JAKARTA 30 Agustus — Pelaku usaha pemula sering merasa produknya telah diterima pasar setelah memperoleh banyak komentar positif dari teman, keluarga, atau calon pelanggan. Praktisi pemasaran dan vokasi Ahmad Madani mengingatkan bahwa pujian belum dapat disamakan dengan permintaan pasar.
“Kalimat seperti ‘produknya bagus’, ‘kemasannya keren’, atau ‘rasanya enak’ memang menyenangkan. Namun, pasar tidak hanya berbicara melalui kata-kata. Pasar berbicara melalui tindakan,” ujar Ahmad Madani.
Menurutnya, validasi menjadi lebih kuat ketika seseorang bersedia membayar, melakukan pemesanan, membeli kembali, merekomendasikan kepada orang lain, menunggu ketika stok habis, atau merasa kehilangan ketika produk tidak tersedia.
Ahmad memberi contoh seorang siswa SMK yang membawa minuman produksinya ke sekolah. Banyak teman memuji kemasan dan rasanya, tetapi sampai waktu istirahat berakhir hanya sedikit botol yang terjual.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya perhatian dan ketertarikan, tetapi belum cukup untuk membuktikan permintaan. Sebagian calon pembeli mungkin menginginkan produk tersebut, namun mempunyai keterbatasan uang saku, sudah membeli makanan, atau memprioritaskan kebutuhan lain.
Ia mengatakan bahwa riset pasar tidak cukup berhenti pada pertanyaan, “Apakah Anda menyukai produk ini?” Jawaban positif dapat muncul karena kesopanan, kedekatan, atau keinginan untuk menyenangkan penjual.
Pertanyaan yang lebih kuat perlu menggali perilaku nyata, misalnya produk apa yang sedang digunakan, berapa harga yang biasa dibayar, kapan terakhir membeli produk sejenis, alasan belum membeli, dan kondisi yang dapat membuat pelanggan beralih.
“Pendapat membantu kita mengetahui kesan. Perilaku membantu kita memahami pasar,” katanya.
Selain wawancara, bisnis perlu menguji respons melalui tindakan sederhana, seperti menawarkan sampel berbayar, membuka pre-order, membuat paket percobaan, atau menguji beberapa tingkat harga dan ukuran.
Hasil pengujian dapat membantu membedakan empat hal: orang yang melihat, orang yang tertarik, orang yang berniat, dan orang yang benar-benar membeli.
Ahmad menambahkan bahwa kegagalan memperoleh transaksi pada pengujian awal bukan berarti ide harus langsung dihentikan. Data tersebut dapat menunjukkan hambatan yang perlu diperbaiki, seperti harga, ukuran, waktu penawaran, persepsi nilai, kemudahan membeli, atau komunikasi manfaat.
“Jangan membangun keputusan bisnis hanya dari tepuk tangan. Ujilah apakah pelanggan benar-benar bersedia mengorbankan uang, waktu, atau usaha untuk mendapatkan solusi yang kita tawarkan,” tutup Ahmad Madani.
Tentang Ahmad Madani
Ahmad Madani adalah praktisi pemasaran dan vokasi, trainer, konsultan, guru, serta narasumber tamu SMK Jurusan Pemasaran. Ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal KOMISI, Co-Founder AGMARI, dan Juri LKS Digital Marketing Tingkat Nasional 2026. Informasi lebih lanjut tersedia di ahmadmadani.id.
























