Setiap kali Desember tiba, dunia kembali diselimuti sukacita. Lampu-lampu mulai dinyalakan, lagu Natal terdengar di mana-mana, dan orang-orang menyiapkan hati menyambut Sang Juru Selamat. Di balik suasana itu, ada sebuah tradisi tua yang tetap hidup hingga kini: Yuletide. Meski sering dikaitkan dengan Natal, Yuletide sesungguhnya memiliki jejak sejarah yang jauh mendahului Kekristenan.
Istilah “Yule” berasal dari budaya Jermanik dan Norse kuno, ketika masyarakat merayakan pergantian musim di tengah gelapnya musim dingin. Mereka menyalakan kayu besar atau Yule Log sebagai lambang terang yang mengalahkan kegelapan. Mereka makan bersama, saling berbagi, dan merayakan hidup yang tetap bertahan meski dunia membeku. Banyak simbol Yule—seperti pohon hijau dan cahaya lilin—masih kita lihat dalam tradisi Natal hari ini.
Ketika Kekristenan mulai menyebar, Gereja tidak menghapus tradisi ini. Sebaliknya, Yule diperkaya dengan makna baru: Kristus adalah Terang yang datang menyelamatkan dunia. Perpaduan itu membuat Yuletide perlahan menyatu dengan perayaan Natal, menjadi masa sukacita sekaligus kesempatan untuk merenungkan misteri kehadiran Allah yang menjadi manusia. Hingga kini, Yuletide tetap menjadi simbol harapan yang bersinar di tengah kegelapan hidup.
Di banyak komunitas Katolik, Yuletide kembali dihidupkan sebagai bagian dari perjalanan rohani menuju Natal. Ia bukan sekadar perayaan musim, tetapi juga wujud kehangatan, persaudaraan, dan syukur. Di berbagai tempat, Yuletide menjadi undangan untuk berhenti sejenak, melihat ke dalam diri, dan menyalakan kembali semangat iman yang mungkin redup oleh kesibukan hidup.

Tahun ini, Universitas Katolik Santo Agustinus Hippo di Ngabang merayakan Yuletide ke-7 dengan penuh kemeriahan. Pembukaan perayaan ditandai dengan penyalaan tujuh lilin Yuletide, masing-masing melambangkan terang iman, harapan, kasih, pengharapan, damai, sukacita, dan persaudaraan yang ingin dihidupi oleh seluruh sivitas akademika. Setelah itu, seluruh lampu Natal yang menghiasi gedung-gedung universitas dinyalakan serentak, menciptakan suasana hangat dan penuh cahaya yang mempersatukan seluruh komunitas kampus.
Suasana kampus berubah menjadi lautan cahaya dan sukacita. Mahasiswa, dosen, karyawan, dan para pimpinan universitas berkumpul dalam liturgi sederhana, pagelaran seni, dan perayaan budaya lokal yang memperkaya makna Yuletide. Tradisi ini tidak lagi menjadi sekadar acara tahunan, tetapi telah berkembang menjadi identitas spiritual kampus yang memupuk persaudaraan.
Selama tujuh tahun penyelenggaraannya, Yuletide di lingkungan universitas telah menjadi ruang syukur bagi banyak orang. Ia mengingatkan bahwa pendidikan bukan hanya perkara pengetahuan, tetapi juga pembentukan hati, nilai, dan karakter. Di tengah dunia yang sering dipenuhi bayang-bayang, Yuletide mengajak setiap insan akademis untuk menyalakan lilin kecil harapan. Sebab dari terang kecil itulah, dunia menemukan kembali jalannya menuju sukacita.

























