Pernahkah kalian membuka ponsel hanya untuk membuka chat dari seseorang tetapi secara tidak sadar membuka media sosial dan men-scroll tanpa tau waktu? Atau pernahkah kalian tiba-tiba tertawa dengan sendirinya saat video absurd 5 detik lewat diberanda kalian atau kalian mantan kutu buku yang sekarang hanya untuk sekedar buka buku saja malas? Itu tanda-tandanya kondisi otak kalian menurun dan sedang kelelahan atau bisa disebut dengan brain rot.
Brainrot, terkadang dieja brain rot, adalah istilah slang yang digunakan untuk menggambarkan dampak dari “terus-menerus online” dan mengonsumsi konten internet yang tidak bernilai dalam jumlah besar. Istilah ini, yang dapat digunakan sebagai kata benda maupun kata kerja, juga digunakan untuk menggambarkan keasyikan yang intens dan seringkali obsesif terhadap suatu topik tertentu, seperti acara TV, film, fandom, atau ide. Orang yang mengalami brainrot sering kali mendapati diri mereka tanpa sadar menggulir konten media sosial yang tak ada habisnya.
Menurut Oxford word of the year brainrot merujuk pada berkurangnya kemampuan otak akibat keseringan menonton konten daring berkualitas rendah. Istilah brainrot sebenarnya sudah tercatat jauh sebelum ditemukannya internet yakni pada tahun 1854 dalam buku karya Henry David thoreau. Thoreau mengkritik bahwa konten tidak berbobot cenderung lebih disukai dan ini merupakan tanda dari penurunan kondisi mental serta intelektual sekarang.
Brainrot ini telah terjadi beberapa tahun terakhir ditandai dengan adanya fenomena dimana orang orang suka sekali dengan men-scroll social media entah itu Instagram, tiktok, twiter, dan social media lainnya. Tidak hanya itu, kebiasaan menonton drama drama yang ada di hp itu juga termasuk dari brainrot. Jaman sekarang teknologi tidak ada bedanya dengan sihir walaupun banyak hal hal positif yang bisa diambil tetapi tidak luput dengan banyak hal hal negatif yang muncul dari berkembangnya teknologi Hal itu menyebabkan orang jaman sekarang sudah cenderung tidak fokus dalam waktu yang lama. Sehingga hiburan yang memiliki tempo cepat lebih disukai daripada hiburan yang memiliki tempo yang sangat lambat.
Media sosial saat ini seperti sihir. Kita terakhir untuk tidak terlepas darinya. Kita rela duduk Berjam jam tanpa bergerak, yang bergerak hanya jari jari kita bergerak men scroll video video di sosial media hingga kita lupa bahwa kita telah meninggalkan kewajiban-kewajiban yang harus kita kerjakan seperti tugas kuliah. Tak jarang saat berada di kelas para mahasiswa masih asyik dengan scroll social media tanpa menghiraukan teman atau dosen yang sedang menyampaikan materi.
Seberapa besar bahaya brainrot pada diri manusia? Bahayanya cukup besar karena sudah mempengaruhi pusat kontrol yang ada didalam diri manusia, seperti penurunan kemampuan untuk fokus dan konsentrasi, menurunnya kemampuan berpikir kritis, menurunnya produktivitas dan minat terhadap tugas yang membutuhkan pemikiran ekstra dan dapat meningkatkan level kecemasan, depresi, dan stress. Dampak dari brainrot ini sangat relate dengan gen Z dan gen alpha karena basis konten jaman sekarang berbeda dengan jaman dahulu sekarang banyak sekali konten konten yang muncul dari yang bermanfaat atau hanya sebagai alat pencarian uang yang isinya pun bahkan tidak ada unsur Pendidikan sama sekali. Brainrot disebabkan oleh banyaknya paparan konten-konten pendek di social media seperti konten-konten receh, konten-konten yang tidak mendidik, ataupun konten-konten anomali.
Disaat otak manusia mulai jenuh dengan tekanan maka otak akan mengeluarkan hormon depamine yaitu hormon kesenangan, jika kita mengisinya dengan scroll social media maka akan memicu munculnya dopamine instan yang membuat otak malas memproses informasi kompleks. Apa itu dopamine instan? Dopamine instan adalah ketika otak menerima rangsangan yang menyenangkan seperti dari scroll video di social media ataupun bermain game maka dopamine dilepaskan dan menciptakan perasaan senang mendorong untuk terus melakukannya.
Brainrot atau pembusukan otak dapat diatasi atau dipuluhkan dengan langkah sederhana yang bisa kita lakukan seperti :
a. Membatasi screen time penggunaan sosial media. Mengatur waktu kita dalam penggunaan sosial media, tetapkan batas waktu harian dan tentukan waktu tertentu tanpa hp. Menggunakannya secara sadar tidak setiap waktu setiap tempat kita menggunakan hp untuk scroll sana sini
b. Melatih otak untuk fokus tidak mudah ke distraksi. Dengan membaca buku otak kita akan dilatih untuk bertahan dalam suatu aktivitas memproses menginformasi secara perlahan. Selain membaca buku kita juga bisa melakukan kegiatan lain seperti memecahkan soal teka-teki silang, bermain catur atau belajar keterampilan.
c. Memperbanyak aktifitas fisik seperti olahraga. Olahraga dapat meningkatkan fungsi kognitif dan mempertajam memori.
d. Menjaga Kesehatan dengan tidur yang cukup dan menerapkan pola makan yang sehat.
Brainrot adalah sesuatu yang harus kita lawan. Otak bagaikan mesin yang luar biasa jangan biarkan disetel untuk scrolling tanpa akhir. Latihlah otak kalian untuk berpikir kritis batasilah aktifitas dengan dunia maya dan utamakan aktifitas nyata. Saatnya matikan notifikasi, buka kembali buku yang telah lama kalian tinggalkan.

























