Perkembangan media sosial pada era digital saat ini membuat informasi dan tren menyebar dengan sangat cepat. Platform seperti TikTok, Instagram, dan Twitter memengaruhi gaya hidup masyarakat, terutama generasi muda. Banyak orang merasa harus selalu mengikuti tren agar tidak dianggap tertinggal oleh lingkungan sekitar. Kondisi tersebut dikenal dengan istilah Fear of Missing Out atau FOMO. Fenomena ini penting dibahas karena memengaruhi perilaku konsumsi masyarakat. Banyak konsumen membeli barang bukan berdasarkan kebutuhan utama, tetapi karena dorongan tren yang sedang viral di media sosial.
Fenomena FOMO saat ini banyak terjadi di kalangan generasi muda. Banyak masyarakat tertarik membeli produk yang sedang viral seperti makanan kekinian, pakaian trendi, skincare, hingga gadget terbaru. Ketika suatu produk ramai dibahas di media sosial atau dipromosikan oleh influencer, masyarakat menjadi penasaran dan ingin ikut memilikinya. Dalam perspektif mikroekonomi, kondisi ini berkaitan dengan teori permintaan karena semakin tinggi minat masyarakat terhadap suatu barang, maka permintaan barang tersebut akan meningkat.
Munculnya fenomena FOMO dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dan media sosial yang semakin pesat. Media sosial membuat masyarakat lebih mudah melihat kehidupan dan tren yang diikuti orang lain. Selain itu, strategi pemasaran perusahaan juga menjadi penyebab meningkatnya FOMO. Banyak pelaku usaha menggunakan promosi seperti “limited edition”, “stok terbatas”, atau “diskon hari ini saja” agar konsumen merasa harus segera membeli produk tersebut.
Fenomena FOMO memberikan dampak besar terhadap perilaku konsumsi masyarakat saat ini. Banyak generasi muda menjadi lebih konsumtif dan sulit mengontrol pengeluaran karena terlalu sering mengikuti tren yang berubah dengan cepat. Bahkan, sebagian orang rela menggunakan layanan paylater demi membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Jika dilakukan terus-menerus, kondisi tersebut dapat menyebabkan masalah keuangan di masa depan.
Dalam teori mikroekonomi, konsumen seharusnya mampu mengambil keputusan secara rasional dengan mempertimbangkan manfaat dan kebutuhan. Namun, fenomena FOMO menunjukkan bahwa keputusan pembelian sering dipengaruhi oleh faktor emosional dan lingkungan sosial. Media sosial memiliki pengaruh besar dalam membentuk pola konsumsi masyarakat modern sehingga perilaku ekonomi tidak selalu didasarkan pada kebutuhan utama
Oleh karena itu, masyarakat perlu lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan mengelola keuangan. Konsumen harus mampu menentukan prioritas kebutuhan agar tidak mudah terpengaruh tren sesaat. Selain itu, penting juga untuk meningkatkan literasi keuangan sejak usia muda agar masyarakat dapat mengambil keputusan ekonomi yang lebih rasional dan bertanggung jawab.
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa fenomena Fear of Missing Out (FOMO) memiliki hubungan yang erat dengan mikroekonomi, terutama dalam perilaku konsumen. Media sosial menjadi faktor utama yang memengaruhi keputusan pembelian masyarakat modern. FOMO dapat memberikan dampak positif bagi aktivitas ekonomi dan dunia usaha, tetapi juga dapat menyebabkan perilaku konsumtif apabila tidak dikendalikan dengan baik. Oleh karena itu, masyarakat perlu lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan menentukan prioritas kebutuhan agar keputusan ekonomi yang diambil menjadi lebih rasional.
SUMBER
Boediono. Ekonomi Mikro. Yogyakarta: BPFE.
Mankiw, N. Gregory. Principles of Economics. USA: Cengage Learning.
Kotler, Philip. Manajemen Pemasaran. Jakarta: Erlangga.
Intan Lestari
NIM: 251010550041
Program Studi Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Pamulang



















