Penurunan angka kemiskinan Indonesia menjadi 8,25 persen (sekitar 23,36 juta jiwa) pada September 2025 tentu menjadi kabar baik. Namun, angka tersebut mengingatkan kita bahwa jutaan warga masih bergantung pada bantuan sosial (bansos). Bansos memang krusial sebagai bantalan ekonomi darurat, tetapi tidak boleh dijadikan solusi tunggal. Kemiskinan bukan sekadar soal rendahnya pendapatan, melainkan akumulasi dari keterbatasan akses pendidikan, kesehatan, hingga kesempatan kerja. Sudah saatnya pendekatan kesejahteraan sosial bergeser: dari sekadar memberi bantuan menuju pemberdayaan yang berkelanjutan.
Perencanaan kesejahteraan sosial harus dimulai dari pemetaan masalah yang presisi. Kebutuhan tiap keluarga miskin berbeda-beda ada yang membutuhkan bantuan pangan darurat, dukungan biaya sekolah, hingga modal usaha. Tanpa data akurat dan observasi lapangan, program yang dirancang berisiko salah sasaran dan hanya bagus di atas kertas.
Bansos sifatnya protektif, sementara pemberdayaan sifatnya transformatif. Pelatihan keterampilan atau pendampingan usaha mikro tidak boleh berhenti pada penyerahan sertifikat atau materi kelas. Perencana program wajib membaca potensi ekonomi lokal, kebutuhan pasar, dan menyediakan pendampingan pascapelatihan. Tanpa ekosistem yang mendukung, keterampilan tersebut akan sia-sia dan tidak berdampak pada peningkatan pendapatan warga.
Program sosial kerap gagal karena menempatkan masyarakat hanya sebagai penerima pasif. Padahal, warga termasuk kelompok rentan seperti disabilitas, lansia, dan perempuan adalah pihak yang paling memahami dinamika lingkungan mereka. Pelibatan masyarakat melalui musyawarah warga dan forum dialog harus menjadi proses kolaboratif nyata, bukan sekadar formalitas birokrasi. Dalam hal ini, pekerja sosial berperan penting sebagai fasilitator yang menjembatani aspirasi warga dengan kebijakan pemerintah.
Keberhasilan program kesejahteraan sosial tidak boleh lagi diukur dari seberapa besar anggaran yang terserap atau berapa banyak paket bantuan yang dibagikan.
Indikator utamanya adalah perubahan hidup penerima manfaat: Apakah mereka berhasil mendapatkan pekerjaan? Apakah ekonomi keluarga mereka meningkat? Evaluasi berkala menjadi kunci agar program yang kurang efektif bisa segera diperbaiki.
Memerangi kemiskinan butuh napas panjang dan strategi terintegrasi. Bansos tetap diperlukan untuk menjaga daya beli hari ini, tetapi pemberdayaan adalah kunci utama agar masyarakat mandiri dan sejahtera di masa depan.
(Sumber Foto: https://pin.it/4qL9An6Ta)
Tulisan ini dipublikasikan untuk memenuhi tugas Ujian Tengah Semester (UTS) mata kuliah Praktek Perencanaan Kesejahteraan Sosial, Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial.
Nama: Nova Lestari
Dosen Pengampu: Dr. Hairani Siregar S.Sos., M.SP.
























