SUKOHARJO – Tahapan produksi pementasan teater ekologi inklusif yang difasilitasi oleh Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia semakin mendekati titik puncak. Pada Sabtu (28/3/2026), sebanyak 50 peserta reguler dan penyandang disabilitas sukses menggelar “Latihan Intensif Pementasan – Pertemuan III” dalam format Gladi Kotor (Dry Run Rehearsal) di Sanggar Belajar Migunani, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo.
Kegiatan yang didukung oleh Program Pemanfaatan Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan Tahun 2025 ini menjadi ajang ujian mental dan kemandirian bagi para peserta. Berbeda dengan latihan-latihan sebelumnya, Gladi Kotor mensyaratkan pementasan berjalan secara utuh dari awal hingga akhir tanpa adanya jeda.
Ketua Yayasan Kiblat Abinaya Indonesia, Fadhel Moubharok Ibni Faisal, menegaskan bahwa fase simulasi ini sangat krusial untuk membangun kesiapan mental dan insting panggung para aktor muda.
“Hari ini di Sanggar Belajar Migunani, kita melaksanakan Gladi Kotor. Artinya, kita akan menyimulasikan pementasan dari detik pertama hingga curtain call (penghormatan akhir). Jika ada kesalahan di tengah adegan, peserta harus belajar berimprovisasi dan tetap berjalan, seperti layaknya pementasan sungguhan. Ini adalah ujian mental dan solidaritas bagi ekosistem inklusif yang telah kita bangun,” tegas Fadhel Moubharok Ibni Faisal.
Selama proses simulasi berlangsung, sutradara pertunjukan, Rus Hardjanto (Ki Jantit Sanakala), menerapkan aturan ketat berupa peniadaan instruksi atau interupsi lisan dari tim sutradara. Para peserta dituntut untuk mengingat sendiri alur naskah, mematuhi isyarat musik pendamping, serta mengeksekusi koreografi kelompok secara mandiri.
Pendekatan ini membuahkan hasil yang sangat positif. Dinamika panggung yang mempertemukan anak reguler dan sahabat penyandang disabilitas berjalan dengan sangat organik. Ketika terjadi insiden kecil—seperti properti topeng yang sedikit bergeser atau keterlambatan merespons isyarat masuk panggung—sistem saling mendampingi (buddy-system) antar peserta langsung bekerja secara natural tanpa merusak alur cerita pertunjukan.
Selain menguji kesiapan mental, Gladi Kotor ini juga dimanfaatkan oleh panitia untuk melakukan uji kelayakan akhir (quality control) terhadap properti Topeng Wayang Limbah Kertas. Hasilnya, 50 unit topeng karya para peserta tersebut terbukti tangguh dan tetap nyaman dikenakan meskipun terkena keringat serta gerakan dinamis selama durasi pementasan yang panjang.
Kesuksesan Gladi Kotor ini sekaligus memberikan gambaran durasi asli pementasan (real-time duration) yang akan mempermudah tim produksi merancang tata cahaya (lighting) dan manajemen acara. Dengan capaian kemandirian artistik yang luar biasa di tahap ini, seluruh tim semakin optimis menyambut agenda Gladi Bersih dan Pergelaran Puncak pada bulan Mei mendatang.

























