Lamongan, 23 Januari 2026 – Di tengah gempuran gaya hidup modern dan pangan instan, sebuah acara mendalam justru mengajak kita menyelam ke akar: Pangan Lokal sebagai Ekosistem Kehidupan. Ini adalah tajuk Sarasehan Budaya yang akan digelar besok, Sabtu (24/1/2026), sebagai bagian penting dari Pameran Seni Rupa EKOLOGIS di Gedung KORPRI Lamongan.
Acara ini bukan seminar biasa. Ini adalah “sarasehan” sebuah format diskusi khas budaya Jawa yang mengutamakan keakraban, kebersamaan, dan pertukaran gagasan dari hati ke hati. Tujuannya jelas: membongkar narasi bahwa pangan lokal hanya sekadar komoditas, dan mengangkatnya sebagai suatu sistem kehidupan yang utuh, penuh makna, dan berkelanjutan.
Pameran EKOLOGIS yang telah berlangsung sejak 21 Januari menyajikan karya seni rupa yang kritis terhadap isu lingkungan, menjadi latar yang sempurna untuk sarasehan ini. Kurator pameran menjelaskan, “Seni dan pangan adalah dua ekspresi budaya paling dasar. Sarasehan ini adalah upaya kami menghubungkan refleksi estetis dalam galeri dengan praktik konkrit kehidupan di luar gedung.”
Yang Menarik: Kolaborasi Unik Para Pemikir dan Seniman
Sarasehan ini menghadirkan narasumber dari beragam disiplin, menjanjikan percikan pemikiran yang kaya:
· Hartono, pelukis senior dari Semarang, akan membagikan pandangannya tentang bagaimana alam dan pangan terekam dalam kanvas dan imajinasi seniman.
· M Nur Salim (Wakil Ketua PCNU Lamongan) akan menawarkan perspektif agama dan kearifan lokal NU dalam memandang kelestarian pangan.
· Supriyo, aktivis kebudayaan, diharapkan menyampaikan kisah perjuangan komunitas dalam mempertahankan benih dan kedaulatan pangan.
· Adang Moelyono, akademisi, akan memberikan analisis struktural tentang tantangan dan peluang pangan lokal.
· Yang tak kalah seru, kehadiran kelompok On The Spot (Ochez & Prabu | Rokhim/Jogo Wengi) akan menyegarkan diskusi dengan interpretasi musik dan performance art mereka yang kerap menyentuh isu sosial-ekologis.
Diskusi akan dimoderatori oleh moderator yang mumpuni, memastikan aliran gagasan tetap hidup dan terarah.
“Undangan yang Personal dan Penuh Makna”
Yang mencuri perhatian adalah bahasa undangan yang digunakan panitia, yang beredar luas di media sosial dan grup komunitas: “Anda datang, kami senang. Sebab kehadiranmu, memberi kesempatan kami mengenalmu, sehingga kami semakin belajar mengenal diri kami.”
Kalimat tersebut mencerminkan spirit acara ini: inklusif, rendah hati, dan berbasis pada relasi manusiawi. Ini adalah undangan untuk membangun komunitas peduli, bukan sekadar memenuhi kursi pendengar.
Mengapa Acara Ini Penting?
Di era perubahan iklim dan krisis pangan global, menggali kembali kekuatan pangan lokal bukanlah nostalgia, melainkan sebuah keharusan strategis. Sarasehan ini diharapkan dapat:
1. Mengembalikan pangan pada konteksnya yang luas: sebagai budaya, identitas, ekologi, dan spiritualitas.
2. Menjembatani ilmu pengetahuan, seni, agama, dan aktivisme dalam satu percakapan.
3. Menjadi pemantik gerakan kolektif di Lamongan dan sekitarnya untuk melestarikan dan mengembangkan sistem pangan berbasis lokal.
Acara terbuka untuk umum, gratis, dan tidak memerlukan pendaftaran. Masyarakat, pelajar, akademisi, praktisi pertanian, pegiat budaya, dan semua pihak yang tergerak hatinya diundang untuk hadir.
Sarasehan Budaya “Pangan Lokal sebagai Ekosistem Kehidupan”
Sabtu, 24 Januari 2026
Pukul 13.00 WIB
Gedung KORPRI Lamongan
Jl. Kusuma Bangsa, Beringin Temenggungan, Lamongan.
Mari hadir. Mari berbagi. Mari bersama-sama merajut kembali pemahaman bahwa menjaga pangan lokal sama dengan menjaga kehidupan itu sendiri.
























