Pelataran, Mojokerto, (12/1/2026) – Perubahan sering kali tidak lahir dari gebrakan besar, melainkan dari kesadaran kolektif yang tumbuh perlahan di tengah kehidupan sehari-hari masyarakat. Di Desa Mojokembang, sebuah desa dengan aktivitas rumah tangga dan pertanian yang padat, persoalan sampah organik selama bertahun-tahun menjadi bagian dari rutinitas yang nyaris tak dipertanyakan. Sisa dapur, limbah sayuran, dan dedaunan kebun terus bertambah setiap hari, sementara sistem pengelolaan yang memadai belum sepenuhnya tersedia untuk menanganinya.
Data lapangan menunjukkan bahwa sekitar enam puluh hingga tujuh puluh persen sampah rumah tangga di desa ini didominasi oleh sampah organik. Sayangnya, ketiadaan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu membuat sebagian besar limbah tersebut berakhir di tempat pembuangan akhir atau dibiarkan menumpuk di lingkungan sekitar permukiman. Kondisi ini tidak hanya menimbulkan persoalan kebersihan dan kesehatan, tetapi juga memperpanjang rantai masalah lingkungan yang selama ini luput dari perhatian serius.
Di sisi lain, masyarakat Mojokembang, khususnya petani dan ibu rumah tangga, masih bergantung pada pupuk kimia untuk menunjang aktivitas pertanian dan kebun rumah. Ketergantungan ini membawa konsekuensi ekonomi yang tidak kecil, mengingat harga pupuk kimia yang terus meningkat dan dampak jangka panjangnya terhadap struktur serta kesuburan tanah. Dalam jangka panjang, pola tersebut berpotensi mengikis daya dukung lahan pertanian yang menjadi tulang punggung penghidupan warga.
Berangkat dari kondisi tersebut, sebuah pendekatan berbasis teknologi tepat guna mulai diperkenalkan sebagai alternatif yang lebih berkelanjutan. Melalui penerapan komposter aerob berbasis monitoring suhu, Desa Mojokembang perlahan membangun sistem pengolahan sampah organik yang tidak hanya praktis, tetapi juga memiliki nilai tambah ekonomi. Inisiatif ini menyasar kelompok masyarakat produktif seperti UMKM dan PKK, sekaligus melibatkan warga non-produktif agar tercipta ekosistem pengelolaan sampah yang inklusif dan partisipatif.
Tahap awal kegiatan difokuskan pada persiapan alat, yakni memodifikasi drum plastik HDPE berkapasitas seratus liter menjadi komposter aerob. Drum tersebut dirancang dengan sistem ventilasi berupa pipa penyangga yang memungkinkan sirkulasi udara berjalan optimal, sehingga proses dekomposisi berlangsung secara aerobik. Desain ini dipilih untuk mempercepat pembusukan bahan organik sekaligus meminimalkan bau yang kerap menjadi keluhan utama dalam pengomposan tradisional.

Inovasi utama terletak pada integrasi sistem monitoring suhu yang dipasang pada komposter. Sensor ini berfungsi untuk memastikan proses penguraian berlangsung pada kisaran suhu ideal, yakni antara tiga puluh hingga empat puluh derajat Celsius. Pengendalian suhu menjadi aspek krusial karena panas berlebih, khususnya di atas enam puluh derajat Celsius, dapat menghambat kerja mikroorganisme dan menurunkan kualitas kompos. Melalui pemantauan suhu secara berkala, masyarakat diajarkan melakukan teknik penganginan atau pembalikan bahan secara tepat waktu untuk menjaga stabilitas proses.
Selain penguasaan teknologi, program ini juga menekankan transfer pengetahuan teknis yang mendasar namun sering terabaikan. Warga dibekali pemahaman mengenai rasio karbon dan nitrogen, pengelolaan kelembaban, pengukuran pH, serta pemanfaatan decomposer lokal yang mudah diperoleh. Pendekatan ini bertujuan agar proses pengomposan tidak lagi bersifat coba-coba, melainkan berbasis prinsip ilmiah sederhana yang dapat diterapkan secara konsisten.
Hasil dari penerapan teknologi ini mulai terlihat dalam waktu relatif singkat. Limbah organik rumah tangga yang sebelumnya menjadi beban kini bertransformasi menjadi pupuk organik padat yang siap digunakan, serta pupuk cair organik atau lindi yang memiliki nilai guna tinggi bagi tanaman. Produk-produk ini tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan sendiri, tetapi juga berpotensi dikembangkan sebagai komoditas bernilai jual.
Untuk memperkuat aspek keberlanjutan ekonomi, pendampingan manajemen turut diberikan kepada kelompok sasaran. Masyarakat dilatih menghitung Harga Pokok Penjualan secara sederhana, memahami dasar penentuan harga, hingga memanfaatkan pemasaran digital melalui platform seperti WhatsApp Business dan Instagram. Dengan pendekatan ini, pengelolaan sampah tidak lagi dipandang sebagai aktivitas sosial semata, melainkan sebagai peluang usaha berbasis lingkungan.
Dari sisi lingkungan, dampak program ini tercermin pada penurunan volume sampah organik yang dibuang ke tempat pembuangan akhir. Evaluasi dilakukan melalui pengukuran jumlah kompos yang dihasilkan serta estimasi pengurangan beban sampah harian. Secara bertahap, desa mulai membangun budaya baru dalam memandang sampah sebagai sumber daya yang dapat diolah dan dimanfaatkan.
Lebih jauh, keberlanjutan program dijaga melalui pembentukan Gugus Tugas Komposting tingkat desa yang bertanggung jawab atas operasional harian alat dan penerapan standar operasional prosedur. Langkah ini memastikan bahwa komposter aerob tidak berhenti berfungsi setelah program pendampingan selesai, melainkan menjadi bagian dari sistem pengelolaan lingkungan desa yang berkelanjutan.
Apa yang dilakukan Desa Mojokembang menunjukkan bahwa solusi atas persoalan sampah tidak selalu harus kompleks atau mahal. Dengan teknologi yang tepat, pendampingan yang terstruktur, dan keterlibatan aktif masyarakat, limbah organik dapat diubah menjadi sumber daya yang mendukung ekonomi, memperbaiki lingkungan, dan memperkuat kemandirian desa. Sebuah langkah kecil dari drum plastik dan sensor suhu, namun berpotensi membawa perubahan besar bagi masa depan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
==================
Berita Ini Ditulis Oleh
Pungky Ayu Lusumaning Betari
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik
Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya






















