Khartoum — Krisis kemanusiaan yang terjadi di Sudan kian memburuk, dengan lonjakan kemiskinan, kelaparan, dan peningkatan kekerasan terhadap perempuan di banyak daerah yang terdampak konflik antara Angkatan Bersenjata Sudan dan kelompok Rapid Support Forces (RSF).
Menurut laporan dari lembaga bantuan internasional, jutaan warga sipil kini terpaksa hidup tanpa akses kepada makanan yang cukup. Gangguan dalam distribusi bantuan, kenaikan harga bahan pokok, dan rusaknya infrastruktur membuat banyak keluarga hanya sanggup makan sehari sekali. Ribuan anak dilaporkan mengalami malnutrisi parah akibat kurangnya gizi yang memadai.

Di samping kelaparan, insiden kekerasan terhadap perempuan telah meningkat secara signifikan sejak pecahnya konflik. Organisasi hak asasi manusia menemukan banyak laporan tentang pemerkosaan, pelecehan seksual, serta penculikan yang dilakukan oleh kelompok bersenjata di daerah-daerah yang dikuasai milisi. Tindakan kekerasan seksual diduga digunakan sebagai metode intimidasi dan teror terhadap masyarakat sipil.
Situasi ini semakin diperburuk oleh keterbatasan fasilitas kesehatan dan layanan bantuan bagi korban, karena banyak rumah sakit, pusat bantuan, dan jaringan perlindungan sosial tidak dapat beroperasi secara optimal akibat adanya perang.
Di sisi lain, upaya untuk mendistribusikan bantuan internasional terus terhalang oleh blokade, pertempuran, dan ancaman terhadap para pekerja kemanusiaan. Beberapa organisasi memperingatkan bahwa Sudan menghadapi kemungkinan kelaparan massal jika jalur manusiawi tidak segera dibuka.
Komunitas internasional menyerukan gencatan senjata dan negosiasi yang damai agar bantuan dapat menjangkau masyarakat yang paling rentan. Namun hingga saat ini, tidak ada indikasi bahwa konflik di lapangan akan mereda.
DITULIS OLEH:NURSYACA ATINASARI


























