Boneka rajut atau yang sering disebut amigurumi merupakan salah satu produk kerajinan tangan yang dibuat menggunakan teknik merajut dengan benang. Amigurumi umumnya dibuat dalam bentuk boneka atau karakter tiga dimensi, seperti hewan, manusia, tumbuhan, makanan, maupun berbagai karakter lainnya. Produk ini memiliki daya tarik karena dibuat secara manual sehingga dapat menghasilkan bentuk dan desain yang beragam. Selain digunakan sebagai mainan, boneka rajut juga dapat dimanfaatkan sebagai hiasan kamar, dekorasi meja, koleksi, gantungan, maupun hadiah untuk orang lain.
Perkembangan minat terhadap produk handmade memberikan peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha boneka rajut. Konsumen tidak hanya mencari produk berdasarkan fungsi, tetapi juga mempertimbangkan keunikan, bentuk, warna, kualitas, dan nilai kreativitas yang terdapat pada produk tersebut. Salah satu keunggulan boneka rajut adalah adanya pilihan untuk membuat produk sesuai dengan permintaan konsumen atau custom. Konsumen dapat menentukan karakter, warna, ukuran, bahkan aksesori yang ingin ditambahkan. Kondisi tersebut membuat boneka rajut memiliki nilai jual yang tidak hanya berasal dari bahan yang digunakan, tetapi juga dari keterampilan dan kreativitas pembuatnya.

Gambar 1. Contoh produk boneka rajut (amigurumi)
Kegiatan produksi dan penjualan boneka rajut dapat dilihat dari perspektif ekonomi mikro karena di dalamnya terdapat proses pengambilan keputusan oleh produsen dan konsumen. Produsen harus menentukan bagaimana menggunakan sumber daya yang terbatas untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai bagi konsumen. Sementara itu, konsumen harus menentukan pilihan barang yang akan dibeli berdasarkan kebutuhan, keinginan, harga, kualitas, dan kemampuan daya beli. Menurut Johannes (2002), ekonomi mikro membahas perilaku pelaku ekonomi dalam menggunakan sumber daya yang terbatas untuk memenuhi kebutuhan. Konsep tersebut dapat diterapkan dalam kegiatan produksi dan penjualan boneka rajut karena produsen harus mempertimbangkan penggunaan modal, bahan baku, tenaga kerja, waktu, serta kemampuan produksi agar kegiatan usaha dapat memberikan keuntungan
Proses produksi boneka rajut diawali dengan menentukan desain atau karakter yang akan dibuat. Setelah desain ditentukan, produsen memilih warna dan jenis benang yang sesuai. Selanjutnya, benang dirajut menggunakan hakpen mengikuti pola yang telah dibuat. Bagian-bagian boneka seperti kepala, badan, tangan, kaki, telinga, dan bagian lainnya dibuat secara terpisah. Setelah bagian tersebut selesai, bagian dalam boneka diisi dengan dakron agar memiliki bentuk yang lebih padat. Kemudian seluruh bagian disatukan dan ditambahkan mata boneka, hidung, mulut, pita, pakaian, atau aksesori lain sesuai desain. Setelah selesai, dilakukan pemeriksaan terhadap kerapian rajutan dan kekuatan setiap bagian sebelum produk dikemas dan siap dijual.
Dalam kegiatan produksi tersebut terdapat beberapa faktor produksi yang digunakan. Bahan baku utama berupa benang rajut dengan berbagai warna. Selain itu, diperlukan dakron sebagai bahan pengisi, mata boneka, benang jahit, pita, aksesori, serta bahan kemasan. Tenaga kerja juga menjadi faktor yang sangat penting karena proses pembuatan amigurumi dilakukan secara manual. Keterampilan merajut sangat menentukan kualitas produk, terutama dalam menghasilkan bentuk yang rapi dan sesuai dengan pola. Modal diperlukan untuk membeli bahan baku, peralatan, kemasan, dan membiayai kegiatan operasional. Peralatan yang digunakan antara lain hakpen, jarum, gunting, dan peralatan pendukung lainnya.
Selain faktor produksi tersebut, waktu juga menjadi hal yang penting dalam usaha boneka rajut. Produk yang memiliki ukuran kecil dan desain sederhana dapat diselesaikan dalam waktu yang lebih singkat dibandingkan dengan produk berukuran besar dan memiliki banyak detail. Semakin rumit desain yang dibuat, semakin banyak waktu dan keterampilan yang dibutuhkan. Oleh karena itu, waktu pengerjaan dapat memengaruhi biaya produksi dan harga jual produk. Produsen perlu mengatur waktu dengan baik agar pesanan dapat diselesaikan sesuai dengan jumlah dan waktu yang telah ditentukan.
Sebagai gambaran penerapan konsep biaya produksi dalam usaha boneka rajut, dapat dibuat suatu simulasi produksi sebanyak 20 boneka rajut ukuran sedang. Biaya yang dikeluarkan meliputi bahan baku, tenaga kerja, kemasan, serta biaya operasional. Perkiraan biaya produksinya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 1. Estimasi Biaya Produksi 20 Boneka Rajut
Berdasarkan tabel tersebut, total biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan 20 boneka rajut adalah Rp850.000. Dari jumlah tersebut dapat diketahui biaya produksi rata-rata untuk satu boneka dengan membagi total biaya produksi dengan jumlah produk yang dihasilkan.
Biaya produksi per unit = Rp850.000 ÷ 20 = Rp42.500.
Artinya, biaya yang diperlukan untuk menghasilkan satu boneka rajut dalam simulasi tersebut adalah sebesar Rp42.500. Perhitungan ini dapat menjadi dasar bagi produsen dalam menentukan harga jual. Namun, dalam kondisi sebenarnya biaya produksi dapat berubah karena adanya perubahan harga bahan baku, ukuran boneka, tingkat kesulitan desain, serta waktu pengerjaan.
Penentuan harga jual menjadi salah satu keputusan penting dalam kegiatan produksi. Produsen tidak dapat menentukan harga hanya berdasarkan keinginan memperoleh keuntungan, tetapi juga harus memperhatikan biaya produksi dan kondisi pasar. Jika harga terlalu tinggi, konsumen dapat memilih produk lain yang dianggap lebih sesuai dengan kemampuan mereka. Sebaliknya, jika harga terlalu rendah, pendapatan yang diperoleh mungkin tidak cukup untuk menutupi seluruh biaya produksi.
Berdasarkan biaya produksi sebesar Rp42.500 per unit, misalnya produsen menginginkan keuntungan sebesar Rp27.500 untuk setiap boneka. Maka harga jual dapat ditentukan sebesar Rp70.000 per unit. Harga tersebut merupakan contoh simulasi dan dapat berubah sesuai dengan ukuran, desain, tingkat kesulitan, serta nilai produk yang ditawarkan. Boneka dengan ukuran lebih besar atau desain yang lebih rumit tentu membutuhkan bahan dan waktu pengerjaan yang lebih banyak sehingga harga jualnya dapat lebih tinggi.
Dari sisi konsumen, permintaan terhadap boneka rajut dipengaruhi oleh beberapa faktor. Harga merupakan salah satu faktor penting, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan keputusan pembelian. Selera konsumen, desain, kualitas, ukuran, warna, dan manfaat produk juga dapat memengaruhi permintaan. Misalnya, seseorang yang membutuhkan hadiah mungkin lebih tertarik pada boneka custom dengan karakter tertentu meskipun harganya lebih tinggi dibandingkan boneka biasa. Hal ini terjadi karena konsumen tidak hanya mempertimbangkan harga, tetapi juga manfaat dan kepuasan yang diperoleh dari produk tersebut.
Permintaan juga dapat meningkat pada kondisi tertentu, seperti menjelang ulang tahun, kelulusan, hari kasih sayang, atau acara khusus lainnya. Boneka rajut dapat menjadi salah satu pilihan hadiah karena dapat dibuat sesuai dengan karakter atau warna yang disukai penerima. Oleh karena itu, produsen perlu memperhatikan perubahan selera dan kebutuhan konsumen agar produk yang ditawarkan tetap memiliki daya tarik.
Dari sisi penawaran, produsen harus mempertimbangkan kemampuan dalam menghasilkan boneka. Karena amigurumi dibuat secara manual, jumlah produk yang dapat dihasilkan dalam satu waktu memiliki keterbatasan. Produsen tidak dapat langsung meningkatkan jumlah produksi secara besar apabila keterampilan, tenaga kerja, waktu, dan bahan baku yang tersedia terbatas. Apabila permintaan meningkat, produsen dapat menambah jumlah produksi selama masih mampu menjaga kualitas dan memenuhi pesanan sesuai waktu yang disepakati.
Ketersediaan bahan baku juga memengaruhi penawaran. Apabila harga benang atau bahan pendukung meningkat, biaya produksi akan ikut meningkat. Produsen dapat melakukan penghematan penggunaan bahan, mencari pemasok dengan harga yang lebih sesuai, atau menyesuaikan harga jual. Namun, penghematan tetap harus dilakukan dengan mempertahankan kualitas agar konsumen tidak merasa dirugikan.
Penjualan boneka rajut dapat dilakukan secara langsung maupun melalui media digital. Penjualan secara langsung dapat dilakukan melalui bazar, pameran kerajinan, lingkungan kampus, atau kegiatan tertentu. Sementara itu, pemasaran digital dapat dilakukan melalui WhatsApp, Instagram, TikTok, marketplace, dan media sosial lainnya. Produk dapat ditampilkan melalui foto yang jelas sehingga konsumen dapat melihat bentuk, warna, ukuran, dan detail rajutan.
Pemasaran melalui media sosial juga memberikan keuntungan karena produsen dapat menjangkau konsumen yang lebih luas tanpa harus memiliki toko fisik. Produsen dapat menampilkan berbagai hasil karya sebagai katalog, memberikan informasi mengenai harga, menerima pesanan custom, dan berkomunikasi secara langsung dengan calon pembeli. Testimoni dari konsumen juga dapat digunakan untuk meningkatkan kepercayaan terhadap produk.
Dalam persaingan usaha, produsen boneka rajut tidak hanya bersaing berdasarkan harga. Kualitas, kreativitas, keunikan desain, kerapian, pelayanan, dan kemampuan menerima pesanan custom dapat menjadi nilai tambah. Produk yang memiliki desain berbeda dan kualitas yang baik dapat memiliki daya tarik tersendiri bagi konsumen. Dengan demikian, produsen perlu menciptakan ciri khas agar produknya tidak mudah dibandingkan hanya berdasarkan harga.
Sebagai contoh, apabila 20 boneka rajut yang diproduksi dapat terjual seluruhnya dengan harga Rp70.000 per unit, maka hasil penjualan dapat dihitung dengan mengalikan jumlah produk dengan harga jual. Perhitungannya adalah 20 × Rp70.000 sehingga diperoleh pendapatan sebesar Rp1.400.000. Setelah dikurangi dengan total biaya produksi sebesar Rp850.000, maka keuntungan yang diperoleh adalah Rp550.000.
Tabel 2. Perhitungan Pendapatan dan Keuntungan
Berdasarkan perhitungan tersebut, usaha memperoleh keuntungan sebesar Rp550.000 apabila seluruh produk terjual. Namun, keuntungan dalam kegiatan usaha sebenarnya tidak selalu sama karena jumlah produk yang terjual dapat berubah. Apabila hanya sebagian produk yang terjual, pendapatan yang diperoleh akan lebih rendah. Oleh karena itu, produsen harus memperkirakan permintaan sebelum menentukan jumlah produksi agar modal tidak terlalu banyak tertahan dalam produk yang belum terjual.
Kegiatan produksi dan penjualan boneka rajut juga menunjukkan adanya konsep kelangkaan dan pilihan dalam ekonomi mikro. Sumber daya yang dimiliki produsen terbatas, seperti modal, bahan baku, waktu, dan tenaga kerja. Produsen harus menentukan bagaimana sumber daya tersebut digunakan untuk menghasilkan produk yang memberikan manfaat dan keuntungan. Jika modal terbatas, produsen harus memilih bahan yang benar-benar diperlukan. Jika waktu terbatas, produsen harus menentukan jumlah pesanan yang dapat diselesaikan tanpa mengurangi kualitas.
Konsep biaya juga sangat penting karena setiap keputusan produksi memiliki konsekuensi ekonomi. Ketika produsen menambah jumlah produksi, diperlukan tambahan bahan, tenaga kerja, dan waktu. Sebaliknya, jika produksi dikurangi, biaya yang dikeluarkan juga dapat berkurang, tetapi produsen mungkin kehilangan kesempatan untuk memperoleh pendapatan dari permintaan konsumen. Oleh karena itu, keputusan produksi harus mempertimbangkan kondisi pasar dan kemampuan usaha.
Dari sisi konsumen, pembelian boneka rajut juga merupakan bentuk pilihan ekonomi. Konsumen memiliki pendapatan yang terbatas sehingga harus menentukan barang mana yang ingin dibeli. Konsumen akan membandingkan harga dengan manfaat yang diperoleh. Apabila konsumen merasa bahwa desain, kualitas, dan manfaat boneka sesuai dengan harga yang ditawarkan, maka kemungkinan untuk membeli akan semakin besar.
Dengan demikian, produksi dan penjualan boneka rajut dapat menjadi contoh sederhana mengenai penerapan ekonomi mikro dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan tersebut melibatkan keputusan mengenai penggunaan faktor produksi, biaya produksi, jumlah barang yang diproduksi, harga jual, permintaan, penawaran, pemasaran, hingga keuntungan. Produsen harus mampu menggunakan sumber daya yang terbatas secara efisien agar dapat menghasilkan produk yang memiliki nilai dan mampu memenuhi kebutuhan konsumen.
Usaha boneka rajut memiliki peluang untuk dikembangkan karena produk handmade mempunyai keunikan yang sulit sepenuhnya digantikan oleh produk yang dibuat secara massal. Kreativitas dalam membuat desain, kemampuan menerima pesanan sesuai keinginan konsumen, kualitas rajutan, serta pemasaran yang tepat dapat menjadi faktor pendukung perkembangan usaha. Namun, produsen juga harus mampu menghadapi berbagai tantangan seperti keterbatasan waktu produksi, perubahan harga bahan baku, perubahan tren, dan persaingan dengan produk sejenis.
Melalui pengelolaan biaya dan sumber daya yang baik, produsen dapat menentukan harga jual yang sesuai sekaligus memperoleh keuntungan. Pemahaman terhadap permintaan dan penawaran juga membantu produsen dalam menentukan jumlah produksi dan strategi penjualan. Oleh karena itu, konsep ekonomi mikro dapat digunakan sebagai dasar dalam mengambil keputusan usaha, termasuk pada usaha sederhana seperti produksi dan penjualan boneka rajut.
Oleh: Jenyfer Sianipar / Mahasiswa Program Sarjana Manajemen
Universitas Pamulang
Dosen Pengampu: Novia Susanti, S.E., M.M
Tugas Mata Kuliah Ekonomi Mikro
———
Johannes. (2002). Pengantar Teori Ekonomi Mikro. Diktat Kuliah, FE Unja.
Mankiw, N. G. (2018). Principles of Economics (8th ed.). Boston: Cengage Learning.
Sukirno, S. (2002). Pengantar Teori Mikroekonomi (Edisi Ketiga). Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.




















