Bengkulu – Menjelang penghujung tahun, suasana haru dan penuh makna terasa di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Bengkulu. Dari balik jeruji besi, tiga orang warga binaan pemasyarakatan (WBP) berhasil mengkhatamkan Al-Qur’an, sebuah capaian spiritual yang menjadi refleksi sekaligus harapan baru dalam perjalanan hidup mereka, Kamis (18/12).
Salah satu di antaranya adalah DC (40), WBP kasus narkotika yang telah menjalani masa pidana selama tujuh tahun. Di tengah keterbatasan ruang dan waktu, DC menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat setia. Ketekunannya membuahkan hasil luar biasa, ia tercatat telah mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 10 kali selama menjalani pembinaan di dalam lapas.
“Al-Qur’an menjadi penguat hati dan pengingat untuk terus memperbaiki diri,” ungkap DC dengan mata berkaca-kaca. Baginya, setiap ayat yang dibaca bukan sekadar lantunan, melainkan doa dan harapan agar kelak dapat kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik.
Dua WBP lainnya juga merasakan makna mendalam dari proses khatam Al-Qur’an ini. Kegiatan pembinaan keagamaan yang rutin digelar Lapas Bengkulu menjadi ruang refleksi, pembelajaran, dan perenungan diri bagi para warga binaan, terutama menjelang akhir tahun.
Kepala Lapas Kelas IIA Bengkulu menyampaikan bahwa capaian ini merupakan bukti nyata bahwa pembinaan di dalam lapas tidak hanya berfokus pada aspek keamanan, tetapi juga pada pembinaan mental dan spiritual. “Kami berharap nilai-nilai yang mereka pelajari dapat menjadi bekal saat kembali ke tengah masyarakat,” ujarnya.
Di penghujung tahun ini, kisah tiga warga binaan tersebut menjadi pengingat bahwa perubahan selalu memiliki ruang, bahkan dari tempat yang paling terbatas sekalipun. Dari balik jeruji, cahaya Al-Qur’an terus menyala, menerangi langkah menuju masa depan yang lebih baik.

























