Bengkulu – Di balik tembok pengamanan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Bengkulu, tepatnya di area LPK Berijo, denyut kehidupan warga binaan tidak berhenti pada rutinitas pembinaan formal semata. Dari hasil penelusuran lapangan, aktivitas yang berlangsung justru memperlihatkan wajah lain pemasyarakatan: ruang pembelajaran, kerja, dan harapan untuk kembali ke masyarakat dengan bekal nyata, Senin (26/01).
Setiap pagi, aroma khas kedelai rebus tercium dari salah satu sudut LPK Berijo. Di sanalah warga binaan mengelola pembuatan tempe, mulai dari proses fermentasi hingga pengemasan. Kegiatan ini tidak berhenti pada produksi bahan mentah. Tempe yang dihasilkan diolah lebih lanjut menjadi kripik tempe, camilan bernilai ekonomis yang telah melalui proses pengirisan, penggorengan, hingga pengemasan sederhana namun rapi.
Tak jauh dari area produksi pangan, deru mesin terdengar dari unit laundry baju. Warga binaan dilatih mengelola pencucian pakaian secara profesional, mencakup pemilahan, pencucian, pengeringan, hingga penyetrikaan. Keterampilan ini menjadi bekal praktis yang relevan dengan kebutuhan usaha jasa di luar lapas.
Sementara itu, pada sektor keterampilan teknis, LPK Berijo mengembangkan pelatihan las listrik dan meubeler. Percikan api dari proses pengelasan berpadu dengan ketelitian tangan warga binaan yang merakit rangka besi maupun perabot kayu. Meja, kursi, dan berbagai produk meubel sederhana dihasilkan dari tangan-tangan yang sebelumnya tidak pernah bersentuhan dengan alat kerja profesional.
Di bidang industri rumahan, kegiatan konveksi menjadi ruang belajar disiplin dan ketelitian. Warga binaan memproduksi pakaian dengan standar jahitan yang terus ditingkatkan, mulai dari pengukuran pola hingga finishing. Aktivitas ini melatih ketekunan sekaligus kerja tim.
Tak kalah penting, layanan pangkas rambut juga berjalan rutin. Selain melayani kebutuhan internal lapas, keterampilan barber ini membuka peluang wirausaha mandiri setelah bebas. Di sisi lain, sektor pertanian menjadi fondasi pembinaan berbasis alam. Warga binaan mengelola lahan tanam dengan pola sederhana namun berkelanjutan, menanam berbagai komoditas yang hasilnya dimanfaatkan untuk kebutuhan internal.
Dari rangkaian kegiatan tersebut, terlihat jelas bahwa LPK Berijo bukan sekadar tempat menjalani masa pidana. Ia berfungsi sebagai laboratorium sosial, tempat warga binaan ditempa agar memiliki keterampilan, etos kerja, dan rasa percaya diri.
Pembinaan kemandirian yang berjalan di LPK Berijo Lapas Bengkulu menunjukkan bahwa pemasyarakatan modern tidak lagi bertumpu pada hukuman semata, melainkan pada pemberdayaan. Di balik jeruji, warga binaan sedang menyiapkan diri—bukan hanya untuk bebas, tetapi untuk berdaya.




















