Di tengah dunia akademik yang kian sibuk oleh target, laporan, dan tenggat waktu, kampus sering kali lupa menyediakan ruang untuk berhenti sejenak. Padahal, pendidikan tinggi tidak hanya bekerja dengan kepala, tetapi juga dengan tubuh, batin, dan relasi antarmanusia. Kesadaran inilah yang terasa kuat dalam perayaan Natal bersama dosen dan tenaga kependidikan Akademi Keuangan dan Perbankan Grha Arta Khatulistiwa Pontianak (AKUB).
Natal kali ini tidak dirayakan sebagai seremoni keagamaan yang eksklusif. Ia hadir sebagai peristiwa bersama, diikuti oleh seluruh dosen dan tendik tanpa memandang latar belakang agama. Kampus menjadi ruang perjumpaan yang hening sekaligus hangat, tempat perbedaan tidak dipertentangkan, melainkan diterima sebagai bagian dari kenyataan hidup bersama.
Perayaan itu dimulai dengan yoga. Tubuh, yang selama ini lebih sering duduk di balik meja dan layar, diajak untuk bergerak dan bernapas. Gerakan sederhana itu menjadi pengingat bahwa manusia akademik bukan semata makhluk rasional, tetapi juga makhluk jasmani yang perlu dirawat. Dari tubuh, kesadaran perlahan diarahkan ke dalam, memasuki ruang meditasi yang hening.
Dalam meditasi, kata-kata dikurangi. Tidak ada perdebatan, tidak ada argumentasi. Yang ada hanyalah kehadiran. Di ruang hening ini, identitas keagamaan tidak ditanyakan, jabatan struktural tidak ditonjolkan. Semua hadir sebagai manusia yang sama-sama lelah, sama-sama berharap, dan sama-sama ingin menemukan kembali makna dari pekerjaan yang dijalani.
Doa bersama kemudian menjadi simpul yang mengikat pengalaman tersebut. Doa tidak dipahami sebagai ritual formal, melainkan sebagai ungkapan syukur dan harapan bersama. Ia menegaskan bahwa spiritualitas dalam dunia pendidikan tinggi bukan soal keseragaman iman, melainkan kesediaan untuk saling menghormati dan berjalan bersama di tengah perbedaan.
Suasana berubah menjadi lebih cair ketika tukar kado dimulai. Tawa, kejutan kecil, dan canda ringan mengisi ruang. Hadiah-hadiah sederhana itu tidak penting karena nilainya, melainkan karena maknanya: pengakuan bahwa relasi antarmanusia adalah fondasi utama kerja bersama. Kampus, dalam momen ini, tampak bukan sebagai institusi kaku, melainkan sebagai komunitas.
Namun, barangkali makna paling dalam justru hadir di meja makan. Di sanalah sekat benar-benar runtuh. Dosen dan tendik duduk bersama, berbagi makanan dan cerita. Meja makan menjadi simbol perjumpaan paling manusiawi—tempat orang tidak dinilai dari gelar, keyakinan, atau jabatan, melainkan dari kehadirannya sebagai sesama.

Perayaan Natal bersama di AKUB ini mengajarkan bahwa toleransi tidak selalu lahir dari wacana besar, tetapi dari praktik sederhana: bergerak bersama, diam bersama, berdoa bersama, dan makan bersama. Pendidikan tinggi menemukan wajah kemanusiaannya bukan di ruang seminar, melainkan di ruang perjumpaan yang jujur dan setara.
Di tengah dunia yang mudah terpecah oleh identitas dan perbedaan, kampus seharusnya menjadi pelataran—ruang terbuka tempat manusia belajar menjadi manusia. Natal di AKUB memperlihatkan bahwa pelajaran itu masih mungkin diajarkan, bukan lewat teori, melainkan lewat pengalaman hidup bersama.


























