SUKOHARJO – Imajinasi puluhan anak dan remaja melebur dalam semarak warna di Sanggar Inklusi Anak Bangsa, Desa Ngreco, Kecamatan Weru, pada Sabtu (14/2/2026). Melalui agenda “Workshop II – Pembuatan Topeng Wayang Limbah Kertas”, 50 peserta yang didampingi oleh orang tua mereka menorehkan kreativitas di atas cetakan dasar topeng fabel dari limbah kertas. Kegiatan ini merupakan realisasi kolaborasi dari Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025 yang digagas oleh Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia dan Omah Topeng Langdhawur.
Tuan rumah kegiatan sekaligus Ketua Sanggar Anak Bangsa Weru, Suyanti, menyampaikan apresiasinya atas pelaksanaan lokakarya yang sangat inklusif ini. Menurutnya, kegiatan mewarnai ini bukan sekadar rutinitas kesenian biasa bagi anak-anak di wilayahnya.
“Bagi kami di Weru, proses mengolah media limbah menjadi karya seni ini adalah sarana pembangunan karakter (character building). Ketika anak-anak, termasuk sahabat disabilitas, menuangkan warna pada topeng mereka, mereka sedang belajar tentang kesabaran, ketelitian, dan menumbuhkan rasa bangga terhadap hasil karya sendiri sebagai wujud identitas Anak Nusantara,” ujar Suyanti saat membuka kegiatan lokakarya.
Sesi praktik pewarnaan dipandu secara langsung oleh Ketua Omah Topeng Langdhawur, Rus Hardjanto (Ki Jantit Sanakala). Ia memberikan kebebasan penuh kepada seluruh peserta untuk berekspresi menentukan palet warna dari karakter hewan fabel yang mereka pegang, mendobrak batasan warna-warna konvensional.
“Hari ini kita bertugas mentransfer ‘ruh’ ke dalam topeng-topeng ini. Tidak ada warna yang dinilai salah. Kancil tidak harus cokelat, harimau tidak harus loreng jingga. Kemerdekaan berekspresi inilah yang ingin kita tanamkan, sehingga sahabat-sahabat disabilitas pun bisa dengan bebas menorehkan emosi dan imajinasinya di atas media tiga dimensi,” papar Rus Hardjanto di sela-sela pendampingan teknis.
Nilai tambah dari lokakarya ini terlihat nyata pada aspek penguatan motorik halus dan ikatan keluarga (family bonding). Para ibu dan orang tua pendamping tampak setia di sisi anak-anak mereka, memberikan panduan kuas secara perlahan (hand-over-hand) tanpa mengambil alih goresan sang anak seutuhnya. Alat lukis yang digunakan pun dipastikan berbahan dasar air dan non-toksik demi keamanan peserta.
Menanggapi proses interaktif tersebut, Fadhel Moubharok Ibni Faisal selaku Ketua Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia menekankan bahwa ruang seni harus mampu menjadi medium yang paling jujur untuk mendekatkan keluarga dan meruntuhkan tembok eksklusivitas di tengah masyarakat.
“Hadirnya para ibu yang dengan telaten mendampingi putra-putrinya melukis di sini adalah visualisasi nyata dari keberhasilan kurikulum inklusif kita. Kami sangat bangga melihat bagaimana seni daur ulang ini tidak hanya menyelamatkan lingkungan dari limbah kertas, tetapi juga berhasil menjadi ruang aman yang setara bagi semua kalangan. Interaksi hangat dan validasi dari orang tua inilah yang akan menjadi fondasi mental anak-anak kita ke depannya,” tegas Fadhel.
Kegiatan yang berlangsung dinamis ini diakhiri dengan sesi unjuk karya bersama. Senyum bangga tergambar jelas saat para peserta menunjukkan karya topeng fabel mereka yang kini telah memiliki karakter dan warna. Karya-karya tersebut akan melalui proses pengeringan dan siap untuk diberikan sentuhan akhir pada lokakarya selanjutnya menuju pementasan agung di bulan Mei mendatang.
























