De Tiger Resmi Dibuka: Sebuah Far East Speakeasy Bar Kini Hadir di House of Tugu Old Town Jakarta
Batavia Lama kembali bersinar. De Tiger, sebuah Far East Speakeasy Bar yang tersembunyi di balik dinding warisan kolonial House of Tugu Old Town Jakarta, telah resmi membuka pintunya di Kali Besar Barat. Tempat ini berdiri di atas tanah yang lebih dari seabad lalu menjadi saksi bisu kisah seekor harimau Jawa bermata satu yang dibebaskan, disembuhkan, dan tak pernah dilupakan.
Filosofi di Balik Speakeasy
Di tengah lanskap kehidupan malam Jakarta yang kian bising, De Tiger hadir dengan menghidupkan kembali esensi sejati dari tradisi speakeasy—sebuah ruang rahasia tempat percakapan intim, diplomasi, dan ketenangan bersemi. Namun, alih-alih sekadar meniru bar rahasia modern, De Tiger menarik inspirasinya dari denyut nadi kehidupan malam kota pelabuhan kuno. Di sini, atmosfer intim di bawah temaram lampu Kali Besar dan riuh rendah sejarah Sunda Kelapa dihadirkan kembali, menjadikan setiap gelas yang disajikan sebagai pembuka narasi lama yang sempat terkubur.
Warisan yang Lahir dari Sebuah Misi Seumur Hidup
Kisah De Tiger berakar kuat pada dedikasi mendalam dari keluarga pendirinya. Selama lebih dari empat dekade, Anhar Setjadibrata menjelajahi Nusantara untuk mengumpulkan tidak hanya objek, melainkan serpihan narasi yang menghubungkan Jawa, Batavia, dan dunia maritim yang perlahan terlupakan. House of Tugu Old Town Jakarta sendiri dibangun di atas lahan sejarah tempat sang harimau legendaris dahulu dirawat hingga pulih.
“De Tiger lahir dari kisah nyata yang telah memikat keluarga kami selama turun-temurun, sebuah kisah luar biasa tentang buyut perempuan saya dan ikatan istimewa yang ia miliki dengan seekor harimau. Sejak kecil, saya selalu terpesona oleh cerita tersebut, serta oleh energi misterius dari Batavia lama itu sendiri. Si Merem, seekor harimau Jawa bermata satu miliknya, hidup lebih dari seabad lalu dan sempat tinggal di gedung tempat De Tiger berdiri saat ini. Kisahnya menjadi titik awal bagi sesuatu yang jauh lebih besar, sebuah penghormatan terhadap era yang telah lama hilang.

Saya sering membayangkan pelabuhan Sunda Kelapa dan keliaran Jakarta berabad-abad lalu, saat tempat ini menjadi salah satu pelabuhan terbesar di dunia. Para bajak laut, pelaut pemberani, pedagang rempah, jung Tiongkok, saudagar Gujarat, penjelajah Portugis, navigator Arab, serta utusan dari kerajaan-kerajaan besar Nusantara semuanya berpapasan di sini. Mereka tidak hanya membawa rempah-rempah, sutra, porselen, dan harta berharga, tetapi juga legenda, musik, ritual, dan budaya yang melebur menjadi kota luar biasa seperti Jakarta saat ini.
De Tiger adalah penghormatan kami terhadap dunia yang terlupakan itu. Setiap koktail, barang antik, karya seni, dan setiap sudut ruangan menceritakan kisah yang terinspired oleh pertemuan-pertemuan luar biasa tersebut. Lebih dari sekadar speakeasy, kami ingin menangkap romantisme, misteri, dan semangat petualangan yang dulu mendefinisikan Batavia lama, sebuah kota tempat Timur dan Barat bertemu, kejayaan diraih, legenda dilahirkan, dan setiap kapal yang tiba di cakrawala menjanjikan kisah luar biasa lainnya. Kami harapan setiap tamu yang melangkah melalui pintu tersembunyi kami merasa terlempar kembali ke masa magis tersebut, walau hanya untuk satu malam.”
— Lucienne Anhar, Co-Owner of Tugu Hotels and Restaurants.
Si Merem: Jiwa di Balik De Tiger
Nama De Tiger sendiri diambil dari kisah nyata Merem, seekor harimau Jawa bermata satu yang ditangkap di dekat perkebunan kopi Kawisari di Blitar dan dijadwalkan untuk menjadi tontonan publik pada awal abad kedua puluh. Mendengar nasib malang sang harimau, Raden Adjeng Kasinem, istri pertama Oei Tiong Ham yang merupakan salah satu pengusaha paling berpengaruh di Asia Tenggara saat itu, mengutus asisten kepercayaannya, Parmun, untuk membeli kebebasan sang harimau dengan harga seratus karung besar biji kopi.

Merem kemudian dibawa ke Batavia untuk menerima perawatan dari dokter hewan terbaik di Hindia Belanda, dan ditempatkan di sebuah gudang besar di sepanjang Kali Besar Barat, gedung yang kini bertransformasi menjadi House of Tugu Old Town Jakarta.
Setelah pulih, ia menghabiskan sisa hidupnya dengan damai di taman kediaman Oei Tiong Ham di Semarang. Lebih dari sekadar maskot, Merem adalah simbol kebebasan, ketangguhan, dan sejarah yang terus hidup di dalam dinding-dinding ini.
Menu Koktail: Tiga Babak, Satu Perjalanan
Setiap koktail di De Tiger adalah sebuah epos yang mewujud dalam rasa. Dibagi menjadi tiga babak narasi, yaitu The Journey of Merem, The Trader’s Table, dan The Spice Market, program minuman ini mengubah tonggak sejarah menjadi suguhan cairan yang berani dan avant-garde. Kreasi ikonis seperti 100 Karung Kopi dan Taman Merem memberi penghormatan langsung pada aksi penyelamatan dramatis sang harimau Jawa dan kedamaian masa tuanya, sementara racikan eksotis seperti Siam menangkap esensi perjalanan melampaui kepulauan Nusantara.
Dari rute rempah global, eliksir konseptual seperti Gujarat, Hadrami, dan Nagasaki menghormati para saudagar lintas bangsa di Sunda Kelapa, memadukan infusi tak terduga yang anggun untuk menjembatani sejarah maritim masa lalu dengan kehidupan malam kontemporer.
Warisan Gastronomi yang Lahir di Sunda Kelapa
Sisi kuliner De Tiger merayakan Sunda Kelapa sebagai titik temu rasa dunia, tempat tradisi Asia, Timur Tengah, dan Eropa melebur menjadi identitas Batavia. Tersaji dalam lima babak naratif, warisan multikultural ini diterjemahkan ke dalam hidangan kontemporer yang elegan. Malam terbaik dimulai dengan Saudagar’s Platter, sebuah piringan kurasi berisi kroket kepiting, bakwan jagung manis, dan sate lilit kakap mini yang disajikan artistik untuk menggambarkan cara pedagang kuno menyeimbangkan peruntungan mereka.
Mulai dari panggangan kayu bakar khas pelabuhan yang kaya aroma asap hingga hidangan nyaman tengah malam, setiap sajian dirancang untuk menyempurnakan atmosfer malam yang dinamis.
Perjalanan Suara Sepanjang Malam
Pengalaman di De Tiger dibentuk secara selaras oleh identitas musik yang dikurasi dengan cermat. Memadukan Organic House, Afro House, Dark Disco, dan Cinematic Electronic, De Tiger menyisipkan tekstur tradisional Indonesia seperti petikan gitar keroncong dan sampel vokal ke dalam aransemen elektronik modern, menciptakan lanskap suara yang terasa berakar secara kultural namun tetap sepenuhnya kekinian.
Alunan musik di De Tiger dirancang untuk berevolusi sepanjang minggu demi menghadirkan atmosfer yang berbeda setiap harinya. Pada hari Selasa hingga Kamis serta hari Minggu, suasana dihidupkan oleh Colonial Garden yang menyajikan perpaduan jazz dan downtempo yang lebih tenang serta intim. Menjelang akhir pekan, hari Jumat dibuka dengan Tiger After Dark, menampilkan ritme Afro House yang bertenaga untuk merefleksikan perayaan para saudagar Batavia setelah hari perdagangan yang panjang.
Sementara itu, hari Sabtu bertransformasi menjadi Smugglers’ Night, malam paling penuh misteri yang digerakkan oleh alunan Tribal House dan Melodic House yang lebih gelap, sensual, dan sinematik. Ke depannya, De Tiger akan terus menghadirkan deretan penampilan dari musisi dan DJ tamu spesial, berpadu dengan rangkaian malam budaya reguler yang menjelajahi kekayaan tradisi musik dunia mulai dari Batavia Lama, Shanghai Lama, India, Timur Tengah, Nusantara, hingga Jepang.



















