Mojokerto – Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Mojokerto terus memperkuat pembinaan kepribadian bagi Warga Binaan melalui kegiatan pendalaman fiqh puasa dalam kajian Kitab Fathul Qorib yang dilaksanakan di Masjid At-Taubah Lapas Mojokerto, Selasa (24/2).
Bertempat di Masjid At-Taubah, para Warga Binaan mengikuti pembelajaran dengan penuh khidmat dan antusias. Kajian ini membahas secara mendalam hukum-hukum puasa, syarat, rukun, hal-hal yang membatalkan puasa, hingga berbagai persoalan fiqh yang kerap ditemui dalam praktik sehari-hari, dengan merujuk pada Kitab Fathul Qorib sebagai pedoman.
Materi disampaikan oleh petugas pembinaan Lapas Mojokerto yang secara konsisten memberikan pendampingan keagamaan kepada Warga Binaan. Dengan metode penyampaian yang komunikatif dan disertai sesi tanya jawab, suasana belajar berlangsung interaktif sehingga memudahkan peserta memahami isi kitab secara komprehensif.
Kepala Lapas Mojokerto, Rudi Kristiawan, menegaskan bahwa pembinaan keagamaan merupakan salah satu pilar penting dalam proses pemasyarakatan. “Melalui pendalaman fiqh puasa ini, kami ingin memastikan Warga Binaan tidak hanya menjalankan ibadah secara rutinitas, tetapi juga memahami dasar hukum dan maknanya. Ilmu agama menjadi bekal penting untuk perubahan diri yang lebih baik,” ujar Rudi.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan ini diharapkan mampu membentuk karakter yang lebih disiplin, sabar, dan bertanggung jawab. “Pembinaan spiritual adalah fondasi dalam membangun kesadaran diri. Ketika pemahaman agamanya kuat, insyaAllah perilaku dan pola pikir juga akan ikut berubah ke arah yang positif,” imbuhnya.
Salah satu Warga Binaan mengaku bersyukur dapat mengikuti kajian tersebut. “Kami merasa sangat terbantu dengan adanya pembelajaran seperti ini. Banyak hal tentang puasa yang sebelumnya belum kami pahami secara detail. Semoga ilmu ini bisa kami amalkan dengan baik,” ungkapnya.
Dengan adanya kegiatan pendalaman fiqh puasa melalui Kitab Fathul Qorib ini, Lapas Mojokerto berharap proses pembinaan tidak hanya menyentuh aspek kemandirian, tetapi juga memperkuat sisi spiritual Warga Binaan, sehingga mereka dapat kembali ke masyarakat dengan bekal ilmu dan akhlak yang lebih baik.





















