SUKOHARJO – Semarak menyambut bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah tidak hanya menjadi milik mereka yang hidup dalam kondisi ideal. Mengusung semangat dakwah yang merangkul tanpa batas, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Republik Indonesia berkolaborasi dengan mitra pelaksananya, Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia, baru saja merampungkan program pembinaan keagamaan inklusif berskala nasional. Kegiatan yang menggaungkan slogan “Pesantren Jalan Cahaya” ini merupakan manifestasi dari Program Pesantren Marjinal Cahaya Ramadhan 1447 H.
Pelaksanaan kegiatan yang berlangsung selama dua hari satu malam, tepatnya pada hari Sabtu hingga Ahad (28 Februari – 1 Maret 2026) tersebut, dipusatkan di Pendopo Balai Desa Jatisobo, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah. Suasana haru dan penuh kehangatan mewarnai seluruh rangkaian acara yang didesain khusus untuk memberikan ruang aman (safe space) dan pemulihan jiwa (spiritual healing) bagi kelompok yang selama ini kerap terpinggirkan dari akses pendidikan agama formal.
Secara spesifik, program ini menghadirkan 100 orang peserta yang merupakan representasi dari kelompok marjinal dan rentan di Kabupaten Sukoharjo. Ratusan peserta tersebut terdiri dari anak-anak, remaja, dan pemuda penyandang disabilitas—yang mencakup penyandang tuna rungu wicara, tuna grahita, dan tuna daksa. Selain itu, kegiatan ini juga memeluk erat para remaja yang berasal dari keluarga pra-sejahtera serta anak-anak yatim dhuafa yang membutuhkan dukungan moral dan spiritual menjelang ibadah puasa.
Staf Divisi Pendidikan dan Dakwah BAZNAS RI, Muhammad Syukron Amin, SH, yang hadir langsung untuk memonitor dan memastikan kelancaran program di lapangan, menyampaikan apresiasi mendalam atas terlaksananya kegiatan ini. Ia menegaskan bahwa program ini adalah bukti nyata kehadiran negara dan keumatan melalui instrumen zakat.
“Program dengan slogan Pesantren Jalan Cahaya ini merupakan manifestasi dari misi besar BAZNAS RI untuk memastikan distribusi kebaikan zakat benar-benar inklusif dan membumi. Dakwah tidak boleh elitis; ia harus menyentuh saudara-saudara kita yang disabilitas dan mereka yang berada di garis kerentanan sosial. Kami sangat takjub melihat dedikasi Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia yang mampu mengemas acara ini menjadi sangat humanis, ramah, dan penuh dengan pendekatan empati di Sukoharjo,” papar Muhammad Syukron Amin.
Di sisi lain, Ketua Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia, Fadhel Moubharok Ibni Faisal, menjelaskan bahwa keberhasilan acara ini terletak pada metode penyampaian yang telah disesuaikan dengan kondisi psikologis dan fisik para peserta. Pihaknya sengaja menghadirkan Juru Bahasa Isyarat (JBI) serta narasumber yang memahami psikologi anak muda.
“Kami menyadari bahwa 100 peserta yang hadir memiliki latar belakang luka batin atau krisis kepercayaan diri yang berbeda-beda. Oleh karena itu, pendekatan Pesantren Jalan Cahaya ini sama sekali tidak menggurui. Fokus kami adalah spiritual healing, bagaimana membuat mereka merasa dicintai oleh Sang Pencipta. Alhamdulillah, melihat tawa mereka pecah saat sesi materi, dan melihat mereka khusyuk saat qiyamullail meski dengan segala keterbatasannya, menjadi bukti bahwa ruang-ruang inklusif seperti ini harus terus kita perbanyak,” ungkap Fadhel Moubharok.
Pelaksanaan kegiatan ini tidak lepas dari dukungan penuh pemangku kebijakan lokal. Kepala Desa Jatisobo, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, Darmanto, menyatakan rasa bangganya karena wilayahnya dipercaya menjadi titik lokasi pelaksanaan program mulia ini.
“Pemerintah Desa Jatisobo menyambut dengan tangan terbuka dan mendukung penuh inisiatif BAZNAS RI serta Yayasan Kiblat Abinaya. Kehadiran Pesantren Jalan Cahaya di desa kami tidak hanya memberikan manfaat langsung bagi para peserta, tetapi juga mengedukasi warga kami tentang pentingnya kesetaraan, kepedulian sosial, dan bagaimana kita harus bersikap ramah terhadap teman-teman penyandang disabilitas,” tutur Darmanto.
Dampak nyata dari pendekatan inklusif ini langsung dirasakan oleh para peserta yang hadir. Diva Puspitasari, salah satu peserta Pesantren Marjinal Cahaya Ramadhan, tidak dapat menyembunyikan rasa syukurnya setelah mengikuti seluruh rangkaian acara.
“Aku awalnya merasa malu dan takut tidak bisa berbaur. Tapi ternyata di Pesantren Jalan Cahaya ini semua orang saling menghargai. Kakak-kakaknya baik banget, dan materinya bikin aku sadar kalau aku ini berharga di mata Allah. Sekarang aku jadi lebih semangat dan nggak sabar buat puasa Ramadhan,” ucap Wafa dengan wajah berbinar.
Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Inzun Dwi Nur Milasari, peserta lainnya yang mengaku sangat terbantu dengan adanya fasilitas pendukung selama penyampaian materi berlangsung.
“Materinya seru dan gampang dipahami karena ada kakak Juru Bahasa Isyarat yang bantu menerjemahkan. Aku jadi tahu banyak soal komitmen dan belajar buat nggak gampang menyerah sama keadaan. Lewat Pesantren Jalan Cahaya ini, aku janji mau jadi pribadi yang lebih rajin ibadah,” jelas Nadhifan.
Kegiatan yang sarat makna ini akhirnya ditutup dengan sesi penyusunan komitmen perubahan dari para peserta, pembacaan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat, serta prosesi penyerahan bantuan secara simbolis. BAZNAS RI memberikan santunan dukungan ibadah dan bingkisan Ramadhan kepada seluruh 100 penerima manfaat, sebagai bekal mereka menyongsong bulan suci dengan penuh kemandirian dan martabat.





















