Terpilih menjadi Ketua OSIS Nurul Jadid MAN 1 Yogyakarta periode 2026/2027 ternyata tak serta-merta membuat Farizan Ilyas Setiawan merasa pantas menyandang jabatan tersebut. Murid kelas XI A ini justru memandang kepercayaan yang diterimanya sebagai tantangan untuk terus belajar dan membuktikan diri.
“Daripada saya berpikir ‘kenapa saya tidak pantas?’, lebih baik saya berpikir bagaimana cara saya dapat memantaskan diri agar lebih pantas menjadi ketua yang terpilih,” ungkap Farizan.
Keputusannya maju dalam Kontestasi Pemilihan Organisasi (KPOM) 2026 berangkat dari keinginan pribadi, dukungan teman-teman, dan dorongan untuk membawa perubahan di lingkungan madrasah. Namun, satu hal paling ingin ia perjuangkan adalah membangun OSIS yang lebih terbuka terhadap kritik dan aspirasi murid.
Bagi Farizan, kritik bukanlah serangan yang harus dilawan. Sebaliknya, kritik merupakan bahan diskusi untuk memperbaiki organisasi.
“Teman-teman yang sering memberikan masukan serta kritikan itu bukan sebagai musuh, tetapi sebagai teman diskusi yang membantu kita untuk semakin berkembang,” ujarnya.
Pengalaman paling berkesan selama proses pemilihan adalah debat. Baginya, forum tersebut menjadi ruang bagi para calon untuk menyampaikan gagasan dan didengarkan oleh civitas MAN 1 Yogyakarta. Kini, setelah terpilih, ia ingin memastikan semangat keterbukaan itu tidak berhenti setelah kontestasi usai.
Farizan menyadari tantangan terbesarnya adalah menjembatani aspirasi murid dengan kebijakan madrasah. Menurutnya, OSIS tidak cukup hanya menampung pendapat, tetapi juga harus memastikan aspirasi dipertimbangkan secara matang dan ditindaklanjuti sesuai kebutuhan.
Sejumlah program telah disiapkan untuk periode mendatang, antara lain Suara Mansa, Mapres, Classmeet, Alcomp, Puncak Milad, Matamuda, dan Pitulasan. Untuk menjalankannya, Farizan berencana menyusun jadwal, menentukan prioritas, serta membagi tanggung jawab sesuai tugas masing-masing pengurus.
Ia memahami bahwa menjadi ketua bukan berarti harus mengerjakan semuanya sendiri. Kepemimpinan justru menuntut kemampuan membangun kerja sama dan menggerakkan tim.
Dukungan teman-teman, guru, dan orang tua menjadi bagian penting dalam perjalanan Farizan. Ketika menghadapi kesulitan, ia bertekad mengingat kembali alasan awal menerima amanah: membawa perubahan yang bermanfaat bagi MAN 1 Yogyakarta.
“Merasa kesulitan bukan berarti harus menyerah, tetapi menjadi kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri,” tuturnya.
Di luar kesibukan organisasi, Farizan menikmati bersepeda dan bermain badminton. Namun, satu hal ingin ia tinggalkan ketika masa jabatannya berakhir: budaya komunikasi yang terbuka dan kebiasaan saling mendukung di lingkungan OSIS.
Baginya, kepemimpinan bukan sekadar tentang berdiri paling depan atau mendapatkan kepercayaan. Lebih dari itu, seorang pemimpin harus mampu menjaga kepercayaan tersebut melalui tindakan nyata.
Farizan memang baru memulai perjalanannya. Namun, ia telah menetapkan satu prinsip: menjadi ketua bukan berarti merasa paling pantas, melainkan terus berusaha memantaskan diri. (dee)




















