Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus berada di bawah tekanan, bahkan sempat menyentuh level psikologis Rp17.500 per dolar AS dalam sepekan terakhir. Pergerakan ini turut menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melemah 3,53% dalam sepekan
Menanggapi kondisi tersebut, ekonom dari Center of Reform on Economics (Core), Yusuf Rendy Manilet,mengingatkan bahwa pelemahan rupiah mulai menimbulkan tekanan harga di lapangan, terutama pada sektor pangan impor, energi, dan biaya distribusi. “Meskipun inflasi saat ini masih relatif rendah, tekanan mulai terasa. Produsen masih mencoba menahan harga, tetapi jika kurs bertahan lemah, penyesuaian harga hampir tidak terhindarkan,” ujarnya .
Sementara itu, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Fakhrul Fulvian menilai bahwa Bank Indonesia menghadapi tantangan besar untuk menjaga stabilitas rupiah tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, pemerintah memilih untuk menahan harga BBM di tengah pelemahan rupiah, sebuah kebijakan yang dinilai melindungi daya beli masyarakat namun berisiko membebani APBN .
Di tengah tekanan ini, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih cukup resilien. DBS Research Group menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I-2026 mencapai 5,6% secara tahunan, meskipun proyeksi pertumbuhan setahun penuh perlu disesuaikan menjadi 5,1% untuk mengantisipasi risiko kenaikan harga energi global .
Kesimpulan: Pelemahan rupiah menjadi tantangan serius bagi stabilitas harga dan fiskal, namun fundamental ekonomi yang solid diharapkan mampu menjadi bantalan di tengah ketidakpastian global.
Di susun oleh: desi nurfujiah
Nim: 251010550857

















