JAKARTA 28 Agustus 2026 Brand yang kuat tidak hanya dikenal melalui logo, warna, atau produknya. Di mata pelanggan, brand juga hadir sebagai sebuah sosok yang mempunyai karakter, nilai, dan cara berbicara.
Praktisi pemasaran dan vokasi Ahmad Madani mengatakan bahwa banyak bisnis langsung membuat konten dan promosi tanpa terlebih dahulu menetapkan siapa dirinya dan kepada siapa ia berbicara.
“Sebelum menentukan apa yang akan diposting, bisnis perlu menjawab pertanyaan yang lebih mendasar: siapa brand ini, apa yang diyakininya, bagaimana cara berbicaranya, dan nilai apa yang ingin diperjuangkan?” ujar Ahmad Madani.
Menurutnya, karakter tersebut dikenal sebagai brand persona. Sebuah brand dapat terasa seperti mentor yang profesional, sahabat yang santai, sosok yang inovatif dan berani, atau pendamping yang ramah dalam kehidupan sehari-hari.
Brand persona membantu bisnis menjaga konsistensi komunikasi. Pilihan kata, gaya visual, respons terhadap pelanggan, dan jenis konten dapat dibangun berdasarkan karakter yang sama sehingga pelanggan lebih mudah mengenali dan mengingatnya.
Namun, mengenal diri sendiri belum cukup. Bisnis juga perlu memahami manusia yang ingin dilayani melalui pendekatan audience persona.
Ahmad menjelaskan bahwa data seperti usia, lokasi, dan minat tetap berguna, tetapi belum cukup untuk membangun empati. Audiens perlu digambarkan sebagai sosok yang mempunyai aktivitas, tujuan, masalah, kebiasaan, dan pertimbangan ketika mengambil keputusan.
Ia memberi contoh sosok bernama Kevin, mahasiswa teknologi informasi yang sering begadang menyelesaikan tugas pemrograman dan bermain gim untuk mengurangi stres. Kevin menyukai solusi yang praktis, cepat, dan tidak merepotkan.
Ketika bisnis membayangkan sosok yang jelas seperti Kevin, komunikasi akan berubah. Brand dapat memilih topik yang lebih relevan, bahasa yang lebih personal, waktu komunikasi yang sesuai, serta manfaat produk yang benar-benar berkaitan dengan kehidupan audiens.
“Jangan berhenti pada pertanyaan siapa pelanggan kita. Pahami juga apa yang sedang mereka perjuangkan, apa yang membuat mereka ragu, dan situasi apa yang memengaruhi keputusan mereka,” kata Ahmad.
Ia mengingatkan agar persona tidak dibangun hanya dari imajinasi tim pemasaran. Persona perlu diperkuat melalui percakapan dengan pelanggan, data transaksi, pertanyaan layanan pelanggan, komentar, ulasan, dan perilaku nyata.
Brand persona dan audience persona mempunyai peran yang berbeda tetapi saling melengkapi. Brand persona menjawab “Siapa kita?”, sedangkan audience persona menjawab “Siapa yang ingin kita bantu?”
Ketika kedua hal tersebut jelas, konten tidak lagi dibuat sekadar untuk mengisi kalender media sosial. Setiap pesan memiliki karakter, tujuan, dan manusia yang ingin dilayani.
“Pelanggan tidak hanya melihat produk. Mereka membaca karakter brand dan menilai apakah brand tersebut memahami kehidupan mereka. Kepercayaan mulai tumbuh ketika pelanggan merasa, ‘Brand ini mengerti saya,’” tutup Ahmad Madani.
Tentang Ahmad Madani
Ahmad Madani adalah praktisi pemasaran dan vokasi, Sekretaris Jenderal Asosiasi Komunitas Profesi Sales Indonesia (KOMISI), Co-Founder Asosiasi Guru Marketing Indonesia (AGMARI), Guru & Narasumber Tamu SMK Pemasaran terbaik di Indonesia, serta Juri LKS Digital Marketing Tingkat Nasional 2026. Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui ahmadmadani.id.

























