Ketahanan pangan tidak hanya bergantung pada hasil panen yang melimpah, tetapi juga pada kemampuan petani dalam menghadapi berbagai tantangan di lapangan. Mulai dari serangan hama tanaman hingga ancaman penyakit ternak, keduanya dapat berdampak langsung terhadap produktivitas dan kesejahteraan masyarakat.
Berangkat dari kondisi tersebut, Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKN-T) IPB University Desa Sendangwungu, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora, menyelenggarakan TANGKIS SEWU (Tangkal Penyakit Jamur, Wereng, dan Hama Tikus pada Tanaman) dan SIGAP SEWU (Sosialisasi dan Edukasi Pencegahan PMK) sebagai dua program yang saling melengkapi dalam mendukung sektor pertanian dan peternakan. Kedua program ini merupakan bagian dari gerakan SEWU, identitas program pemberdayaan yang diambil dari nama Desa Sendangwungu.
Menariknya, kedua kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari yang sama. Keputusan ini bukan tanpa alasan. Hasil observasi tim menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat Desa Sendangwungu berprofesi sebagai petani sekaligus peternak. Dengan menggabungkan kedua penyuluhan dalam satu hari, peserta dapat mengikuti seluruh materi tanpa harus meluangkan waktu pada hari yang berbeda.
Sebanyak 23 peserta yang mewakili berbagai kelompok tani mengikuti kegiatan yang terbagi ke dalam dua sesi. Tim KKN-T IPB University menggandeng Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Sendangwungu, Mas Dedi, dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.
Materi yang diberikan tidak hanya berupa paparan teori. Tim juga menghadirkan demonstrasi pembuatan pestisida nabati menggunakan bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar masyarakat, seperti daun pepaya. Pada sesi berikutnya, peserta diperkenalkan dengan ramuan tradisional berbahan alami, termasuk kunyit, sebagai alternatif untuk membantu menjaga kesehatan ternak dari ancaman Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
Berbeda dengan penyuluhan pada umumnya, seluruh materi disusun berdasarkan hasil kajian berbagai jurnal ilmiah. Pengetahuan tersebut kemudian disederhanakan ke dalam bahasa yang mudah dipahami masyarakat sehingga dapat langsung dipraktikkan dalam kegiatan bertani maupun beternak.
Agar pengetahuan yang telah diberikan tidak berhenti setelah kegiatan selesai, Tim KKN-T IPB University juga menyusun dan mencetak modul edukasi berukuran saku. Modul tersebut berisi ringkasan materi mengenai pembuatan pestisida nabati dan ramuan pencegahan PMK beserta langkah-langkah pembuatannya. Modul kemudian dibagikan kepada peserta sebagai bahan belajar yang dapat dibaca kembali maupun dibagikan kepada anggota kelompok tani lainnya.
Diskusi berlangsung aktif sepanjang kegiatan. Salah satu pertanyaan yang paling banyak diajukan peserta berkaitan dengan penyesuaian takaran pestisida apabila dibuat dalam jumlah yang lebih besar. Selain itu, peserta juga berdiskusi mengenai pengendalian hama tikus. Dalam sesi tersebut disepakati bahwa pengendalian akan lebih efektif apabila dilakukan secara bersama oleh seluruh petani karena hama dapat berpindah dari lahan yang belum menerapkan pengendalian.
Ketua Gapoktan Desa Sendangwungu, Mas Dedi, berharap para peserta yang mengikuti kegiatan ini dapat menjadi agent of change di kelompok tani masing-masing. Menurutnya, pengetahuan yang diperoleh selama penyuluhan diharapkan tidak hanya berhenti pada peserta yang hadir, tetapi juga dapat diteruskan kepada petani lainnya sehingga manfaat program dapat dirasakan lebih luas.
Meski demikian, pelaksanaan program juga menghadapi tantangan. Saat kegiatan berlangsung, Desa Sendangwungu sedang memasuki musim kemarau sehingga sebagian besar lahan belum memasuki masa tanam padi. Kondisi tersebut membuat pestisida nabati yang telah diperkenalkan belum dapat langsung diuji di lahan pertanian. Namun, tim berharap ilmu yang telah diperoleh masyarakat dapat diterapkan ketika musim tanam dimulai.
Melalui TANGKIS SEWU dan SIGAP SEWU, Tim KKN-T IPB University tidak hanya menghadirkan penyuluhan, tetapi juga berupaya menjembatani hasil-hasil penelitian di perguruan tinggi agar dapat diimplementasikan secara sederhana oleh masyarakat. Dengan dukungan modul cetak yang dapat dipelajari kembali, ilmu yang dibagikan diharapkan tidak berhenti pada satu hari pelaksanaan, tetapi terus dimanfaatkan sebagai bekal bagi petani dan peternak Desa Sendangwungu dalam menghadapi tantangan di lapangan.























