JOMBANG – Peserta Workshop Pembuatan Kertas Daluang dan Menulis di Media Lontar 2026 tidak hanya mengikuti materi mengenai daluang, tetapi juga terlibat langsung dalam proses pembuatannya. Setelah memperoleh pengantar mengenai sejarah daluang, peserta berhadapan dengan alat dan bahan yang digunakan dalam proses pembuatan kertas tersebut. Praktik kemudian berlangsung di Selasar Barat Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari dengan pendampingan selama tahapan pengerjaan.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Publik Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari yang diselenggarakan bersama Yayasan Studi Sejarah Kulit Pohon. Pada sesi daluang, Agus Santoso, S.Hum. hadir sebagai narasumber dan Adam Azizi Yudhistyana Soemarsonom sebagai moderator. Sementara itu, Gaza Triatama Ramdhani terlibat dalam rangkaian kegiatan workshop sebagai narasumber pada sesi lontar.
Sebelum praktik dimulai, peserta terlebih dahulu memperoleh materi mengenai daluang. Pembahasan memberikan pengantar mengenai sejarah daluang sebelum peserta memasuki tahapan pembuatan. Materi tersebut menjadi bagian awal dari kegiatan sebelum peserta mengenali secara langsung alat dan bahan yang akan digunakan.
Bagi peserta, perpindahan dari materi menuju praktik ditandai dengan diperkenalkannya berbagai kebutuhan yang digunakan dalam proses pembuatan daluang. Alat dan bahan yang sebelumnya hanya menjadi bagian dari penjelasan kemudian hadir secara langsung di hadapan peserta. Salah satu bahan yang digunakan dalam pembuatan daluang adalah kulit kayu saeh.

Pengenalan terhadap alat dan bahan menjadi tahap sebelum peserta melakukan pengerjaan. Peserta dapat melihat bahan yang akan diolah dan mengikuti penjelasan mengenai penggunaannya dalam rangkaian praktik. Setelah persiapan dilakukan, kegiatan bergerak menuju ruang terbuka di bagian Selasar Barat Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari.
Di Selasar Barat, peserta mulai mengikuti praktik pembuatan daluang. Proses yang sebelumnya diperkenalkan melalui materi kemudian dilakukan secara langsung. Peserta berhadapan dengan bahan yang telah disiapkan dan mengikuti tahapan pengerjaan sebagai bagian dari proses pembuatan kertas daluang.
Praktik tersebut membuat peserta terlibat dalam proses pengolahan bahan, bukan sekadar mengamati dari jarak tertentu. Tahapan pengerjaan dilakukan secara berurutan dengan pendampingan. Peserta mengikuti arahan yang diberikan selama proses berlangsung, sementara alat dan bahan digunakan sesuai dengan tahapan praktik.
Pendampingan menjadi bagian penting dalam aktivitas peserta di Selasar Barat. Ketika peserta mulai mengerjakan bahan, arahan diberikan agar setiap tahapan dapat diikuti. Proses tersebut membuat kegiatan berjalan dari satu tahapan ke tahapan berikutnya, hingga bahan memasuki tahap penyelesaian.
Dalam praktik pembuatan daluang, peserta tidak hanya berhadapan dengan hasil akhir berupa lembaran kertas. Mereka mengikuti proses yang mendahuluinya. Bahan yang telah diperkenalkan pada awal kegiatan kemudian diolah melalui tahapan praktik, sehingga peserta dapat mengikuti perubahan bahan selama proses berlangsung.
Setelah praktik utama dilakukan, kegiatan berlanjut pada tahap penyelesaian. Pada tahap ini, bahan yang telah melalui proses pengerjaan dipersiapkan untuk memasuki tahapan berikutnya. Penyelesaian menjadi bagian dari rangkaian yang menghubungkan praktik dengan proses pemeraman.
Salah satu bagian dari tahap tersebut adalah pembungkusan dengan daun pisang. Bahan yang telah diselesaikan kemudian dibungkus menggunakan daun pisang sebagai bagian dari proses sebelum pemeraman. Bagi peserta, tahapan ini menjadi pengalaman lain dalam mengikuti proses pembuatan daluang secara langsung.
Pembungkusan dilakukan setelah tahapan praktik dan penyelesaian bahan. Dengan demikian, peserta tidak berhenti pada aktivitas pengolahan awal, tetapi juga mengikuti proses lanjutan yang diperlukan sebelum bahan memasuki tahap pemeraman.
Tahap pemeraman kemudian menjadi bagian berikutnya dalam rangkaian pembuatan daluang. Bahan yang telah melalui proses sebelumnya dan dibungkus dengan daun pisang memasuki tahap pemeraman. Tahapan ini menjadi bagian dari proses pengolahan daluang yang diperkenalkan kepada peserta melalui praktik.
Rangkaian tersebut membuat aktivitas peserta berlangsung dalam beberapa tahap yang saling berkaitan. Materi sejarah menjadi pengantar, pengenalan alat dan bahan menjadi persiapan, praktik di Selasar Barat menjadi tahap pengerjaan langsung, kemudian dilanjutkan dengan penyelesaian, pembungkusan menggunakan daun pisang, dan pemeraman.
Bagi peserta, pengalaman praktik juga memperlihatkan bahwa pembuatan daluang terdiri atas sejumlah tahapan. Setiap tahapan dilakukan setelah proses sebelumnya diselesaikan. Karena itu, kegiatan tidak hanya memperlihatkan bahan yang digunakan, tetapi juga memperkenalkan proses yang harus dilalui hingga memasuki tahap pemeraman.
Kehadiran Agus Santoso dalam sesi tersebut menjadi bagian dari proses penyampaian materi dan pendampingan praktik. Peserta mengikuti penjelasan yang diberikan sebelum kemudian mengerjakan bahan secara langsung. Sementara itu, Adam Azizi Yudhistyana Soemarsonom menjalankan peran sebagai moderator yang memandu jalannya sesi.
Pada sisi lain, Gaza Triatama Ramdhani menjadi bagian dari rangkaian narasumber dalam workshop, khususnya pada sesi lontar. Kehadiran dua materi, yaitu daluang dan lontar, ditempatkan dalam satu rangkaian Workshop Pembuatan Kertas Daluang dan Menulis di Media Lontar 2026.
Namun, pada sesi pembuatan daluang, perhatian peserta diarahkan pada pengalaman mengolah bahan. Setelah memperoleh materi sejarah, peserta diperkenalkan dengan alat dan bahan, kemudian bergerak menuju Selasar Barat untuk mengikuti praktik. Di tempat tersebut, peserta tidak hanya menerima penjelasan, tetapi melakukan tahapan pengerjaan dengan pendampingan.
Proses tersebut kemudian berlanjut sampai pada tahap penyelesaian. Pembungkusan menggunakan daun pisang menjadi bagian yang dilakukan sebelum bahan memasuki pemeraman. Setiap tahap memperlihatkan kelanjutan dari proses sebelumnya dan memberikan gambaran mengenai bagaimana bahan diperlakukan dalam rangkaian pembuatan daluang.
Dengan demikian, pengalaman peserta dalam sesi daluang berlangsung dari mendengarkan materi hingga mengikuti proses secara langsung. Sejarah menjadi bagian awal pengenalan, sementara alat dan bahan menjadi titik awal keterlibatan peserta dalam praktik. Selasar Barat menjadi tempat berlangsungnya pengerjaan, kemudian proses dilanjutkan dengan penyelesaian, pembungkusan menggunakan daun pisang, dan pemeraman.
Workshop tersebut menempatkan praktik sebagai bagian dari proses peserta mengenal daluang. Peserta tidak hanya melihat atau membicarakan daluang sebagai sebuah media, tetapi mengikuti tahapan pembuatannya melalui kegiatan yang dilakukan secara langsung. Dari materi sejarah hingga pemeraman, setiap tahap menjadi bagian dari rangkaian aktivitas yang diikuti peserta bersama pendamping.
Melalui urutan tersebut, sesi pembuatan daluang memperlihatkan hubungan antara materi yang diberikan dengan aktivitas yang dilakukan peserta. Setelah memperoleh pengetahuan awal, peserta berhadapan dengan alat dan bahan, mengikuti praktik di Selasar Barat, menyelesaikan tahapan pengerjaan, melakukan pembungkusan dengan daun pisang, dan memasuki proses pemeraman. Rangkaian inilah yang menjadi pengalaman peserta dalam mengenal daluang melalui praktik pembuatan secara langsung.

























