TIMIKA — Isu lingkungan dan ancaman sampah tekstil ternyata bisa dikemas secara menarik tanpa kehilangan esensinya yang kritis. Hal ini terbukti dalam acara Layar Tancap film Menolak Punah yang digelar di Easy Coffee & Eatery, Timika.
Puluhan anak muda berkumpul untuk menonton, berdiskusi, sekaligus menikmati panggung komedi.
Melalui dokumenter Menolak Punah, para peserta diajak melihat bagaimana gaya hidup serba cepat—seperti kebiasaan membeli baju baru demi dresscode acara—turut menyumbang tumpukan sampah yang sulit terurai di alam serta melepaskan partikel mikroplastik berbahaya ke tubuh manusia.
Ewing Said, perwakilan dari komunitas Stand Up Comedy Timika, memberikan apresiasi besar terhadap pergerakan ini.
“Anak muda, khususnya Gen Z di Timika, sekarang sudah mulai sangat aktif dalam mengikuti giat-giat positif. Ini sinyal bagus bahwa kita tidak cuek dengan isu sosial dan lingkungan. Harapannya, mereka dapat terus konsisten mengikuti giat positif selanjutnya,” ungkap Ewing.
Kesadaran ini disambut baik oleh Dina Rezky, Founder Singgah Baca. Menurutnya, respons aktif dari para pemuda membuktikan bahwa ruang diskusi seperti ini sangat dinantikan.
“Persoalan lingkungan ini nyata. Melalui Layar Tancap ini, kita ingin membangun pemahaman kolektif agar persoalan yang selama ini tidak terlihat bisa mulai dibicarakan bersama oleh generasi muda,” tutur Dina.
Sementara itu, Founder Eastworks Creative Agency, Eko Setiawan, menambahkan bahwa keterlibatan anak muda menjadi kunci keberhasilan acara yang dihadiri sekitar 35 orang ini.
“Sinergi antara agensi kreatif, komunitas literasi, dan komunitas komedi terbukti mampu menciptakan ekosistem pergerakan yang organik dan berdampak bagi kesadaran kolektif anak muda di daerah,” kata Eko.





















