Notifikasi tak henti berdenting, lima akun media sosial aktif, ratusan pesan tak terbaca, dan harus login ke berbagai platform kerja atau kampus—semuanya dalam satu hari. Di balik kemudahan era digital, muncul realita baru yang perlahan membebani: digital clutter atau kekacauan digital.
Akun Kedua dan Ruang Pribadi yang Semu
Fenomena seperti second account alias akun alternatif menjadi salah satu bentuk pelarian dari tekanan sosial media utama. Dilansir dari ITS (2024), banyak orang—khususnya remaja dan mahasiswa—membuat akun kedua sebagai “ruang aman” untuk mengekspresikan diri tanpa tekanan citra publik. Namun, solusi ini justru menambah beban: harus membagi perhatian, menjaga dua identitas digital, dan tetap aktif di keduanya.
Begitu juga menurut MNP (2024), second account menjadi tempat “bernafas” dari tuntutan dunia digital. Tapi ironisnya, keberadaan akun ganda justru memperbesar konsumsi digital yang pada akhirnya menciptakan tumpukan informasi dan notifikasi yang tak pernah benar-benar selesai.
Ketika Produktivitas Terganggu oleh Terlalu Banyak Platform
Dalam jurnal IAPA (2024), disebutkan bahwa fragmentasi digital—yakni penggunaan banyak aplikasi dan platform sekaligus—berkontribusi terhadap stres kognitif. Individu menjadi mudah terdistraksi, sulit fokus, dan merasa terus kejar-kejaran dengan informasi yang datang dari berbagai arah. Ini bukan hanya berdampak pada produktivitas, tapi juga pada keseimbangan mental.
Notifikasi yang terlihat sepele ternyata bisa memecah konsentrasi, memicu kecemasan, bahkan membuat seseorang merasa bersalah ketika tidak segera merespon. Maka tak heran, banyak orang mengalami kelelahan digital meski “hanya” berada di depan layar.
Digital Clutter: Sampah Tak Kasat Mata di Dunia Maya
Menurut artikel dari Primacom (2024), digital clutter merujuk pada penumpukan konten, notifikasi, dan informasi yang tidak lagi relevan namun terus mengganggu. Sama seperti kamar yang berantakan, kekacauan digital juga bisa membuat pikiran terasa penuh, cemas, dan tidak tenang.
Ironisnya, semakin kita mencoba tetap “update”, semakin banyak pula beban informasi yang harus ditanggung. Di sinilah pentingnya kesadaran untuk melakukan digital decluttering: menyortir notifikasi, menonaktifkan akun yang tidak digunakan, dan memberi jeda dari dunia maya.
Kesimpulan
Digitalisasi memang mempermudah hidup, tapi tanpa kendali yang sehat, ia bisa menjadi sumber stres baru. Fenomena digital clutter menunjukkan bahwa terhubung terus-menerus bukan jaminan kita benar-benar terkoneksi—baik dengan diri sendiri maupun dengan orang lain.
Sudah saatnya kita menata kembali ruang digital kita sebagaimana kita merapikan kamar: hanya simpan yang penting, buang yang mengganggu. Karena dalam hidup yang semakin online, kita tetap butuh ruang untuk bernapas—secara mental, bukan hanya digital.
Penulis: Enjelin Amanda Dewi
Sumber gambar: canva.com