SUKOHARJO – Setelah merampungkan rangkaian lokakarya dasar selama beberapa bulan terakhir, program pemberdayaan seni inklusif yang digagas oleh Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia kini resmi memasuki tahapan krusial. Sebanyak 50 peserta yang terdiri dari anak-anak, remaja, dan sahabat penyandang disabilitas mulai menjalani “Latihan Intensif Pementasan Kolaboratif – Pertemuan I” pada Sabtu (14/3/2026) di Sanggar Inklusi Permata Hati, Kecamatan Polokarto.
Kegiatan yang merupakan bagian dari Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025 ini berfokus pada sinkronisasi seluruh elemen yang telah dipelajari peserta pada fase sebelumnya. Untuk pertama kalinya, naskah cerita, properti topeng berbahan limbah kertas, dan dasar penguasaan panggung digabungkan menjadi satu kesatuan alur pertunjukan.
Ketua Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia, Fadhel Moubharok Ibni Faisal, menegaskan bahwa fase latihan ini merupakan transisi penting dari proses belajar menuju proses berkarya.
“Sanggar Inklusi Permata Hati hari ini menjadi saksi proses penyatuan seluruh elemen yang telah kita bangun. Naskah fabel ekologi sudah jadi, topeng limbah kertas sudah siap, dan dasar gerak tubuh sudah dikuasai. Latihan perdana ini bertujuan merajut kepingan-kepingan tersebut menjadi satu kesatuan harmoni panggung yang utuh dan setara,” jelas Fadhel Moubharok Ibni Faisal.
Sesi penyutradaraan dan pengarahan gerak dipandu secara langsung oleh praktisi seni, Rus Hardjanto atau yang akrab disapa Ki Jantit Sanakala. Pada pertemuan pertama ini, fokus utama latihan diletakkan pada pembagian area panggung (bloking) dan penguasaan ruang imajiner. Peserta mulai memetakan area masuk, titik fokus, hingga area keluar panggung sesuai dengan kelompok karakter hewan yang mereka perankan.
Pendekatan penyutradaraan dilakukan secara sangat adaptif. Ki Jantit Sanakala merancang rute pergerakan khusus bagi sahabat disabilitas yang menggunakan alat bantu gerak, memastikan mereka dapat mengeksplorasi panggung dengan aman dan leluasa. Dalam ekosistem teater ini, tidak ada satu pun peserta yang diposisikan hanya sebagai pelengkap atau latar belakang adegan.
Selain penguasaan panggung, para peserta juga mulai berlatih mengenakan properti Topeng Wayang Limbah Kertas hasil karya mereka sendiri. Penggunaan topeng ini memberikan tantangan baru terkait penyesuaian sirkulasi pernapasan dan penyampaian emosi. Para aktor muda ini dilatih untuk menghidupkan karakter satwa penjaga hutan melalui intonasi suara dan gestur non-verbal, terutama saat memeragakan transisi dari adegan hutan yang damai menuju adegan datangnya ancaman polusi lingkungan.
Latihan perdana ini berjalan dengan sangat kondusif dan diwarnai oleh semangat solidaritas yang tinggi. Para peserta reguler dan penyandang disabilitas terlihat organik saling membantu mengingat posisi serta memberikan isyarat gerak satu sama lain. Keberhasilan sinkronisasi awal ini menjadi fondasi yang kuat bagi tim produksi untuk melangkah ke tahapan latihan selanjutnya, guna menyongsong pergelaran agung yang dijadwalkan pada Mei 2026 mendatang.

























