Bengkulu — Dari balik pagar tinggi dan pintu besi yang selama ini identik dengan batasan, Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Bengkulu kembali menunjukkan wajah humanisnya. Pada Sabtu (22/11), lapangan tenis di dalam area pemasyarakatan berubah menjadi ruang kebersamaan penuh semangat, saat warga binaan dan petugas mengikuti senam bersama yang dipandu oleh instruktur profesional.
Bagi masyarakat dan keluarga warga binaan, kegiatan ini bukan sekadar rutinitas pembinaan kesehatan. Senam bersama rutin yang digelar Lapas Bengkulu menghadirkan pesan penting: pembinaan pemasyarakatan tidak hanya menyentuh kedisiplinan, tetapi juga kesejahteraan fisik dan mental.
Sejumlah keluarga yang mengetahui pelaksanaan kegiatan ini melalui layanan informasi resmi Lapas menyambut positif langkah tersebut. Harapan mereka sederhana—agar anggota keluarga yang sedang menjalani masa hukuman tetap mendapatkan perhatian, pemulihan, dan lingkungan yang lebih manusiawi.
Di tengah terpaan stigma, senam bersama ini menjadi simbol bahwa proses pemasyarakatan tidak berhenti pada pembatasan aktivitas. Gerakan yang dilakukan serempak, tawa ringan yang muncul di sela instruksi, serta interaksi setara antara petugas dan warga binaan menciptakan suasana baru yang jarang terlihat publik.
Kepala Lapas Bengkulu, Julianto Budhi Prasetyono, melalui penyelenggaraan kegiatan ini menegaskan komitmen Lapas untuk terus menghadirkan program pembinaan yang berkelanjutan. Rutinitas senam bersama ini menjadi salah satu upaya menjaga kebugaran, mengurangi stres, sekaligus menguatkan hubungan antarindividu di dalam lingkungan pemasyarakatan.
Di luar tembok penjara, masyarakat mungkin hanya melihat sisi hukuman. Namun bagi keluarga yang menunggu kepulangan orang-orang tercinta, kegiatan sederhana seperti senam bersama adalah bukti bahwa perubahan tetap mungkin terjadi—bahkan dimulai dari langkah kecil di lapangan tenis Lapas Bengkulu pada pagi yang cerah ini.


























