Toyomarto, (20 s/ 29 Juli 2026) – Sejumlah pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Desa Wisata Toyomarto siap menghadapi industri 4.0 di era digital. Melalui program kerja Workshop Manajemen Usaha melalui QRIS (Point of Sale) dan Pendaftaran UMKM di Google Business, serta QR Peta UMKM Toyomarto, Mahasiswa Membangun Desa (MMD) 2026 Universitas Brawijaya Kelompok 8 mendampingi para pelaku usaha agar lebih mudah dijangkau wisatawan dan pelanggan, dengan metode pembayaran digital serta promosi lokasi usaha.
Program ini berawal dari potensi UMKM Desa Wisata Toyomarto yang belum masif secara digital ditengah sebagai Desa Wisata. Lokasi Usaha dominan belum terdaftar di Google Maps sehingga sulit dikenali dan dipromosikan wisatawan melalui media sosial. Di sisi lain, metode pembayaran digital di kalangan pelaku usaha juga belum memadai, padahal Bank Indonesia terus mendorong keamanan dan kemudahan transaksi digital melalui QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) dengan tidak adanya biaya transaksi untuk UMKM dengan transaksi dibawah Rp500.000,- sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia Nomor 23/6/PBI/2021 Pasal 52 ayat (1), membebankan biaya tambahan (surcharge) QRIS kepada pelanggan merupakan tindakan pelanggaran.Minimnya visualiasi Peta Sebaran UMKM turut menjadi tantangan sendiri dalam menarik wisatawan berkunjung.
Untuk menjawab permasalahan tersebut, Chandra Kusuma menjalankan 3 Program utama:
Pendampingan Pendaftaran dan Sosialisasi Metode Pembayaran QRIS,
Pendampingan dan Pendaftaran Lokasi Usaha di Google Maps melalui Google Business,
Serta Pemetaan dan Kategorisasi Peta Digital melalui QR Peta Sebaran UMKM.

Seluruh pendampingan dilakukan dengan mendatangi rumah ke rumah secara langsung agar metode pendampingan dapat disesuaikan dan ruang belajar lebih pribadi sehingga UMKM mampu memahami serta mempraktikkan sendiri proses pengelolaan transaksi QRIS dan Google Business.
Pada pendampingan QRIS, Chandra membantu 5 UMKM mendaftar akun dan membuatkan Stiker QRIS, yaitu Rumah Dupa Ratu Kendedes, Widhi Handmade, Warung Mbak Yuni, Carang Mas Chabibah Toyomarto, dan AR Singosari Costume. Sementara itu, pendampingan pendaftaran di Google Maps menjangkau 6 UMKM, yakni Kue Basah Bu Paisrih, Warung Mbak Yuni, Widhi Handmade, Carang Mas Chabibah Toyomart, AR Singosari Costume, dan Heri Multi Service.

Salah satu pelaku UMKM, Ibu Widhi, mengaku terbantu dengan adanya pendampingan ini. “Saya sangat terbantu dengan adanya mas-mas MMD ini, sehingga terhindar dari adanya biaya-biaya yang tidak seharusnya saat pendaftaran QRIS” katanya.
Dengan adanya QRIS, pelaku usaha kini dapat menerima pembayaran nontunai secara lebih aman dan praktis, sesuai standar yang ditetapkan Bank Indonesia. Sementara pendaftaran di Google Business memungkinkan UMKM lebih mudah ditemukan wisatawan maupun pelanggan baru melalui pencarian daring, dan QR Peta UMKM turut memudahkan pengunjung mengenali sebaran serta kategori usaha di Desa Wisata Toyomarto hanya dengan memindai kode QR.
Program ini sejalan dengan upaya mendukung SDGs 8 (Pertumbuhan Ekonomi Desa Merata) dan SDGs 9 (Infrastruktur dan Inovasi Desa Sesuai Kebutuhan), sekaligus menjadi langkah nyata mendorong percepatan digitalisasi UMKM di tingkat desa.
Terimakasih kepada DPL kami, dan DRPM UB sebagai pendukung dan pemberi fasilitas dalam menjalankan pengabdian ini.
Akhir kata,
penulis

























