Pelataran, Jakarta, (21/4/2026) – Perubahan cara masyarakat berpartisipasi dalam kehidupan sosial perlahan menunjukkan pergeseran yang kian terasa di wilayah perkotaan. Seiring meningkatnya mobilitas dan penetrasi teknologi digital, bentuk-bentuk kebersamaan yang dahulu identik dengan keterlibatan fisik kini mulai berganti arah menuju pola kontribusi yang lebih fleksibel dan berbasis daring. Di Kota Medan, fenomena ini tampak dari semakin berkurangnya aktivitas gotong royong secara langsung, sementara partisipasi sosial melalui platform digital justru mengalami peningkatan yang cukup signifikan, mencerminkan adaptasi masyarakat terhadap dinamika zaman yang terus bergerak.
Fenomena tersebut menjadi perhatian kalangan akademik, khususnya mahasiswa dari Universitas Sumatera Utara yang tergabung dalam Kelompok 5 Pendidikan Pancasila 9, terdiri dari Dhea Allyskha Tasdick, Kesya Tritania Berutu, Reja Christian Sembiring, Silvy Tiara Saputri, Syafa Aulia Nazwa, Teresia Magdalena Situmeang, dan Wilson Marjuang Pasaribu. Dengan latar belakang keilmuan yang beragam, tim ini menyoroti bahwa perubahan tersebut tidak hanya sekadar pergeseran perilaku, melainkan juga mencerminkan transformasi nilai gotong royong dalam kehidupan masyarakat urban.

Wawancara yang dilakukan kepada warga di sekitar Kampung Madras Lingkungan 1-3 Serta Kampus Poltekkes Medan dan kuesioner yang disebar kepada warga yang tinggal di perumahan modern turut memperkuat gambaran perubahan tersebut, di mana aktivitas warga yang melintas dan berinteraksi di kawasan tersebut menunjukkan kecenderungan serupa, yakni semakin minimnya keterlibatan dalam kerja kolektif secara langsung, namun tetap menunjukkan kepedulian melalui cara-cara yang lebih praktis dan berbasis digital. Kondisi di lapangan memperlihatkan bahwa aktivitas kolektif seperti kerja bakti, membantu tetangga dalam kegiatan sosial, hingga keterlibatan langsung dalam solidaritas komunitas mulai mengalami penurunan intensitas, baik di kawasan pemukiman padat maupun perumahan. Dalam kurun waktu satu tahun terakhir, sebagian besar masyarakat mengaku jarang terlibat dalam kegiatan gotong royong fisik, yang menjadi indikator kuat bahwa interaksi sosial berbasis kehadiran langsung mulai melemah di tengah kesibukan kehidupan kota.
Sebenarnya bentuk kepedulian sosial tidak sepenuhnya memudar, melainkan mengalami pergeseran ke ranah digital. Donasi online kini menjadi alternatif utama yang dipilih masyarakat dalam menyalurkan bantuan, baik untuk kepentingan kemanusiaan, bencana, maupun kebutuhan individu. Tingginya partisipasi dalam donasi digital memperlihatkan bahwa nilai empati tetap terjaga, meskipun diwujudkan dalam bentuk yang berbeda dari praktik gotong royong konvensional. Perubahan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, seperti keterbatasan waktu akibat tuntutan pekerjaan, padatnya aktivitas sehari-hari, serta kemudahan akses teknologi yang semakin meluas. Dalam konteks tersebut, masyarakat cenderung memilih cara yang lebih cepat dan efisien untuk tetap berkontribusi secara sosial tanpa harus terlibat secara langsung di lapangan.

Di sisi lain, pergeseran ini juga membawa konsekuensi terhadap kualitas hubungan sosial antarindividu. Berkurangnya interaksi tatap muka dinilai berpotensi melemahkan ikatan emosional yang selama ini terbentuk melalui kebersamaan dalam aktivitas langsung. Sebagian masyarakat bahkan menilai bahwa hubungan sosial berbasis digital belum sepenuhnya mampu menggantikan kedekatan yang terbangun melalui pertemuan secara langsung. Kondisi ini menunjukkan adanya dualitas dalam transformasi sosial yang tengah berlangsung. Digitalisasi di satu sisi memberikan kemudahan dan memperluas jangkauan kepedulian sosial, namun di sisi lain juga membuka ruang bagi munculnya kecenderungan individualisme yang dapat berdampak pada melemahnya kohesi sosial dalam jangka panjang.
Dalam perspektif nilai kebangsaan, praktik donasi digital masih mencerminkan kepedulian terhadap sesama sebagai bagian dari nilai kemanusiaan. Namun tantangan muncul pada aspek persatuan, di mana berkurangnya interaksi langsung dapat memengaruhi kekuatan hubungan sosial yang selama ini menjadi fondasi utama kehidupan bermasyarakat. Fenomena ini menegaskan bahwa gotong royong tidak benar-benar hilang, melainkan mengalami transformasi mengikuti perkembangan zaman. Tantangan ke depan terletak pada bagaimana masyarakat mampu menjaga keseimbangan antara kemudahan teknologi dan keberlangsungan interaksi sosial secara langsung, sehingga nilai kebersamaan tetap terpelihara sebagai bagian dari identitas bangsa Indonesia.























