Bengkulu — Suasana Masjid An-Nur Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Bengkulu pagi itu terasa khidmat. Puluhan warga binaan tampak khusyuk mengikuti kegiatan keagamaan berupa tausiah yang disampaikan oleh Ustadz Suherman dari Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Provinsi Bengkulu, dengan mengangkat tema besar Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW, Senin (26/01).
Kegiatan ini menjadi bagian dari program pembinaan kepribadian berbasis spiritual yang rutin digelar Lapas Bengkulu. Dari balik tembok dan jeruji, warga binaan diajak kembali menelusuri perjalanan agung Nabi Muhammad SAW sebagai sumber refleksi, penguatan iman, sekaligus motivasi untuk memperbaiki diri.
Dalam tausiahnya, Ustadz Suherman menekankan bahwa peristiwa Isra Mi’raj bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan spiritual yang sarat dengan pesan ketakwaan, kedisiplinan ibadah, serta harapan akan perubahan hidup ke arah yang lebih baik.
“Isra Mi’raj mengajarkan bahwa tidak ada kondisi yang benar-benar gelap selama kita mau mendekat kepada Allah. Salat adalah tiang agama dan menjadi penghubung langsung antara hamba dengan Tuhannya,” ujar Ustadz Suherman di hadapan warga binaan.
Para warga binaan tampak menyimak dengan penuh perhatian. Beberapa di antaranya bahkan mencatat poin-poin penting tausiah, menandakan antusiasme dan kesungguhan dalam mengikuti pembinaan rohani tersebut.
Pihak Lapas Bengkulu menilai kegiatan keagamaan seperti ini memiliki peran strategis dalam proses pembinaan. Melalui pendekatan spiritual, warga binaan diharapkan mampu membangun kesadaran diri, menumbuhkan penyesalan atas kesalahan masa lalu, serta mempersiapkan diri untuk kembali ke masyarakat dengan nilai-nilai moral yang lebih baik.
Dengan suasana religius yang tercipta di Masjid An-Nur, tausiah Isra Mi’raj ini bukan hanya menjadi peringatan hari besar Islam, tetapi juga momentum introspeksi dan pembaruan niat bagi warga binaan dalam menapaki masa depan yang lebih bermakna.



















