Sebelum menjalani Kuliah Kerja Lapangan (KKL), saya memiliki pandangan yang cukup sederhana tentang posisi content creator. Bagi saya, content creator adalah sesorang yang membuat konten menarik, mengikuti tren, lalu mengemasnya agar disukai audiens. Namun, setelah menjalani KKL sebagai Content Creator, di Valora Group pandangan tersebut berubah. Saya menyadari bahwa pekerjaan content creator bukan sekedar menghasilkan ide kreatif, melainkan juga membutuhkan kemampuan memahami audiens, membangun komunikasi, mengelola sumber daya manusia, dan bekerja dalam sebuah sistem.
Selama KKL, pekerjaan saya tidak hanya berhenti pada pembuatan script. Saya terlibat dalam riset ide, quality control (QC) konten yang akan di upload, editing, penjadwalan konten, penggunaan AI, koordinasi dengan atasan dan tim, hingga evaluasi pekerjaan. Dalam waktu sekitar satu setengah bulan, saya membuat lebih dari 30 script untuk beberapa brand yang memiliki target audiens dan layanan yang berbeda. Situasi tersebut membuat saya memahami bahwa konten tidak dapat dibuat hanya berdasarkan apa yang menurut saya menarik. Saya harus mempertimbangkan siapa yang akan menerima pesan, masalah apa yang target audiens hadapi, serta gaya komunikasi seperti apa yang relevan bagi mereka. Hal ini sejalan dengan penelitian Sanjaya, Leriani, dan Muhazir (2026) yang menunjukkan bahwa strategi komunikasi content creator melibatkan proses mengenali audiens, menyusun pesan, menentukan metode, dan memilih media.
Dari pengalaman tersebut, saya mulai melihat content creator sebagai komunikator, bukan sekedar pekerja kreatif. Ketika membuat script, pertanyaan yang muncul bukan lagi hanya ”Apakah konten itu menarik?”, tetapi juga ”Apakah pesan ini sesuai dengan target audiens yang dituju?”. Bagi saya, perubahan cara berpikir tersebut merupakan salah satu hasil yang penting dari KKL karena saya mulai memahami bahwa kreativitas tanpa pemahaman terhadap audiens belum tentu menghasilkan komunikasi yang efektif.
Hal yang tidak saya bayangkan sebelumnya adalah proses membuat konten juga sangat bergantung pada kemampuan berkomunikasi dengan orang lain. Selama KKL, saya mendapat tanggung jawab untuk mengelola delapan siswa PKL dan tiga orang staff yang baru lulus SMK. Tantangannya bukan hanya memastikan pekerjaan selesai, tetapi juga menghadapi individu dengan karakter, pengalaman, kemampuan, dan motivasi yang berbeda. Saya sempat merasa kewalahan, terlebih setelah koordinator sebelumnya mengundurkan diri. Dari situ saya belajar bahwa mengelola orang tidak cukup hanya dengan memberikan instruksi. Saya juga perlu memahami bagaimana cara berkomunikasi yang tepat pada setiap individu, memberikan arah, melakukan evaluasi, dan tetap menjaga hubungan kerja. Pembelajaran ini membuat saya melihat kembali materi komunikasi interpersonal yang saya pelajari di perkuliahan. Kajian Sholih, Khoirinnisa’, dan Milad (2025) juga menunjukkan bahwa komunikasi interpesonal berperan dalam membangun kepercayaan, mengurangi konflik, dan memperkuat kolaborasi dalam tim.
Selain memahami mengelola sumber daya manusia, saya juga belajar bahwa kreativitas membutuhkan sistem. Banyaknya target konten membuat saya harus memahami SOP, alur kerja, pembagian tugas, deadline, QC, dan evaluasi. Penggunaan AI yang proper juga menjadi pengalaman baru bagi saya. Belajar bahwa AI bukan sekedar alat untuk menghasilkan konten secara instan. Kualitas hasil sangat bergantung pada kemampuan manusia dalam memberikan instruksi, memahami konteks, dan mengevaluasi hasilnya. Bagi saya, teknologi bukan pengganti kreativitas, tetapi alat yang dapat memperkuat proses kerja apabila digunakan dengan tepat.





















