SUKOHARJO, 18 Mei 2026 – Upaya penanganan masalah sampah yang digabungkan dengan pemberdayaan kelompok rentan terus digalakkan di Kabupaten Sukoharjo. Pada Minggu (17/5/2026) malam, Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia (YAKABI) resmi menyepakati kerja sama lintas sektor bersama tiga elemen masyarakat lokal dalam Rapat Koordinasi Mitra Pelaksana yang digelar di Sanggar Inklusi Permata Hati, Desa Jatisobo, Kecamatan Polokarto.
Pertemuan maraton yang berlangsung dari pukul 18.00 hingga 23.00 WIB ini menjadi fondasi awal eksekusi program bertajuk “Pemanfaatan Limbah Kertas Menjadi Topeng Wayang Bernilai Ekonomi bagi Pemuda Disabilitas”. Program kerakyatan berbasis ekonomi sirkular ini didesain khusus untuk mendukung capaian target Forestry and Other Land Use Norway’s Contribution 4 yang dikelola oleh Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) Kementerian Kehutanan Republik Indonesia.
Ketua YAKABI, Fadhel Moubharok Ibni Faisal, menjelaskan bahwa program ini menawarkan solusi ganda (double impact) bagi masyarakat Sukoharjo.
“Melalui dukungan skema pendanaan Forestry and Other Land Use Norway’s Contribution 4 dari BPDLH Kementerian Kehutanan RI, kami ingin menciptakan ekosistem wirausaha yang inklusif. Sampah kertas yang selama ini menjadi beban lingkungan, akan kita ubah menjadi topeng wayang bernilai jual. Lewat pelatihan ini, 100 saudara kita penyandang disabilitas tidak hanya berkontribusi menjaga bumi, tetapi juga mendapatkan kemandirian finansial,” ujar Fadhel.

Sebagai episentrum kegiatan, Sanggar Inklusi Permata Hati memastikan kesiapan penuh mereka. Ketua Sanggar, Listri Sedyaningsih, menyebut bahwa tempatnya telah dikondisikan agar sepenuhnya ramah bagi peserta berkebutuhan khusus.
“Kami sangat antusias menyambut 100 pemuda disabilitas di sanggar ini. Fasilitas kami pastikan aksesibel, aman, dan nyaman. Harapan kami, pelatihan ini menjadi wadah unjuk gigi bahwa anak-anak disabilitas mampu mengolah limbah menjadi karya seni luar biasa yang diakui pasar,” jelas Listri.
Guna memastikan pendampingan yang intensif selama pelatihan, Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Sukoharjo turut mengambil peran krusial. Ketua PC IPNU Sukoharjo, Aditya Yuliyanto, siap mengerahkan anggotanya sebagai relawan lapangan.

“Mengelola ekologi dan peduli pada kaum rentan adalah tugas bersama generasi muda. Kader-kader IPNU akan turun langsung sebagai fasilitator yang mendampingi teman-teman disabilitas secara door-to-door di lokasi pelatihan. Ini adalah wujud kontribusi pelajar NU untuk menyukseskan program pelestarian lingkungan dari BPDLH Kemenhut RI,” tegas Aditya.
Dukungan menyeluruh juga disuarakan oleh tuan rumah. Perwakilan Pemuda Jatisobo, Ganing Widarwati, memastikan bahwa masyarakat desa menyambut hangat dan siap menjadi tameng kelancaran acara.
“Warga dan Pemuda Jatisobo sangat bangga desa kami menjadi pusat pergerakan ekonomi hijau ini. Sebagai tuan rumah, kami berkomitmen penuh menjaga kondusivitas, menjamin keamanan, serta membantu pengaturan akses lalu lintas dan mobilitas peserta difabel. Kami akan pastikan program ini sukses 100 persen,” papar Ganing antusias.
Rapat koordinasi ditutup jelang tengah malam dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara YAKABI, Sanggar Inklusi Permata Hati, IPNU Sukoharjo, dan Pemuda Jatisobo. Sinergi kuat di akar rumput ini membuktikan kesiapan Kabupaten Sukoharjo dalam menyerap dan mengoptimalkan program lingkungan berkelanjutan berskala nasional.



















