Bengkulu — Pemandangan berbeda tampak di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bengkulu setiap hari tepat pukul 10.00 WIB. Baik warga binaan, keluarga yang tengah melakukan kunjungan, maupun seluruh petugas tanpa terkecuali berdiri tegap untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Suasana ruang layanan kunjungan yang semula dipenuhi percakapan hangat mendadak hening, berubah menjadi momen penuh khidmat dan persatuan.
Kebijakan ini bukan sekadar rutinitas seremonial, melainkan bagian dari penguatan pembinaan kepribadian bagi warga binaan. Melalui penanaman disiplin, nasionalisme, dan penghormatan terhadap simbol negara, Lapas Bengkulu berupaya menciptakan lingkungan pembinaan yang lebih berkarakter serta berorientasi pada perubahan perilaku.
Program ini sejalan dengan Asta Cita Presiden, khususnya agenda peningkatan kualitas pendidikan dan karakter bangsa, termasuk penguatan reformasi sistem hukum yang berkeadilan. Dengan menghadirkan budaya hormat dan disiplin sejak dalam masa pembinaan, Lapas Bengkulu menempatkan proses pemasyarakatan sebagai bagian dari pembangunan manusia Indonesia yang berintegritas.
Selain itu, langkah ini turut mendukung arah 13 program akselerasi pemasyarakatan yang ditekankan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, di antaranya peningkatan tata tertib, pembinaan mental–spiritual, serta pelayanan publik yang lebih humanis. Keterlibatan keluarga dalam momen kebangsaan ini menjadi wujud pendekatan inklusif—bahwa pemulihan dan pembentukan kembali jati diri warga binaan tidak dilakukan sendirian, melainkan bersama lingkungan terdekat.
Dengan lantunan Indonesia Raya yang menggema setiap pagi, Lapas Bengkulu bukan hanya menjalankan tugas pembinaan, tetapi juga meneguhkan kembali semangat persatuan. Di balik tembok pemasyarakatan, nilai nasionalisme tumbuh pelan namun pasti, menjadi harapan baru bagi warga binaan untuk kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik, berdisiplin, dan mencintai negaranya.


























