Di sebuah konser, pemandangan yang sama hampir selalu terulang. Lampu dipadamkan. Musik mulai dimainkan. Ribuan telepon genggam terangkat bersamaan. Orang datang untuk menyaksikan pertunjukan, tetapi refleks pertama yang muncul justru merekamnya.
Ironisnya, sebagian besar video itu mungkin tidak akan pernah diputar kembali.
Fenomena tersebut tampak sepele. Namun, ia menyimpan pertanyaan yang jauh lebih besar. Sejak kapan pengalaman tidak lagi cukup untuk dialami? Mengapa kita merasa harus membuktikan bahwa kita pernah berada di sana?
Pertanyaan itu tidak hanya berlaku di konser. Ia hadir dalam hampir setiap sudut kehidupan. Makanan sering kali didokumentasikan sebelum disantap. Liburan disusun agar menghasilkan foto yang menarik. Wisuda dirancang layaknya sesi produksi. Aktivitas olahraga berubah menjadi tangkapan layar aplikasi kebugaran. Bahkan membaca buku pun sering diakhiri dengan unggahan kutipan di media sosial. Seolah-olah sebuah pengalaman baru memperoleh maknanya setelah dipublikasikan.
Tentu tidak ada yang salah dengan berbagi cerita. Media sosial telah memperluas ruang untuk belajar, saling menginspirasi, dan membangun jejaring. Masalahnya muncul ketika berbagi tidak lagi menjadi pilihan, melainkan berubah menjadi kebutuhan. Pengalaman terasa kurang lengkap jika tidak memperoleh perhatian. Kehadiran terasa belum sah jika tidak meninggalkan jejak digital.
Di titik inilah kita sedang menyaksikan perubahan sosial yang menarik. Media sosial tidak sekadar mengubah cara manusia berkomunikasi. Ia mengubah cara masyarakat memberi nilai pada pengalaman.
Pada 1967, filsuf Prancis Guy Debord memperkenalkan konsep society of the spectacle, masyarakat tontonan. Jauh sebelum TikTok, Instagram, atau YouTube hadir, Debord telah mengingatkan bahwa masyarakat modern perlahan lebih menghargai citra daripada pengalaman itu sendiri. Yang dinilai bukan lagi kenyataan, melainkan bagaimana kenyataan itu ditampilkan.
Hari ini, gagasan tersebut terasa semakin relevan.
Algoritma tidak bekerja berdasarkan makna. Algoritma bekerja berdasarkan perhatian. Konten yang mengundang emosi, memancing rasa penasaran, atau membuat orang berhenti menggulir layar akan lebih mudah disebarkan. Dalam logika seperti ini, perhatian berubah menjadi komoditas. Semakin besar perhatian yang diperoleh, semakin tinggi pula nilai sebuah konten.
Lama-kelamaan, logika itu merembes ke kehidupan sehari-hari.
Bukan hanya konten yang bersaing memperoleh perhatian. Manusianya juga.
Kita mulai memilih sudut foto terbaik, menyusun narasi yang paling menarik, dan menghapus bagian-bagian hidup yang dianggap tidak layak dipublikasikan. Bukan karena ingin berbohong, melainkan karena ruang digital memberi penghargaan kepada apa yang tampak sempurna.
Di sinilah persoalannya.
Media sosial tidak meminta kita menjadi orang lain. Ia hanya perlahan mengajari kita memilih bagian diri yang paling mungkin disukai.
Akibatnya, kehidupan yang tampil di layar sering kali berbeda dengan kehidupan yang benar-benar dijalani. Kita melihat foto wisuda, tetapi tidak melihat malam-malam penuh kecemasan sebelum skripsi selesai. Kita melihat perjalanan liburan, tetapi tidak melihat utang yang mungkin harus dibayar setelahnya. Kita melihat keberhasilan, tetapi jarang menyaksikan kegagalan yang mendahuluinya.
Potongan-potongan itulah yang kemudian menjadi standar baru dalam membandingkan hidup.
Tidak mengherankan jika semakin banyak orang merasa tertinggal. Bukan karena hidupnya buruk, melainkan karena ia terus membandingkan kenyataan dengan etalase terbaik kehidupan orang lain.
Sosiolog Erving Goffman pernah menjelaskan bahwa kehidupan sosial menyerupai panggung tempat manusia menampilkan dirinya di hadapan orang lain. Namun, panggung hari ini jauh lebih besar daripada yang pernah dibayangkan Goffman. Penontonnya bukan lagi puluhan orang di sekitar kita, melainkan ribuan, bahkan jutaan akun yang tidak pernah benar-benar kita kenal.
Dalam situasi seperti itu, batas antara menjalani hidup dan mempertontonkan hidup menjadi semakin tipis.
Fenomena ini juga berkaitan dengan apa yang oleh filsuf Byung-Chul Han disebut sebagai masyarakat prestasi. Manusia modern terus terdorong untuk tampil produktif, aktif, dan menarik. Tidak cukup menjadi bahagia. Kebahagiaan harus terlihat. Tidak cukup belajar. Proses belajar harus dibagikan. Tidak cukup membantu orang lain. Kebaikan pun sering kali diukur dari seberapa luas ia mendapat perhatian.
Pelan-pelan, pengalaman berubah menjadi konten.
Yang hilang bukan sekadar privasi. Yang ikut hilang adalah ruang untuk mengalami sesuatu tanpa merasa perlu menjelaskannya kepada orang lain.
Padahal, tidak semua hal yang berharga membutuhkan penonton. Tidak semua percakapan harus direkam. Tidak semua matahari terbenam perlu diunggah. Tidak semua kebahagiaan memerlukan tombol “bagikan”.
Bukan berarti kita harus meninggalkan media sosial. Platform digital telah menjadi bagian dari kehidupan modern dan membawa banyak manfaat. Yang perlu dipertanyakan justru cara kita memakainya. Apakah media sosial masih menjadi alat untuk berbagi pengalaman, atau jangan-jangan pengalaman kita mulai dibentuk oleh apa yang dianggap layak dibagikan?
Pertanyaan itu penting, sebab perubahan terbesar yang sedang terjadi mungkin bukan terletak pada teknologi, melainkan pada diri kita sendiri.
Barangkali media sosial tidak pernah benar-benar mengubah siapa kita.
Ia hanya perlahan mengubah apa yang kita anggap pantas untuk diperlihatkan.
Dan ketika hidup semakin sering dilihat dari sudut pandang penonton, barangkali yang paling kita rindukan bukan dunia tanpa media sosial, melainkan kemampuan menikmati sebuah momen tanpa merasa harus membuktikan bahwa momen itu pernah ada.























