SUKOHARJO – Kesiapan artistik dan mental para peserta program pemberdayaan seni inklusif Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia telah mencapai titik maksimal. Sebanyak 50 pemeran yang terdiri dari anak-anak dan sahabat penyandang disabilitas sukses merampungkan “Latihan Intensif Pementasan – Pertemuan IV” yang berformat Gladi Bersih (Full Dress Rehearsal) pada Sabtu (4/4/2026) di Sanggar Seni Sidodadi, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo.
Gladi Bersih ini merupakan simulasi pamungkas dari rangkaian program yang didukung oleh Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025, sebelum seluruh tim menghadapi Pergelaran Puncak pada bulan Mei mendatang.
Ketua Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia, Fadhel Moubharok Ibni Faisal, mengapresiasi kerja keras dan dedikasi luar biasa dari seluruh elemen produksi yang terlibat, mulai dari peserta hingga para orang tua pendamping.
“Hari ini di Sanggar Seni Sidodadi, kita tidak lagi sekadar berlatih. Gladi Bersih adalah cerminan 100% dari apa yang akan kita tampilkan di pergelaran agung bulan Mei nanti. Segala elemen—mulai dari topeng limbah kertas, gestur tubuh, hingga iringan musik—harus menyatu. Anggaplah ruang ini sebagai panggung pementasan sesungguhnya, berikan penjiwaan terbaik kalian,” ujar Fadhel Moubharok Ibni Faisal dalam arahannya.
Di bawah supervisi ketat sutradara pertunjukan, Rus Hardjanto (Ki Jantit Sanakala), simulasi dijalankan layaknya standar produksi panggung profesional. Seluruh pemeran diwajibkan menggunakan kostum lengkap beserta properti Topeng Wayang Limbah Kertas. Selama pementasan berlangsung dari adegan pertama hingga usai, instruksi verbal dari tim sutradara ditiadakan sepenuhnya untuk menguji kemandirian peserta di atas panggung.
Hasilnya sangat memukau. Kawan-kawan disabilitas dan anak reguler mampu menunjukkan kemistri (chemistry) panggung yang luar biasa padu. Mereka saling mengisi ruang spasial tanpa saling menutupi (blocking) satu sama lain. Rasa canggung dan demam panggung yang sempat muncul pada awal-awal masa latihan telah sepenuhnya memudar, berganti menjadi kepercayaan diri kolektif yang kuat.
Selain pematangan adegan inti, Ki Jantit Sanakala juga memfokuskan sesi simulasi pada tata cara penghormatan akhir (curtain call). Sesi ini dirancang secara khusus untuk memastikan bahwa ke-50 aktor mendapatkan porsi spotlight yang setara sebagai bentuk apresiasi atas karya seni kolaboratif mereka.
Dari segi teknis, 50 unit properti topeng daur ulang karya peserta juga telah lulus uji kelayakan final. Tingkat visibilitas dan sirkulasi udara pada topeng terbukti sangat nyaman, sehingga para peserta tetap dapat bernapas dan bergerak secara dinamis tanpa kendala sepanjang durasi pertunjukan.
Kesuksesan Gladi Bersih ini menandai selesainya seluruh rangkaian latihan intensif. Dengan pencapaian artistik yang sangat memuaskan, ke-50 peserta kini berstatus siap tampil 100 persen untuk menyuarakan pesan pelestarian lingkungan dalam Pergelaran Puncak di bulan Mei 2026.























