–Rp38.000 per kilogram. Sementara itu, harga wortel mengalami lonjakan paling tinggi, dari kisaran Rp12.000–Rp14.000 menjadi Rp23.000–Rp25.000 per kilogram. Sayuran hijau seperti kacang panjang pun ikut naik hingga 20%–30%.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa permintaan pangan yang meningkat besar dapat memengaruhi harga pasar apabila tidak diimbangi dengan ketersediaan pasokan yang cukup. Menurut Sadono Sukirno dalam buku Mikroekonomi Teori Pengantar, “kenaikan permintaan terhadap suatu barang akan menyebabkan harga meningkat apabila penawaran tidak bertambah” (Sukirno, 2016). Teori tersebut terlihat jelas pada kondisi bahan pangan saat ini, di mana kebutuhan pasar meningkat lebih cepat dibandingkan jumlah barang yang tersedia.
Dampak paling besar tentu dirasakan oleh keluarga dengan penghasilan menengah ke bawah. Banyak ibu rumah tangga mulai mengurangi jumlah pembelian lauk dan sayuran agar pengeluaran tetap sesuai anggaran. Sebagian masyarakat juga mulai mencari alternatif bahan makanan yang lebih murah untuk menyiasati kenaikan harga. Menurut N. Gregory Mankiw dalam buku Pengantar Ekonomi Mikro, “ketika harga barang kebutuhan meningkat, konsumen akan menyesuaikan pola pengeluarannya sesuai kemampuan daya beli” (Mankiw, 2018). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kenaikan harga pangan sangat memengaruhi pola konsumsi masyarakat.
Tidak hanya rumah tangga, usaha kecil seperti warung makan dan pedagang kaki lima juga ikut merasakan tekanan. Harga bahan baku yang naik membuat biaya produksi meningkat, sementara daya beli konsumen belum tentu ikut naik. Akibatnya, pelaku usaha kecil harus memilih antara menaikkan harga jual atau mengurangi keuntungan agar tetap bisa bertahan.
Program MBG pada dasarnya memiliki tujuan yang baik untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat. Namun, pelaksanaannya perlu dibarengi dengan kesiapan distribusi dan produksi pangan yang memadai. Jika tidak, lonjakan permintaan dapat memicu ketidakstabilan harga yang justru membebani masyarakat kecil. Menurut Boediono dalam buku Ekonomi Mikro, “ketidakstabilan distribusi dan pasokan barang dapat menyebabkan fluktuasi harga kebutuhan pokok di masyarakat” (Boediono, 2014).
Pemerintah perlu mengambil langkah untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan program dan kestabilan pasar. Pengawasan distribusi pangan, bantuan kepada petani dan peternak, serta operasi pasar dapat menjadi solusi untuk menekan kenaikan harga. Selain itu, peningkatan produksi pangan lokal juga penting agar pasokan tetap tersedia ketika permintaan meningkat.
Di sisi lain, masyarakat juga mulai dituntut lebih bijak dalam mengatur pengeluaran rumah tangga. Beberapa keluarga bahkan mulai memanfaatkan lahan kecil di rumah untuk menanam cabai atau sayuran sederhana sebagai cara mengurangi ketergantungan terhadap pasar.
Kenaikan harga pangan bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga berkaitan langsung dengan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, menjaga stabilitas harga bahan pokok menjadi tanggung jawab bersama agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi tanpa menambah beban kehidupan sehari-hari.
Oleh: Indah Cahyu Handini
Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pamulang























