Padang, Sumatera Barat-, Sebuah pertemuan penuh makna dan keberkahan berlangsung antara pengurus Yayasan Cahaya Akhir Hayat Padang dengan tokoh adat dan ulama terkemuka Sumatera Barat, Prof. Dr. H. Fauzi Bahar, M.Si, yang saat ini menjabat sebagai Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat. Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi biasa ini adalah titik temu dua tekad besar yang berpadu dalam satu visi mulia yakni menjadikan wakaf sebagai pilar kebangkitan umat Islam. (Jum’at, 21/02/26).
Dalam pertemuan yang penuh kehangatan tersebut dirumah kediaman Prof. Dr. H. Fauzi Bahar menyampaikan kabar yang menggetarkan hati. Beliau baru-baru ini mewakafkan tanahnya seluas 4 Hektar untuk mendukung pembangunan kembali Pondok Pesantren Batang Kabung, sebuah lembaga pendidikan Islam yang porak-poranda dihantam musibah banjir beberapa waktu lalu. Tindakan mulia ini memancarkan cahaya di tengah duka bahwa di atas puing-puing yang tersisa, ada tangan-tangan dermawan yang siap membangun kembali harapan.
Dalam penjelasannya yang mendalam, Prof. Fauzi juga menyentuh dimensi fikih wakaf yang sering luput dari perhatian publik. Beliau menegaskan bahwa apabila ada harta tidak tergarap dalam jangka waktu tertentu, harta tersebut beliau menganjurkan untuk diwakafkan saja, semisal wakaf berjangka yang nanti akan bisa kembali kepada wakif jika selesai waktu yang disepakati dengan Nazhir. Prinsip ini membuka cakrawala baru bagi banyak pemilik aset yang selama ini ragu untuk melangkah bahwa wakaf bukan sekadar melepas harta, melainkan melipatgandakan manfaatnya hingga akhir zaman.
Tak kalah menginspirasi adalah kehadiran H. Syafrial Kani, SH, Ketua Pembina Yayasan Cahaya Akhir Hayat, yang hadir dengan semangat membara dan pikiran yang sudah jauh melangkah ke depan. Beliau tengah berkonsentrasi penuh dalam mewujudkan impian besar: membangun wakaf produktif berupa Tanaman Aren bagi yayasan. Di tangan orang-orang yang beriman dan visioner, pohon aren bukan sekadar tanaman ia adalah sumber penghidupan yang mengalir dari bumi, yang kelak akan menjadi mata air manfaat tiada henti bagi sesama.
Dalam forum yang penuh ilmu dan hikmah itu, Dr. H. Japeri Jarab, MM, Ketua Yayasan Cahaya Akhir Hayat sekaligus mantan Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI) Sumatera Barat dua periode 2019-2022 dan 2022-2025 dan mantan Ketua MUI Kota Padang periode 2020–2025, menyuarakan keyakinan yang telah lama ia jaga dalam hati. Dengan lantang dan penuh keyakinan, beliau menyatakan bahwa “Wakaf adalah solusi terbaik untuk masa depan keuangan dan kemaslahatan umat Islam.” Bagi beliau, wakaf bukan sekadar instrumen keagamaan ia adalah sistem ekonomi yang jika dikelola dengan amanah dan profesional, mampu menopang generasi demi generasi tanpa terkuras habis.
Pertemuan ini menjadi simbol bahwa ketika hati-hati yang ikhlas bersatu dalam satu majelis, lahirlah gagasan-gagasan yang mampu mengubah wajah peradaban. Semoga ke depannya, setiap persoalan yang melilit umat dari kemiskinan, kebodohan, hingga ketidakberdayaan dapat terselesaikan dan terjawab melalui Yayasan Cahaya Akhir Hayat dan wakaf produktif yang sedang dengan gigih diupayakan. Doa itu bukan sekedar wacana kita ia adalah rencana yang menanti uluran tangan kita semua untuk diwujudkan.
Maka dengan segenap kerendahan hati dan ketulusan niat, Dr. H. Japeri Jarab, MM dengan penuh harap mengajak seluruh kaum muslimin dan muslimat, para aghniya, para dermawan, dan siapa pun yang hatinya tergerak oleh panggilan kebaikan untuk bersegera berwakaf dalam program wakaf produktif ini. Ingatlah sabda Rasulullah SAW yang abadi: “Apabila seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” Wakaf adalah sedekah jariyah yang paling kokoh, yang terus mengalir pahalanya bahkan saat jasad telah kembali ke tanah.
Untuk mewujudkan seluruh program mulia tersebut, Yayasan Cahaya Akhir Hayat saat ini tengah berjuang keras mengumpulkan dana wakaf guna pembelian lahan seluas 1.000 meter persegi sebagai lokasi gedung yayasan, dengan harga Rp 700.000 per meter persegi, sehingga total kebutuhan dana yang diperlukan adalah Rp 700.000.000. Kabar menggembirakan telah datang Alhamdulillah, sebanyak 71 meter persegi telah berhasil diwakafkan berkat kepercayaan dan keikhlasan para donatur yang telah lebih dahulu menjawab panggilan kebaikan ini. Namun perjalanan masih panjang, dan uluran tangan seluruh umat sangat dinantikan.
“Mari bergabung menjadi bagian dari perjuangan mulia ini. Setiap meter tanah yang diwakafkan adalah jejak kebaikan yang akan dikenang sepanjang zaman dan setiap rupiah yang diniatkan karena Allah adalah cahaya yang tidak akan pernah padam.”
Salurkan wakaf nya melalui Yayasan Cahaya Akhir Hayat boleh melalui rekening BSI An. Yayasan Cahaya Akhir Hayat No. Rekening: 7343801224. Atau Bank Nagari Syariah An. Yayasan Cahaya Akhir Hayat No. Rekening: 71000103005020. Kebutuhan Total: Rp 700.000.000  Target: 1.000 m². Total wakaf yang sudah masuk adalah 71 m².
Turut hadir dalam pertemuan bersejarah ini, Muhammad Yunus, M.Sos., Sekretaris Yayasan Cahaya Akhir Hayat, serta Saudara Eko, anggota pengurus yayasan yang penuh dedikasi. Kehadiran mereka membuktikan bahwa gerakan wakaf ini bukan diusung satu orang ia adalah gerakan kolektif jiwa-jiwa yang terpanggil, yang percaya bahwa masa depan umat yang cerah hanya bisa dibangun di atas pondasi keikhlasan dan amal jariyah. Semoga Allah SWT meridhoi setiap langkah, melipat gandakan setiap kebaikan, dan menjadikan Yayasan Cahaya Akhir Hayat sebagai cahaya yang menerangi akhir hayat setiap insan yang terlibat di dalamnya. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
By. Muhammad Yunus

























