SUKOHARJO – Menjelang Pergelaran Puncak yang tinggal menghitung hari, persiapan ke-50 peserta program pemberdayaan seni inklusif Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia memasuki tahap validasi akhir. Pada Sabtu (11/4/2026), anak-anak dan sahabat penyandang disabilitas ini sukses menggelar “Latihan Intensif Pementasan – Pertemuan V” dalam format Mini Perform (Uji Coba Pementasan) di hadapan audiens terbatas di Sanggar Kasih Sayang Bunda, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo.
Langkah ini menjadi soft-launching dari rangkaian Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025 sebelum karya mereka disajikan kepada ribuan pasang mata pada bulan Mei 2026 mendatang.
Ketua Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia, Fadhel Moubharok Ibni Faisal, menjelaskan bahwa menghadirkan penonton sungguhan—yang terdiri dari masyarakat sekitar sanggar dan perwakilan wali—bertujuan untuk menguji respons mental dan demam panggung (stage fright) para aktor.
“Setelah melalui Gladi Bersih, hari ini di Sanggar Kasih Sayang Bunda, kita menghadirkan penonton sungguhan dalam skala kecil. Tujuannya adalah untuk menguji respons mental anak-anak saat ditonton oleh publik di luar lingkaran produksi. Ini adalah momen pembuktian bahwa karya seni inklusif dan pesan ekologi yang mereka bawakan mampu tersampaikan dan diapresiasi oleh masyarakat,” ujar Fadhel Moubharok Ibni Faisal.
Di bawah pengawasan sutradara Rus Hardjanto (Ki Jantit Sanakala), pementasan fabel ekologi ini disajikan secara utuh menggunakan kostum dan properti Topeng Wayang Limbah Kertas. Kehadiran audiens ternyata sama sekali tidak menyurutkan konsentrasi para penampil. Sebaliknya, kawan-kawan penyandang disabilitas dan anak reguler justru merespons riuh penonton dengan energi dan antusiasme akting yang semakin memukau.
Pementasan uji coba ini diakhiri dengan tepuk tangan meriah dan sesi dialog interaktif bersama penonton. Beberapa perwakilan warga dan orang tua menyatakan rasa haru dan takjub melihat kemistri yang setara di atas panggung tanpa sekat keterbatasan. Pesan pelestarian lingkungan—dari kritik terhadap perusakan hutan hingga pentingnya mengelola limbah—berhasil ditangkap dengan sangat jelas oleh masyarakat awam yang hadir.
Keberhasilan Mini Perform ini menegaskan bahwa metode teater gerak dan penggunaan properti topeng daur ulang sangat komunikatif dan efektif. Secara teknis, kelayakan properti dan stamina peserta juga terbukti sangat stabil hingga akhir pertunjukan.
Dengan rampungnya sesi Latihan Intensif kelima ini, sutradara Ki Jantit Sanakala dan seluruh tim produksi Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia secara resmi menyatakan bahwa ke-50 aktor muda inklusif tersebut telah sepenuhnya siap beraksi menyuarakan penyelamatan bumi pada Pergelaran Puncak di bulan Mei 2026.

























