Taman Bungkul, Surabaya, [Sabtu, 14 Juni 2025] — Sejumlah mahasiswa dari UPN “Veteran” Jawa Timur mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berjudul “Moderasi Beragama sebagai Pilar Keharmonisan Sosial”. Kegiatan yang berlangsung di Taman Bungkul Surabaya ini bertujuan untuk memperkenalkan konsep moderasi beragama, menekankan pentingnya sikap moderat dalam beragama, serta menyampaikan bahwa keberagaman bukanlah suatu kelemahan.
Kegiatan ini diinisiasi dalam rangka pemenuhan tugas Project Based Learning (PBL) program mata kuliah umum Agama Islam G-737 oleh Dr. Fazlul Rahman, Lc., M.A.Hum selaku dosen pengampu. dan melibatkan delapan mahasiswa, Ariel Rosyidin, Muhammad Rihan Al Barqy, Fanesa Rahma Tristantia, Lailatus Nabila, Dini Daniyanti, Septy Ditta Amalia Putri, Khofifah Naila Masruroh, dan Marsha Elvira, sebagai bagian dari implementasi program Kuliah Kerja Nyata (KKN) atau pengabdian tematik. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa melaksanakan serangkaian agenda, seperti diskusi publik, berbagi pengalaman pribadi mengenai moderasi beragama, serta pembuatan konten bersama. “Kami ingin masyarakat, terutama generasi muda menyadari pentingnya sikap moderat dalam beragama, tidak ekstrem ke kiri atau ke kanan, serta menyebarluaskan pemahaman tentang moderasi beragama,” ujar Dini Daniyanti, koordinator mahasiswa pengabdian
Selain mahasiswa, kegiatan ini juga melibatkan pemuda setempat, pemuda lintas iman, serta komunitas lokal. Mereka menyambut dengan antusias dan berpartisipasi dalam pembuatan konten yang dianggap memberikan ruang untuk dialog terbuka dan menyejukkan di tengah potensi fragmentasi sosial akibat perbedaan pandangan keagamaan.
Kegiatan bermula dengan menyampaikan pengertian dari moderasi beragama, kemudian menambahkan beberapa pertanyaan seperti, “Kalau kamu punya teman yang berbeda agama, hal seru apa yang ingin kamu lakukan bareng dia biar makin deket?”; “Menurut kamu, apa sih hal paling asyik dari belajar tentang agama lain?”; “Pernah nggak sih kamu merasa bingung antara aturan agama dan pergaulan sehari-hari? Biasanya kamu gimana menyikapinya?”; “Menurut kamu bisa nggak sih kita saling menghormati agama lain tanpa harus sepenuhnya setuju?”; “Menurut kamu, toleransi itu penting nggak? Kalau penting, kamu biasanya gimana tunjukin toleransi?”; “Apa kata sederhana buat ngajak teman saling toleransi?”. Tentunya jawaban yang diberikan juga berbeda.
Menurut Bapak Fazlul selaku dosen pengampu dari mata kuliah Agama Islam, kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen kampus dalam mendukung program strategis nasional untuk memperkuat moderasi beragama yang inklusif, toleran, dan cinta damai. “Moderasi bukan berarti bersikap netral tanpa pendirian, melainkan menunjukkan sikap adil dan proporsional dalam beragama. Pengabdian ini adalah praktik nyata dari nilai-nilai akademik yang berdampak sosial,” tegasnya.
Kegiatan ditutup dengan deklarasi damai oleh seluruh peserta lintas agama dan pemuda setempat sebagai simbol komitmen bersama untuk menjaga persatuan. Para mahasiswa berharap kegiatan semacam ini dapat menjadi inspirasi dan dapat direplikasi di berbagai wilayah lain di Indonesia. “Besar harapan saya kepada pemuda pemuda Surabaya untuk dapat menyebarluaskan serta menerapkan moderasi beragama kepada masyarakat sekitar, karena mereka merupakan agen perubahan serta ujung tombak masyarakat.” Ucap Rihan
Keberagaman bukan sebuah kelemahan, melainkan keberagaman adalah simbol negara Indonesia, yakni Bhineka Tunggal Ika (berbeda beda tapi tetap satu jua) dengan adanya pemahaman moderasi kita sebagai rakyat Indonesia dapat memperkuat serta menunjukkan bahwa semboyan bukan hanya kata kata belaka, sehingga terciptanya persatuan dan kesatuan negara.

























