Malang, 07 Agustus 2026 – Biro Penelitian UKM Lembaga Kajian dan Penelitian Mahasiswa (LKP2M) mempersiapkan kembali Intensive Research Class dan Intensive Writing Class dengan menyesuaikan materi pelatihan berdasarkan kebutuhan anggota. Persiapan tersebut dibahas dalam koordinasi internal yang turut memetakan materi penelitian, penulisan, hingga pengolahan data yang perlu diberikan kepada anggota.
Dalam pembahasan, Intensive Research Class diarahkan untuk memberikan keterampilan penelitian yang lebih aplikatif. Salah satu materi yang dirancang adalah analisis data kualitatif dan kuantitatif. Selain itu, penyusunan instrumen penelitian juga menjadi perhatian.
Ahmad Royhan Firdaus, Wakil Direktur LKP2M Periode 2026 sekaligus Kepala Biro Penelitian LKP2M Periode 2025 menekankan, “Pelatihan Menyusun Instrumen penting dilakukan agar anggota LKP2M nantinya tidak hanya memahami bentuk instrumen, tetapi mampu menggali teori, dimensi, dan indikator pada variabel penelitian sebagai dasar penyusunan item pada instrumen penelitian yang teruji validitas dan reliabilitasnya.”
Sementara itu, kebutuhan Intensive Writing Class juga mulai dipetakan. Salah satu persoalan yang muncul adalah masih adanya anggota yang belum memahami penggunaan perangkat manajemen referensi dan tata penulisan daftar pustaka.
Nur Latifatul Qalbi selaku Pemimpin Redaksi Jurnal LoroNG menyampaikan, “Masih ada beberapa yang nggak tau cara pakai Mendeley. Nah itu mungkin bisa dikasih tau dan ditekankan lagi cara penulisan kutipan dan daftar pustaka yang benar.”
Pemetaan tersebut menunjukkan adanya upaya untuk membedakan materi berdasarkan kebutuhan dan karakteristik kegiatan pelatihan. Selain materi, waktu pelaksanaan juga menjadi bahan evaluasi. Saniya Alin Salsabila selaku Kepala Biro Penelitian LKP2M Periode 2026 memberikan masukan agar jadwal pelatihan tidak terlalu pagi sehingga anggota memiliki kesempatan lebih besar untuk mengikuti kegiatan.
“Pelatihannya itu terlalu pagi, mereka mungkin belum bangun, ketika bangun sudah telat terus kayak males berangkat. Mungkin bisa nggak di weekend, nggak harus weekend dan nggak se pagi itu,” ujarnya dalam koordinasi.
Pelatihan juga direncanakan tidak berdiri sendiri, tetapi dihubungkan dengan kegiatan bedah karya dan tahapan pengembangan penelitian anggota. Ahmad Royhan Firdaus menyampaikan bahwa momentum kaderisasi anggota nantinya perlu dimanfaatkan untuk membangun kembali keterlibatan anggota.
“Ketika anggota baru nantinya sudah ada, momentum itu bisa digunakan untuk kegiatan pelatihan. Mengingat, semangat mereka biasanya sangat membara ketika awal menjadi anggota LKP2M. Kita imbangi semangat-semangat itu dengan menghadirkan program pelatihan dan bedah karya”.
Melalui pemetaan Intensive Research Class dan Intensive Writing Class tersebut, Biro Penelitian LKP2M tidak hanya mempersiapkan pelaksanaan pelatihan, tetapi juga mulai menata materi berdasarkan kebutuhan anggota, tahapan penelitian, serta bentuk output yang ingin dicapai.
Melalui program tersebut, Biro Penelitian LKP2M berupaya menghadirkan pelatihan yang lebih aplikatif dan terarah, sehingga anggota tidak hanya memperoleh materi penelitian dan penulisan, tetapi juga memiliki bekal untuk menyusun instrumen, mengolah data, dan menjalankan proses penelitian secara mandiri.

























