Di era 4.0, teknologi sangat berkembang pesat. Perkembangan teknologi telah membuka peluang besar terutama bagi perguruan tinggi untuk menerapkan pembelajaran daring secara luas. Meskipun pembelajaran daring memberikan fleksibilitas dalam hal waktu dan tempat belajar, namun dapat menimbulkan dampak buruk terutama dalam kesehatan mental. Banyak mahasiswa yang awalnya merasa pembelajaran daring lebih praktis, justru mengalami tekanan psikologis seperti tekanan mental, kecemasan, dan stres akademik seiring berjalannya waktu.
Salah satu faktor yang paling sering muncul adalah rasa isolasi sosial. Hal tersebut terjadi karena kurangnya kesempatan untuk berdiskusi atau berinteraksi secara langsung, bertatap muka, atau sekedar bertemu teman sekelas. Dalam sebuah survei kesehatan mental mahasiswa tahun 2023, ditemukan bahwa lebih dari 40% responden merasa kesepian selama kuliah daring, meskipun mereka tetap aktif mengikuti kelas melalui platform digital. Selain itu, beban tugas yang meningkat membuat mahasiswa lebih mudah mengalami stres. Banyak dosen menganggap pembelajaran daring harus diimbangi dengan lebih banyak penugasan agar kompetensi tetap tercapai. Namun, sistem ini justru membuat mahasiswa kewalahan, terutama ketika harus mengatur waktu antara kuliah, tugas, dan kehidupan pribadi secara bersamaan dalam satu ruang yang sama.
Masalah lain yang cukup dominan adalah kelelahan digital (digital fatigue). Mahasiswa harus menatap layar dalam durasi panjang untuk mengikuti kuliah, membaca materi, menyelesaikan tugas, hingga berkomunikasi. Paparan perangkat digital tanpa jeda membuat tubuh dan pikiran cepat lelah. Banyak mahasiswa mengalami kelelahan digital sedang hingga tinggi, yang ditandai dengan sakit kepala, sulit fokus, dan berkurangnya kemampuan memahami materi. Selain itu pembelajaran daring juga memperburuk kualitas manajemen waktu bagi sebagian mahasiswa. Tanpa rutinitas fisik seperti pergi ke kampus, menyebabkan aktivitas akademik dan kehidupan pribadi mahasiswa menjadi tidak teratur. Akibatnya, pola tidur yang berantakan, muncul kebiasaan menunda pekerjaan, dan meningkatnya kecemasan. Fenomena ini sejalan dengan temuan beberapa penelitian pasca-pandemi, yang menyebutkan bahwa mahasiswa cenderung mengalami gangguan tidur dan disorganisasi waktu akibat terlalu lama berada di lingkungan belajar yang tidak berubah.
Namun, tidak sepenuhnya pembelajaran daring memiliki dampak negatif dan merugikan. Dengan strategi yang tepat, mahasiswa dapat mengurangi tekanan psikologis yang muncul. Misalnya, dengan membuat jadwal belajar yang terstruktur, mengambil jeda layar secara berkala, tetap berkomunikasi dengan teman melalui diskusi daring, serta mencari bantuan konseling kampus jika diperlukan. Beberapa kampus di Indonesia kini juga mulai menyediakan layanan konseling online sebagai bentuk dukungan kesehatan mental bagi mahasiswa. Pembelajaran daring membawa perubahan besar dalam pengalaman belajar mahasiswa, memberikan kemudahan, sekaligus tantangan baru terutama dalam aspek kesehatan mental. Kesadaran akan dampak-dampak ini penting agar mahasiswa, dosen, dan institusi pendidikan dapat bersama-sama menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat, seimbang, dan manusiawi.
























