Kabut asap kembali menyelimuti sejumlah wilayah di Sumatera. Bagi masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar ruangan, kualitas udara yang buruk juga membawa berbagai risiko bagi kesehatan tubuh.
Selama ini, ketika membicarakan dampak asap, perhatian kita lebih banyak tertuju pada paru-paru. Batuk, sesak, iritasi saluran napas, hingga perburukan penyakit pernapasan memang menjadi masalah yang perlu diwaspadai.
Namun, ada satu organ yang sering luput dari pembicaraan: kulit.
Kulit merupakan organ terluas tubuh manusia yang fungsinya juga sebagai salah satu pertahanan pertama terhadap lingkungan. Setiap hari kulit berhadapan langsung dengan sinar matahari, panas, debu, dan berbagai polutan. Ketika udara dipenuhi asap, kulit adalah organ pertama yang terpapar.
Salah satu komponen yang mendapat perhatian adalah particulate matter atau partikulat udara, terutama PM2.5. Partikel berukuran sangat kecil ini dapat berasal dari pembakaran biomassa dan berbagai sumber polusi lainnya. Penelitian dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa paparan polusi udara dapat memengaruhi kesehatan kulit melalui mekanisme yang melibatkan stres oksidatif dan inflamasi atau peradangan.
Polusi juga dapat mengganggu skin barrier, yaitu lapisan pelindung kulit yang membantu mempertahankan kelembapan sekaligus membatasi masuknya berbagai zat dari lingkungan. Ketika fungsi barrier ini terganggu, kulit dapat menjadi lebih kering, sensitif, mudah mengalami iritasi, dan pada sebagian orang dapat mengalami perburukan kondisi kulit tertentu.
Hubungan antara polusi udara dan penyakit kulit juga menjadi fokus dalam beberapa waktu belakangan. Sejumlah penelitian menemukan kaitan antara paparan polutan dengan kondisi seperti dermatitis atopik, psoriasis, dan acne (jerawat). Namun, hubungan tersebut tidak sesederhana bahwa setiap orang yang terpapar asap pasti akan mengalami penyakit kulit. Kondisi individu, lama dan tingkat paparan, faktor genetik, serta lingkungan lainnya juga berperan.
Persoalan ini menjadi semakin penting bagi mereka yang tidak dapat menghindari aktivitas di luar ruangan.
Petani, pedagang, pengemudi, pekerja konstruksi, kurir, pekerja perkebunan, hingga petugas lapangan dapat menghabiskan waktu berjam-jam di lingkungan yang kualitas udaranya sedang buruk. Pada saat yang sama, kulit mereka juga dapat terpapar panas dan radiasi ultraviolet.
Artinya, dalam kondisi kabut asap, kulit dapat menghadapi beberapa tekanan lingkungan sekaligus.
Lantas, apa yang dapat dilakukan?
Langkah pertama adalah mengurangi paparan apabila memungkinkan. Jika aktivitas di luar ruangan tidak mendesak, lebih baik menunda beraktivitas ketika kualitas udara sedang buruk. Namun, tentu tidak semua orang memiliki pilihan untuk berhenti bekerja atau tetap berada di dalam ruangan.
Bagi mereka yang harus beraktivitas di luar, perlindungan dapat dilakukan secara sederhana. Pakaian yang menutupi kulit dapat membantu mengurangi kontak langsung dengan lingkungan. Penutup kepala juga dapat digunakan untuk membantu melindungi diri dari paparan matahari.
Perlindungan terhadap sinar ultraviolet tetap diperlukan. Udara yang berkabut bukan berarti paparan ultraviolet otomatis hilang. Penggunaan sunscreen pada bagian kulit yang tidak tertutup pakaian tetap dapat menjadi bagian dari perlindungan, terutama bagi mereka yang banyak beraktivitas di luar ruangan.
Setelah kembali dari luar, kulit dapat dibersihkan secara lembut. Tidak perlu menggosok kulit secara berlebihan dengan anggapan bahwa semakin kuat dibersihkan maka semakin banyak polutan yang hilang. Pembersihan yang terlalu agresif justru dapat mengganggu skin barrier.
Pelembap juga dapat digunakan untuk membantu mempertahankan fungsi barrier, terutama pada kulit yang mudah kering atau sensitif.
Bagi orang yang sudah memiliki penyakit kulit seperti dermatitis atopik atau psoriasis, perubahan kondisi lingkungan selama periode kabut asap juga layak diperhatikan. Jika muncul keluhan yang menetap seperti kemerahan, gatal, perih, atau perburukan penyakit kulit yang sudah ada, pemeriksaan kepada dokter adalah langkah yang utama.
Kabut asap pada akhirnya bukan hanya persoalan apa yang kita hirup. Paru-paru memang menjadi salah satu organ yang paling rentan diperhatikan ketika asap datang. Tetapi kulit sebagai organ terluar tubuh juga berada di garda terdepan dari paparan lingkungan.
Sebab melindungi kulit bukan semata-mata persoalan penampilan. Kulit adalah bagian dari sistem pertahanan tubuh yang setiap hari bekerja menghadapi lingkungan untuk kita.
– dr. Refa Rahmaddiansyah, Dokter Umum, Padang –

























