Media sosial telah mengubah lanskap komunikasi publik secara drastis. Di tengah arus informasi yang cepat dan tidak selalu terverifikasi, muncul sosok-sosok yang memiliki pengaruh kuat terhadap opini publik: influencer. Mereka bukan tokoh negara atau pemegang kekuasaan formal, namun memiliki pengaruh luar biasa dalam membentuk cara berpikir, menilai, hingga bertindak para pengikutnya.
Namun, di balik besarnya pengaruh ini, muncul tanggung jawab moral yang tidak bisa diabaikan. Ketika opini publik terbentuk bukan lagi dari debat ilmiah atau kajian mendalam, tetapi dari narasi singkat, video singkat, dan opini personal influencer, maka peran mereka menjadi semakin strategis sekaligus sensitif.
Influencer: Antara Kredibilitas dan Popularitas
Influencer didefinisikan sebagai individu yang mampu memengaruhi perilaku dan keputusan audiens melalui platform digital, terutama media sosial (Binus, 2019). Mereka bisa berasal dari berbagai latar belakang—artis, aktivis, content creator, hingga akademisi—dan sering kali dijadikan rujukan oleh publik dalam melihat isu-isu terkini.
Namun tidak semua influencer mengedepankan akurasi dan tanggung jawab. Beberapa hanya mengejar keterlibatan (engagement), popularitas, atau keuntungan komersial, bahkan dengan menyebarkan informasi tidak akurat, provokatif, atau kontroversial demi viralitas. Ketika hal ini terjadi, kepercayaan publik bisa dimanipulasi untuk kepentingan sempit yang merugikan masyarakat (Fadillah, 2023).
Pengaruh Nyata dalam Pembentukan Persepsi Publik
Penelitian yang dilakukan oleh Karwur dan Wuntu (2022) menunjukkan bahwa opini publik saat ini sangat mudah dibentuk oleh informasi di media sosial, terutama jika berasal dari figur yang sudah memiliki kedekatan psikologis dengan pengikutnya. Dalam banyak kasus, publik tidak lagi melakukan pengecekan fakta karena percaya sepenuhnya pada tokoh yang mereka ikuti.
Hal ini menjadi sangat krusial ketika influencer menyampaikan opini mengenai isu-isu sosial, politik, kesehatan, atau ekonomi. Pendapat mereka dapat menciptakan bias, memengaruhi sentimen publik, bahkan mengarahkan perilaku massa dalam skala besar. Fenomena ini menunjukkan bahwa tanggung jawab moral influencer setara dengan jurnalis atau tokoh publik lainnya.
Etika Digital dan Tanggung Jawab Moral
Seorang influencer seharusnya menyadari bahwa setiap unggahan dapat membentuk opini, menggerakkan massa, bahkan memicu konflik. Oleh karena itu, etika digital harus menjadi prinsip utama dalam aktivitas mereka. Etika ini mencakup kejujuran dalam menyampaikan informasi, transparansi saat bekerja sama dengan pihak komersial, serta kesediaan untuk mengoreksi informasi yang salah (Saputra, 2024).
Influencer juga harus memilah antara konten pribadi dan isu publik. Ketika membahas hal yang berdampak luas, mereka perlu mengacu pada data, menjaga netralitas, dan memberi ruang diskusi yang sehat. Tanggung jawab moral bukan sekadar pada apa yang dikatakan, tetapi juga pada akibat dari apa yang ditularkan.
Mengedukasi Bukan Sekadar Menghibur
Dalam dunia yang dipenuhi distraksi, kemampuan untuk menyampaikan pesan yang menarik sekaligus mencerahkan adalah keunggulan tersendiri. Influencer yang baik tidak hanya menjadi pusat perhatian, tetapi juga sumber inspirasi dan pembelajaran. Dengan pendekatan kreatif, mereka dapat menyampaikan edukasi tentang literasi digital, keuangan, kesehatan mental, hingga toleransi antarumat beragama.
Sebaliknya, ketika pengaruh yang mereka miliki disalahgunakan untuk menyebarkan hoaks, kebencian, atau gaya hidup berlebihan, maka yang terjadi bukan pemberdayaan, melainkan pembodohan publik secara sistematis.
Perlu Regulasi dan Kesadaran Bersama
Di tengah berkembangnya peran influencer, pemerintah dan platform digital juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan ekosistem yang sehat. Regulasi mengenai promosi, transparansi iklan, dan penyebaran informasi publik harus ditegakkan. Selain itu, masyarakat juga perlu lebih kritis dalam memilih sumber informasi.
Penelitian di ResearchGate (2024) menegaskan bahwa literasi digital publik masih rendah, sehingga keberadaan influencer justru bisa menjadi pedang bermata dua. Maka, membangun budaya digital yang sehat memerlukan sinergi: influencer yang bertanggung jawab, regulasi yang jelas, dan masyarakat yang cerdas.
Kesimpulan
Influencer bukan sekadar ikon media sosial, tetapi aktor penting dalam pembentukan opini publik. Di tengah derasnya arus informasi dan minimnya verifikasi, pengaruh mereka semakin besar. Namun, kekuatan tersebut harus diimbangi dengan kesadaran moral yang tinggi. Karena dalam setiap kata yang mereka sampaikan, terdapat kekuatan untuk membangun—atau justru menghancurkan—cara berpikir masyarakat luas.
Penulis: Enjelin Amanda Dewi
Sumber gambar: istockphoto.com