Kirim Press Release
Contact Us
  • Login
  • Register
Pelataran
Leaderboard Satu Rumah
  • Berita Utama
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Nasional
  • Properti
  • SBTV
  • Lainnya
    • Gaya Hidup
    • Teknologi
    • Otomotif
    • English
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Pariwisata
    • Pendidikan
    • Product Review
    • Sorot
    • Sport
    • Event
    • Opini
    • Profil
Pelataran
  • Berita Utama
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Nasional
  • Properti
  • SBTV
  • Lainnya
    • Gaya Hidup
    • Teknologi
    • Otomotif
    • English
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Pariwisata
    • Pendidikan
    • Product Review
    • Sorot
    • Sport
    • Event
    • Opini
    • Profil
No Result
View All Result
Pelataran
No Result
View All Result
Home Seni & Budaya

Budaya Lokal yang Terlupakan: Krisis Identitas di Kalangan Generasi Muda

Penulis: Enjelin Amanda Dewi

Enjelin Amanda Dewi by Enjelin Amanda Dewi
22 July 2025
in Seni & Budaya
A A
0
Budaya
857
SHARES
1.2k
VIEWS
Ada apa 1080 x 2787

Budaya Lokal yang Terlupakan: Krisis Identitas di Kalangan Generasi Muda

Budaya adalah jati diri sebuah bangsa. Ia tumbuh dari nilai-nilai leluhur, hidup dalam seni dan bahasa, serta diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Namun kini, budaya lokal Indonesia menghadapi tantangan serius: menurunnya kepedulian dari generasi muda. Di tengah gempuran budaya global dan pesatnya perkembangan teknologi, tradisi dan identitas lokal seakan tergeser dari ruang publik maupun ruang kesadaran.

Fenomena Kurangnya Kepedulian terhadap Budaya Lokal

Semakin banyak generasi muda yang merasa bahwa budaya tradisional adalah sesuatu yang kuno, membosankan, atau bahkan tidak relevan. Menurut penelitian Syahrir, Sulthan, dan Lasimpo (2022), kurangnya keterlibatan generasi muda dalam pelestarian budaya disebabkan oleh persepsi negatif terhadap nilai-nilai tradisional yang dianggap tidak sejalan dengan gaya hidup modern. Padahal, budaya lokal bukanlah hambatan, melainkan kekayaan yang membedakan Indonesia dari negara lain.

Sebuah laporan Kompas (2008) juga menunjukkan kekhawatiran serupa sejak beberapa dekade lalu, ketika kesenian daerah mulai kehilangan peminat, dan bahasa daerah mulai jarang digunakan di kalangan remaja. Fenomena ini semakin diperparah dengan dominasi media sosial yang lebih banyak menampilkan tren luar negeri daripada memperkenalkan kekayaan budaya lokal.

Generasi Z dan Mindset Global yang Serba Praktis

Generasi Z adalah generasi yang tumbuh di era internet, teknologi cepat, dan interaksi global. Dalam wawancara yang dirilis Universitas Airlangga (2023), banyak dari mereka mengaku lebih memilih budaya populer global karena dianggap lebih praktis, fleksibel, dan mudah diakses. Budaya lokal, yang sering kali dikemas dalam bentuk tradisional, upacara panjang, atau simbolik, tidak selalu sesuai dengan ritme cepat dan pola pikir instan generasi digital.

Namun, tantangan ini tidak bisa menjadi alasan untuk menyerah. Justru inilah saatnya kita berpikir ulang: bagaimana menghadirkan budaya lokal dalam format yang lebih relevan, adaptif, dan menarik bagi generasi muda.

Peran Pendidikan, Media, dan Komunitas Lokal

Salah satu solusi penting adalah memperkuat integrasi budaya lokal dalam pendidikan. Tidak cukup sekadar menyisipkan tarian daerah dalam pelajaran seni budaya. Sekolah harus menjadi ruang kreatif yang mampu membangun kebanggaan terhadap budaya sendiri—baik melalui kurikulum, proyek kolaboratif, maupun festival budaya yang digagas siswa.

Baca Juga

Sendratari Ramayana Purawisata (istimewa)

49 Tahun Ramayana Ballet Purawisata: Konsisten Jaga Warisan Budaya

31 July 2025
1000214257

Dari Beksi ke Gambang Kromong, Pilar Ajak Warga Tangsel Lestarikan Budaya Betawi

26 July 2025
vlcsnap 0415 07 30 15h47m26s805

KSI gelar Tema “Exquisite Indonesia”

6 July 2025
WhatsApp Image 2025 07 04 at 18.57.10

Urgensi Etnopedagogi di Era Modern: Merawat budaya di Tengah Derasnya Arus Globalisasi

4 July 2025

Media dan influencer lokal juga memiliki peran besar dalam membentuk persepsi. Ketika budaya lokal dikemas dengan cara yang segar, interaktif, dan sesuai bahasa visual anak muda, maka daya tariknya akan meningkat. Hal yang sama juga berlaku untuk komunitas lokal, yang bisa menjadi ruang nyata bagi generasi muda untuk mengalami budaya secara langsung, bukan hanya sebagai teori di buku pelajaran.

Budaya Bukan Milik Masa Lalu, Tapi Aset Masa Depan

Menjaga budaya lokal bukan berarti menolak kemajuan. Sebaliknya, inilah kesempatan untuk menyelaraskan antara warisan dan inovasi. Generasi muda tidak perlu memilih antara menjadi modern atau mencintai budaya—karena keduanya bisa berjalan beriringan. Melalui pendekatan kreatif seperti digitalisasi cerita rakyat, pengembangan UMKM berbasis budaya, hingga promosi wisata budaya lewat media sosial, nilai-nilai lokal bisa terus hidup dan berkembang dalam kerangka masa kini.

Leaderboard apa apa

Kesimpulan

Menurunnya kepedulian generasi muda terhadap budaya lokal adalah sinyal peringatan bagi masa depan identitas bangsa. Namun, ini bukan akhir—melainkan ajakan untuk beradaptasi dan membumikan kembali budaya dengan cara yang relevan. Budaya adalah sumber daya yang tak tergantikan, dan generasi muda adalah penjaga estafetnya. Jika tidak sekarang, kapan lagi? Jika bukan kita, siapa lagi?

Penulis: Enjelin Amanda Dewi

Sumber gambar: istockphoto.com

Share343Tweet214Share60Pin77SendShare
Leaderboard apa apa
Previous Post

Menteri Nusron Dampingi Presiden Prabowo Resmikan 80.000 Koperasi Desa Merah Putih

Next Post

Makan Bergizi Gratis yang Berujung Petaka: Refleksi Kritis atas Kasus Keracunan Makanan di NTT

Enjelin Amanda Dewi

Enjelin Amanda Dewi

Related Posts

Sendratari Ramayana Purawisata (istimewa)

49 Tahun Ramayana Ballet Purawisata: Konsisten Jaga Warisan Budaya

31 July 2025
1000214257

Dari Beksi ke Gambang Kromong, Pilar Ajak Warga Tangsel Lestarikan Budaya Betawi

26 July 2025
vlcsnap 0415 07 30 15h47m26s805

KSI gelar Tema “Exquisite Indonesia”

6 July 2025
WhatsApp Image 2025 07 04 at 18.57.10

Urgensi Etnopedagogi di Era Modern: Merawat budaya di Tengah Derasnya Arus Globalisasi

4 July 2025
Next Post
IMG 3517

Makan Bergizi Gratis yang Berujung Petaka: Refleksi Kritis atas Kasus Keracunan Makanan di NTT

1 1

Matrikulasi: Membangun Fondasi untuk Belajar Lebih Cepat di El Haqqa Qur'anic School

sIIs8qcw

Erwin Aksa Sosialisasikan Empat Pilar Kebangsaan

mobil listrik

Mobil Listrik Solusi Baru atau Ancaman Baru

WhatsApp Image 2025 07 22 at 08.45.47

Rupbasan Mojokerto Ikuti Kegiatan Pengawasan Kearsipan Metode Observasi Langsung Virtual

Please login to join discussion
Rumah Prabu Half Page
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Cyber
  • Syarat dan Ketentuan
  • Disclaimer
  • Mengapa Tulisan Belum Ditayangkan?
  • Contact Us

© 2023 Pelataran - Pres Rilis dan Berita

Welcome Back!

Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Sign Up with Google
OR

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Berita Utama
  • Ekonomi & Bisnis
  • Internasional
  • Nasional
  • Properti
  • SBTV
  • Lainnya
    • Gaya Hidup
    • Teknologi
    • Otomotif
    • English
    • Kesehatan
    • Kuliner
    • Pariwisata
    • Pendidikan
    • Product Review
    • Sorot
    • Sport
    • Event
    • Opini
    • Profil
  • Login
  • Sign Up

© 2023 Pelataran - Pres Rilis dan Berita