Pasti kalian para kaum wanita pernah merasakan tiba-tiba suasana hatimu berubah drastis tanpa adanya sebab yang jelas. Merasa tidak disayang dan tidak diingkan oleh pasangan kalian tanpa alasan yang jelas, tapi dalam beberapa saat merasa hal itu tidak benar. Hari ini merasa senang, besok merasa sedih. Situasi ini, dinamakan dengan Mood swing, yaitu keadaan dimana perubahan suasana hati yang berubah sangat drastis. Bagi wanita ini bukan sekadar emosi biasa, melainkan bisa dianggap sebagai gejala pra-menstruasi. Tapi tahukah kalian bahwa dalam situasi tersebut ada “pertarungan” yang mengesankan antara otak dan hormon. Mari kita bahas pertarungan ini. Siapakah yang menang?.
Dalam hal ini dimana hormon seperti estrogen dan progesteron berjuang melawan jaringan otak yang kompleks. Hormon estrogen memiliki hubungan erat dengan fase pra-menstruasi karena fluktasinya sangat memengaruhi suasana hati dan gejala fisik.Kadar estrogen naik di awal siklus, mencapai puncaknya saat ovulasi, lalu menurun drastis menjelang menstruasi, yang dapat memicu gejala PMS seperti perubahan suasana hati, masalah tidur, dan gejala fisik lainnya karena adanya ketidakseimbangan dengan progesteron dan pengaruhnya terhadap neurotransmitter seperti serotonin. Hormon progesteron sangat terkait dengan pra-menstruasi (PMS) karena perubahan kadarnya memicu gejala PMS. Pada tahap akhir siklus menstruasi, jika tidak terjadi kehamilan, kadar progesteron akan menurun drastis, yang kemudian memicu pelepasan lapisan rahim atau menstruasi. Penurunan progesteron ini adalah penyebab utama gejala fisik dan emosional seperti sakit kepala, kram perut, jerawat, kelelahan, dan perubahan suasana hati yang dialami wanita menjelang menstruasi.
Kita mulai dari otak, sebut sebagai “Pahlawan” yang harus menjaga keseimbangan emosi. Otak kita mempunyai bagian-bagian khusus, contohnya seperti amigdala yang memiliki tugas untuk mengindetifikasi ancaman dan emosi, dan juga prefontal cortex yang membantu untuk berfikir bijaksana atau rasional dan mengontrol impuls. Terkadang, hormon-hormon tersebut berinteraksi dengan neurotransmitter seperti serotonin, yang bertanggung jawab atas rasa bahagia dan ketenangan. Menurut penelitian Steiner et al. (2020) dalam Journal of Women’s Health, fluktuasi hormonal selama fase luteal siklus menstruasi mengganggu produksi serotonin, sehingga otak kehilangan sumber energinya. Hal ini menyebabkan respons emosional menjadi lebih intens, di mana masalah kecil pun dapat memicu kemarahan atau kesedihan yang berlebihan.
Teknik neuroimaging seperti fMRI, sebagaimana digunakan oleh Dubol et al., mengungkap upaya otak untuk mempertahankan stabilitas di tengah perubahan tersebut.(2021) di Frontiers in Psychiatry, Menunjukan bahwa wanita mengalami PMDD (Premenstrua dysphoric disorder), amigdala yang menjadi overaktif.Ini seperti otak yang stuck terus di mode waspada, jadi tiap stimulasi kecil aja terasa sebagai sebuah ancaman besar. Sementara itu, konektivitas antara jaringan emosi terganggu, seperti yang dijelaskan Liu dkk, mengurangi kontrol prefrontal. Otak berusaha beradaptasi, tapi hormon sudah lebih dulu menyerang. Di sini, otak terlihat seperti pihak yang “kalah” karena ia bereaksi terhadap perintah hormon, bukan sebaliknya.
Sekarang, mari kita lihat hormon dan lihat “penyerang” yang kuat dan tidak terlihat. Hormon merupakan bagian dari siklus wanita; mereka bukan musuh jahat.Tapi aktivitasnya bisa bikin badai di otak. Contohnya allopregnanolone, hasil olahan progesteron yang langsung nyalain reseptor GABA di kepala. Dalam Psychoneuroendocrinology, Klatzkin dkk. (2019) menjelaskan bagaimana hal ini menyebabkan inhibisi, seperti REM yang sangat kuat, sehingga emosi tidak tertekan. Hormon “menang” karena mereka menyebabkan reaksi: estrogen menyebabkan produksi steroid neuroaktif, yang kemudian menyebabkan perubahan kimia otak, seperti yang dijelaskan oleh Bäckström dkk. (2018) dalam Frontiers in Neuroscience Seluler. Hal ini serupa dengan hormon yang mengubah saluran emosi tanpa ampun dan kendali jarak jauh.
Jadi siapa yang menang dalam pertarungan ini? Jika kita melihat data penelitian, hormon seringkali mendominasi. Mereka melihat perubahan biologis yang secara langsung memengaruhi otak dan menyebabkan perubahan pada hati yang tidak dapat dibalikkan. Namun, otak memiliki kemampuan untuk beradaptasi melalui neuroplastisitas. Otak dapat “membalas dendam” dan menyeimbangkan diri dengan intervensi seperti terapi obat (seperti SSRI untuk meningkatkan serotonin) atau gaya hidup sehat. Ini bukan tentang fokus pada satu aspek saja; melainkan tentang memahami bagaimana keduanya terkait dengan gejala neurologis. Bagi mereka yang mengalami hal ini, pengetahuan ini dapat menjadi panduan untuk menangani gejala daripada fokus pada “mood buruk.”
Kesimpulannya, cerita ini mengajarkan kita bahwa sistem tubuh wanita adalah sistem yang netral, di mana hormon dan otak bekerja sama kadang-kadang saling bertentangan. Kita dapat menjadikan pertentangan ini harmonis dengan menggunakan risalah ini. Jika Anda mengalami perubahan mood semacam ini, hal itu dapat memengaruhi kehidupan Anda dan sebaiknya dibahas dengan dokter atau spesialis kesehatan mental.Mereka bisa bantu dengan cara yang nyambung ke neurosains, kayak ngatur hormon atau latihan mindfulness, supaya otak jadi lebih kuat. Seperti yang Anda ketahui, otak dapat belajar “menang” lebih sering di masa depan.
Steiner, M., Macdougall, M., & Brown, E. (2020). Premenstrual dysphoric disorder: Evidence for a new category for DSM-5. Journal of Women’s Health, 29(2), 1-10
Dubol, M., Epperson, C. N., Del Parigi, A., Dupont, P., & Vandenbulcke, M. (2021). Neural correlates of premenstrual dysphoric disorder: A functional MRI study. Frontiers in Psychiatry, 12, 1-15.
Liu, B., Sundström-Poromaa, I., Comasco, E., Steiner, M., & Sundström-Poromaa, I. (2020). Altered functional connectivity in premenstrual dysphoric disorder. Journal of Affective Disorders, 276, 1-9.
Bäckström, T., Haage, D., Löfgren, M., Johansson, I. M., Strömberg, J., Nyberg, S., … & Andreen, L. (2018). Neuroendocrine mechanisms in premenstrual syndrome. Frontiers in Cellular Neuroscience, 12, 1-12.
Klatzkin, R. R., Morrow, A. L., Light, K. C., Pedersen, R., & Girdler, S. S. (2019). Allopregnanolone levels and symptom severity in women with premenstrual dysphoric disorder. Psychoneuroendocrinology, 99, 1-8


























