GOWA _Setiap orang memiliki persoalan dalam kehidupan, baik kecil, sedang, maupun besar. Kesadaran mengenali masalah dan kemampuan menemukan jalan keluar menjadi gagasan utama dalam buku *Rekonstruksi Paradigma Bimbingan Islam Berbasis Nilai Qurani dan Sosial Politik* yang dibedah di Lecture Theater (LT) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Alauddin Makassar, Selasa (20/10/2026).
Kegiatan yang menghadirkan Prof. Ilham Hamid sebagai pembedah buku ini dihadiri oleh mahasiswa FDK. Pembahasan berfokus pada pentingnya merekonstruksi paradigma bimbingan Islam agar tetap relevan dengan dinamika kehidupan masyarakat.
Prof. Ilham Hamid menjelaskan bahwa setiap orang memiliki masalah yang perlu disadari dan dipahami sebelum mencari jalan keluar. Menurutnya, seseorang perlu belajar bersahabat dengan masalah, menghadapi persoalan yang dialami, kemudian menemukan cara untuk keluar dari masalah tersebut.
Gagasan tersebut berkaitan dengan pentingnya pendekatan bimbingan Islam yang berlandaskan nilai-nilai Al-Qur’an dan kenabian atau profetik dalam membantu seseorang memahami persoalan kehidupannya.
Ia juga mengungkapkan bahwa mahasiswa menjadi target pembaca utama buku tersebut. Mahasiswa diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mampu menyebarluaskan ilmu kepada masyarakat.
“Target pembaca yang utama adalah para mahasiswa dan tentu semua pemerhati pendidikan, termasuk orang tua dan semua kalangan. Namun, mahasiswa menjadi bagian penting melakukan pencerahan ilmu lalu mentransfer kepada khalayak,” jelasnya.
Lebih lanjut, Prof. Ilham Hamid menyebutkan bahwa proses penulisan buku tersebut berlangsung selama satu tahun. Buku ini diharapkan menjadi salah satu rujukan dalam memahami paradigma bimbingan Islam yang mengintegrasikan nilai-nilai Qurani dengan persoalan sosial dan politik.
Sementara itu, moderator kegiatan, Arham Selo, menjelaskan bahwa buku tersebut mengandung nilai-nilai profetik yang penting dipahami mahasiswa. Menurutnya, buku ini menyajikan referensi untuk memudahkan pemahaman nilai-nilai Islam sekaligus menjelaskan perbedaan perspektif Barat dan Islam dalam memandang konseling.
“Buku paradigma bimbingan Islam ini dapat menjelaskan perbedaan antara Muslim dan non-Muslim. Non-Muslim lebih berpatokan pada konsensus hingga munculnya paham humanistik,” ungkapnya.
Ia menambahkan bahwa rekonstruksi merupakan upaya membangun kembali paradigma bimbingan dengan mengadopsi nilai-nilai konseling agar pemahaman terhadap persoalan kehidupan dapat terus berkembang sesuai perubahan masyarakat.
“Rekonstruksi adalah suatu keharusan yang selalu mengikuti alur kehidupan masyarakat dari masa ke masa,” ujarnya.
Di sisi lain, mahasiswi Manajemen Haji dan Umrah (MHU), Istiqomah, menilai kegiatan bedah buku tersebut bermanfaat untuk memperluas wawasan mahasiswa, khususnya dalam memahami kehidupan bermasyarakat dan nilai-nilai Al-Qur’an.
“Menurut saya, kegiatan bedah buku yang diselenggarakan oleh Prof. Ilham Hamid sangat bermanfaat bagi mahasiswa dan menambah wawasan serta pemahaman dalam nilai-nilai Al-Qur’an,” ujar Istiqomah.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami gagasan yang disampaikan dalam buku, tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai Islam dalam menyikapi persoalan kehidupan dan membagikan pengetahuan tersebut kepada masyarakat luas.























